Caracas, (Metrobali.com) –

Gubernur Bank Sentral Venezuela Nelson Merentes pada Rabu mengabaikan kemungkinan menerapkan nilai tukar mata uang asing tunggal, mengutip iklim ekonomi saat ini yang tidak bersahabat.

“Kami tenggelam dalam sebuah perang (ekonomi) … perang melawan sistem (ekonomi) yang kami sedang kembangkan, itu sebabnya kami harus berhati-hati untuk mencapai tujuan sosial dan ekonomi yang telah kami tetapkan,” kata Merentes dalam sebuah wawancara televisi.

Pernyataan itu satu hari setelah pemerintah mengumumkan sistem nilai tukar tiga tingkat (tier) yang lebih fleksibel yang dirancang untuk melindungi sektor-sektor ekonomi penting, sementara mengurangi beberapa pembatasan mata uang, sebuah langkah untuk menghidupkan kembali perekonomian negara yang sedang kesulitan karena jatuhnya harga minyak.

Sistem baru mempertahankan kurs 6,30 bolivar terhadap dolar AS untuk impor bidang-bidang strategis, seperti makanan dan kesehatan, kurs 12 bolivar terhadap dolar AS untuk sektor-sektor non-strategis, dan kurs pasar mengambang bebas untuk perusahaan swasta dan individu.

Sistem ini akan memungkinkan pemerintah Venezuela untuk mengarahkan mata uang asing terhadap “kebutuhan riil masyarakat,” kata Merentes.

“Ada kelompok-kelompok politik dan bisnis yang mencoba untuk mengacaukan pemerintah kita dan yang pasti berdampak pada perekonomian dan sistem mata uang kita,” katanya.

Pihak berwenang mengharapkan sistem baru ini akan membantu membasmi meningkatnya pasar gelap dalam greenbacks yang dikutip 185 bolivar terhadap dolar AS, sekitar 30 kali tingkat resmi.

“Jika mekanisme kurs dolar ini sangat mirip dengan (kurs) pasar gelap, tidak masuk akal untuk menggunakan pasar ilegal,” katanya.

Kontrol mata uang ketat yang dikenakan 12 tahun yang lalu di negeri ini telah disalahkan untuk membunuh kesulitan ekonomi, terutama kekurangan barang dan pertumbuhan yang lambat.

Baca Juga :
Dua kota di China diblokade karena wabah virus corona

(Ant) –