Denpasar (Metrobali.com)-

Pengamat politik dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar Dr Nyoman Subanda melihat banyaknya golongan putih dalam berbagai perhelatan demokrasi dipicu oleh sikap frustrasi masyarakat terhadap politik.

“Ini menjadi gambaran dari masyarakat yang sudah bosan dengan politik dan mengharapkan sebuah perubahan nyata bagi hidupnya namun tidak direspons oleh calon pemimpin,” ujarnya di Denpasar, Selasa (5/11).  Dekan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Undiknas tersebut mengemukakan hal itu pula yang menjadikan masyarakat bersikap pragmatis.

“Makanya jangan disalahkan masyarakat dengan mudah menjual suaranya seharga Rp50-Rp100 ribu karena bagi mereka uang lebih penting daripada gagasan politik tentang perubahan,” ujar Subanda. Oleh sebab itu dia menyarankan calon pemimpin menunjukkan prestasinya. “Kurangi beriklan di media. Memang ada capres atau cawapres yang memiliki stasiun TV, namun akan lebih bermanfaat jika waktu yang tersisa ini dimanfaatkan dengan melakukan tindakan nyata bagi kesejahteraan rakyat,” katanya.

Terkait popularitas figur Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, dia menganggap masih perlu pembuktian secara nyata. “Memang dari sikap baik, jujur, ramah dan rendah hati tergambar dari sosok Jokowi karena Indonesia adalah wilayah yang heterogen dan sangat luas,” kata Subanda.

Kepada calon pemilih, dia juga meminta agar tidak terpengaruh pada penampilan fisik calon. “Jangan hanya menilai sekilas dan dari luar, tapi apa yang bisa dilakukan kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menyarankan calon anggota legislatif harus membangun citra diri yang bagus melalui investasi sosial. “Investasi sosial adalah bagaimana seseorang melibatkan diri di masyarakat secara langsung dan juga berperan memberikan bantuan untuk mendapatkan kepercayaan,” ujarnya. AN-MB

Baca Juga :
Ulama dan Kiai Betawi kecam pembakaran bendera PDI Perjuangan