Harga Kebutuhan Pokok Fluktuasi

single-image

komang salah satu pedagang lombok

Jembrana (Metrobali.com)-

Turunnya harga BBM bersubsidi ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap harga kebutuhan pokok.  Disejumlah pasar tradisional di Kabupaten Jembrana harga kebutuhan pokok sejak tiga minggu belakangan berfluktuasi (tidak tetap), seperti pada harga lombok besar, lombok kecil dan minyak goreng sawit.

Komang Madeng (36), salah seorang pedagang lombok mengaku binggung akan harga lombok sekarang lantaran sering berubah-ubah. Kondisi tersebut menurutnya dapat mempengaruhi omset penjualan. “Kalau jualan sekarang harus pintar-pintar, kalau tidak bisa rugi” ujarnya, ditemui, Jumat (9/1).

Menurutnya tiga minggu lalu harga lombok besar kisaran Rp.65 ribu, dan lombok kecil kisaran Rp.80 ribu. Namun sejak dua minggu lalu lombok besar turun menjadi kisaran Rp.50 ribu dan lombok kecil Rp.70 ribu.

Seminggu kemudian harga lombok besar kembali naik menjadi Rp.60 ribu dan lombok kecil menjadi Rp.75 ribu. Namun tiga hari lalu sampai hari ini turun lagi, lombok besar menjadi Rp45 ribu dan lombok kecil Rp.65 ribu.

Demikian juga dengan harga minyak sawit. Dua minggu lalu harga minyak sawit mencapai Rp.10,400, kemudian seminggu lalu turun menjadi Rp.9.800, namun empat hari lalu naik lagi menjadi Rp.10.200 sampai hari ini. minyak sawit super naik dari Rp.11 ribu menjadi Rp.11.300 dan minyak super naik dari Rp.14 ribu menjadi Rp.14.200 per kilogram.

Lain halnya dengan harga bawang merah dan bawang putih. Dua komoditi ini justru mengalami kenaikan disaat harga BBM turun. Harga bawang merah yang semula Rp.13 ribu naik menjadi Rp.14 ribu, bawang putih naik dari Rp,14 ribu menjadi Rp.15.500, sedangkan bawang putih lokal naik dari Rp.20 ribu menjadi Rp.22 ribu per kilogram. Sementara harga beras Jembrana ditingkat pedagang beragam kisaran Rp. 10 ribu hingga Rp.11 ribu perkilogram.

Baca Juga :
Prabowo Dinilai Tidak Bijaksana Jika Masih ''Ngotot''

Dinformasi dari sejumlah pedagang di Pasar Umum Negara, harga komoditi seperti Lombok, tomat dan bawang lebih disebabkan oleh kedatangan bakul (pedagang) dan masa panen. “Kalau bakulnya banyak datang otomatis harga turun, kalau jarang barang menjadi mahal, meskipun ada panen” terang pedagang lainnya. MT-MB

 

activate javascript

activate javascript

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.