Festival Kesanga = Festival Ogoh-Ogoh = Festival Bhuta?
Ilustrasi
Denpasar, (Metrobali.com)
Festival Kesanga lagi marak pemberitaannya di media sosial. Lahir pertanyaan menggelitik, apakah festival ini sama dengan festival ogoh-ogoh dan kemudian festival Bhuta?
Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, tinggal di Desa Tajun, di palebahan “Kaja Kangin” Bukit Sinunggal, Den Bukit, Bali Utara, Minggu, 23 Maret menyebut, bahwa Festival Kesanga sama dengan festival Ogoh-Ogoh, barangkali ya. Karena merupakan arena tontonan yang menghibur dari proses berkreasi anak-anak muda, tentang Bhuta dalam tafsir mereka, dalam suasana kegembiraan, ajang ekspresi diri dan ekspresi kelompok, untuk pemenuhan aktualisasi diri dan kemudian aktualisasi bersama. Pemenuhan rasa percaya diri dan aktualisasi diri, dan kemudian aktualisasi sosial.
Bagaimana dengan Festival Kesanga = Festival Bhuta. Menurut Jro Gde Sudibya, di sini diperlukan penjelasan, pertama, jika sebagai Festival Bhuta, untuk sederhananya Bhuta, merupakan kualifikasi energi di bawah manusia, tidak mesti dalam artian negatif.
“Tetapi bisa menjadi destruktif, kalau kita gegabah dan tidak bijak di dalam membangun relasi dengan Bhuta. Namun, sebaliknya Bhuta dalam pengertian positif, dalam istilah dan makna Bhuta Hita, kesejahteraan semua makhluk yang menjadi basis kebahagiaan sejati manusia,” katanya.
Dikatakan, kedua, bhuta dalam proses prosesi upakara pengerupukan, ategepan jajna dengan Bhuta Jajna Tilem Kesanga, secara implisit mengakui dan menyadari bahwa manusia pada dasarnya punya kualifikasi bhuta, sebagai basis menjadi Manusa dan kemudian mengalami transformasi pendakian rokhani menjadi Dewa. Pemahaman holistik tentang Diri, prosesnya, berproses menjadi Manusa dan kemudian Dewa.
Ketiga, kesadaran berproses pada butir dua, menetapkan transformasi Bhuta menjadi Manusa dan kemudian Dewa dalam upakara pecaruan Bhuta Jajna yang berfungsi dan bermakna Nyomya, transformasi Dewa, yang bercirikan ketenangan, kedamaian, kesucian.
Keempat, proses nyomya, transformasi Bhuta menjadi Dewa mengalami gangguan, sumbatan, karena: ketidak tahuan, kualitas pengetahuan yang distimulasi Rajah dan Tamah, yang melahirkan sikap dan prilaku: bodoh, masa bodoh, “cuek”, sombong, egois, licik, penuh tipu-tipu dan sarat pamrih.
” Akibatnya proses transformasi “nyomya” gagal, bhuta memenuhi lingkungan dan bahkan memasuki manusia. Penyelenggaraan upakara menjadi “nyaplir”, maknanya jalan di tempat,” kata Jro Gde Sudibya.
Jurnalis : Nyoman Sutiawan