Jakarta, (Metrobali.com)

Kenaikan tarif 32 persen untuk produk Indonesia ke AS, yang antara lain terdiri dari, mesin, peralatan listrik, pakaian jadi, alas kaki, minyak sawit, akan berdampak terhadap industri yang menghasilkan produk ekspor tersebut. Selanjutnya, akan berdampak terhadap: perolehan devisa, tekanan PHK.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi, Jumat 4 April 2025 menanggapi kenaikan tarif 32 persen untuk produk Indonesia ke Amerika Serikat.

Dikatakan, ini akan menambah beban dan kondisi perekonomian dalam negeri yang penuh tekanan. Indikasi kuat terjadinya krisis ekonomi: tekanan fiscal yang berat, merosotnya daya beli masyarakat, puluhan ribu PHK, “social distrust” terhadap kinerja kabinet Merah Putih.

Menurutnya, dengan terjadinya “geger”tarif 32 persen dari AS ini, ada risiko barang-barang dari China dan sejumlah negara Asean akan membanjiri pasar Indonesia, dengan harga relatif bersaing, yang membuat pasar dalam negeri tertekan, industri dalam negeri mengalami ancaman, bisa menekan pertumbuhan ekonomi, memperbesar PHK yang sudah membludak.

Lebih lanjut dikatakan, apalagi dengan kabinet gemuk, sarat balas jasa politik, menafikan meritokrasi, dengan “hidden agenda” di dalamnya, membuat pengambilan keputusan dengan “sense of crisis” menjadi sulit diharapkan.

” Ditambah dengan menaiknya ketidakpercayaan publik terhadap pengesahan Revisi UU: TNI, BUMN (menyangkut pendirian Danantara), Minerba (pelibatan kampus dalam pengelolaan tambang),” katanya.

Menurutnya, retorika Presiden tentang proyek ambisius populis sosialistik, sangat dibatasi oleh keterbatasan anggaran -state budget limitation-, bisa menimbulkan persepsi negatif terhadap kepemimpinan, menaikkan suhu politik, mengurangi kepercayaan para pelaku ekonomi dan para investor dalam melakukan investasi.

Dikatakan, keterbatasan kinerja kabinet, punya potensi lebih besar, membuat krisis ekonomi menjadi semakin parah. Bisa saja terjadi “goro-goro” dalam perekonomian Indonesia.

Jurnalis : Nyoman Sutiawan