BEGITU memasuki ruang perawatan 214 Wing Internasional RS Sanglah. Jumat (28/9) sekira pukul 11.30 wita  hati  sedikit was-was. Ternyata apa yang disangkakan bahwa Mangku Pastik berbaring lemas di kamar itu tidak seperti dibayangkan sebagian orang. Malah ketika sejumlah wartawan mamasuki ruang di mana Mangku Pastika terbaring disambut ramah dan senyum oleh orang nomor 1 di Bali ini.

‘’Mari masuk,’’ ucapnya kepada wartawan yang menjenguknya.  Nampak wajah Mangku Pastika cerah. Di dalam ruangan Mangku Pastika hanya didamping Nyonya Ayu Pastika. Memang sebelumnya, ada tim dokter, perawat dan keluarga Mangku Pastika  berada di kamar 214 itu.

Setelah memulai pembicaraan dengan wartawan, semangat Mangku Pastika pun bangkit.  ‘’Saya sangat senang suadara datang menjenguknya,’’ katanya. Dialog antara Mangku Pastika dengan awak media pun begitu mengalir deras.  Gubernur  sempat bersendagurau dengan wartawan soal kondisi kesehatan dan terhadap kondisi terakhirnya.

‘’Ya memang kelihatan seram jika masuk rumah sakit. Padahal kalau di rawat di rumah Jabatan tak masalah.  Pemberitaan di media pun menjadi heboh. Tapi tak apa-apa. Dan, saya diajak ke rumah sakit karena himbauan tim dokter. Akhirnya saya ngikut aja himbuan tim dokter  untuk diajak ke rumah sakit Sanglah,’’ katanya sembari tersenyum.

Dalam perbincangan itu, Mangku juga sempat mengupas filosofi Jaja Crorot dan jaja klepon. Setiap  menerima tamu kehormatan di Jaya Sabha, saya selalu menyediakan jajan Bali. Kedua jenis jaja itu, selalu saya suguhkan kepada tamu tamu asing. Maksudnya, agar tamu tersebut merasakan makanan khas tradisonal Bali.

Dikatakan, para tamu sering bingung bagaimana cara memakan dua jenis jaja itu. Tamu yang tidak biasa memakan makanan jaja crorot biasanya dibuka seluruh pembungkusnya. Padahal, memakan jaja itu cukup dengan memutar dan menekan saja. ‘’Harus ditekan baru bisa ke luar,’’ kata Mangku Pastika yang disambut senyum.

Baca Juga :
Jl. PB Sudirman Ditetapkan Sebagai Kawasan Tertib Zona Hukum

‘’Begitu juga jaja klepon. Jika tak biasa makan jaja itu memang bingung. Padahal untuk memakan jaja itu harus demua dimakukkan ke mulit. Jangan dimakan setengah, nanti gulanya muncrat. Oleh karena itu, jika melakukan pekerjaan jangan setengah setengah, harus tuntas. Bekerja juga begitu. Jangan banyak bicara. Lakukan dengan tindakan,’’ katanya. SUT-MB