Keterangan foto: Dirut RSPI Sulianti Saroso, Muhammad Syahril, memberikan keterangan pers terkait kondisi dua pasien COVID-19 pertama di Indonesia, di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (6/3/2020). (Foto: Setkab.go.id)

Jakarta (Metrobali.com) –

 

Kabar baik datang dari Rumah Sakit Penyakit Infkesi (RSPI) Sulianti Saroso Jakarta. Hari ini rumah sakit tersebut tinggal merawat tiga orang pasien COVID-19.

“Kemarin masih ada empat pasien, pagi ini tinggal tiga orang. Mudah – mudahan secepatnya tidak ada lagi pasien COVID -19 yang dirawat di sini,” kata Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, Muhammad Syahril, Selasa , 12 Oktober 2021.

Dirut RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, Muhammad Syahril.

Dokter Syahril menuturkan, saat Indonesia berada di puncak gelombang kedua pandemi COVID-19, Juli lalu, seluruh ruangan perawatan di rumah sakit yang dipimpinnya penuh pasien.

“Seperti halnya rumah sakit lain, waktu itu kami benar – benar kewalahan. Kami kekurangan tempat tidur, SDM, dana dan juga kesulitan mendapatkan oksigen,” kata mantan Dirut RSUP Persahabatan, Jakarta itu.

Saking membludaknya pasien, tambah Dokter Syahril, sebanyak 60 dokter dan sekitar 200 orang perawat yang ada tak dapat menangani mereka secara maksimal.

“Beruntung waktu itu kami dibantu para realawan baik dokter maupun perawat. Ada ratusan relawan, yang datang dari berbagai daerah,” ujarnya.

Ia juga menyebut waktu itu RSPI Sulianti Saroso banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, baik berupa barang, alat trasportasi maupun obat – obatan.

“Kami sangat bersyukur. Karena bantuan itu menyangkut kepercayaaan kepada kami,” ujar Syahril.

RS Sulianti Saroso, yang sejak pertengahan Maret 2020 ditetapkan sebagai rumah sakit khusus pasien COVID 19, awalnya hanya memiliki 11 tempat tidur untuk pasien yang terinfeksi virus corona.

Baca Juga :
Jokowi ungkap lima tahun lalu ada menteri gagal paham visi misi

Belakangan ketika wabah COVID 19 semakin mengganas, jumlah tempat tidur pasien dilipatgandakan menjadi 99 unit. Rinciannya, 48 tempat tidur dengan tekanan udara negatif, 36 tempat tidur non tekanan udara negatif, 4 tempat tidur ICU dengan ventilator dan 11 tempat tidur ICU tanpa ventilator.

Muhammad Syahril mengaku gembira dan bersyukur atas terus menyusutnya kasus positif COVID-19 Indonesia. Ia teringat di awal masa pandemi dulu, tak sedikit tenaga medis yang gamang dan takut saat bertugas menangani pasien COVID-19.

“Ini manusiawi, karena resiko tertular kan sangat tinggi. Mereka kontak langsung dengan pasien. Tapi saya yakinkan mereka, jika SOP dijalankan, Insya Allah tidak tertular,” katanya.

Sejak awal pandemi, Maret 2020, sampai hari ini, RSPI Sulianti Saroso telah merawat sebanyak 2.865 orang pasien COVID-19, dimana 2.423 orang sembuh dan 439 orang meninggal dunia. Sisanya 3 (tiga ) orang pasien kini masih dalam penanganan.

RSPI Sulianti Saroso pertama kali “menemukan” pasien COVID-19 pada 1 Maret 2020. Sehari kemudian Presiden Joko Widodo, mengumumkan adanya kasus COVID 19 di Indonesia, dengan menyebut pasien 01 dan 02. Belakangan diketahui pasien 01 adalah Sita Tyasutami (31 tahun) dan pasien 02 adalah ibu Sita, Maria Darmaningsih (64 tahun). Keduanya warga Depok, Jawa Barat.

Dalam perjalanannya menangani pasien COVID-19, pada November 2020, RSPI Sulianti Saroso, mendapat apresiasi dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) berupa PERSI Golden Award 2020 “Paramakarya Dharmarta Husada.”

PERSI, induk organisasi yang mewadahi 18 asosiasi rumah sakit, beranggotakan 2.956 rumah sakit di Indonesia, menilai RSPI Sulianti Saroso merupakan rumah sakit vertikal yang memiliki kesiapsiagaan terbaik dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Merespon penghargaan itu, Muhammad Syahril mengatakan semua lini di rumah sakit yang dipimpimnya punya peran yang sama. Mereka bekerja dalam satu tim yang solid.

Baca Juga :
WHO: COVID-19 Omicron sudah dilaporkan di 57 negara

“Tidak ada yang paling berjasa.Semua menjadi kesatuan dalam tim. Penghargaan ini untuk seluruh civitas hospitalia RSPI Sulianti Saroso yang total melawan COVID 19,” kata peraih gelar Dokter Teladan Nasional 1994 itu.