Takehiko Nakao

Jakarta (Metrobali.com)-

Dunia semakin terdorong untuk memperkuat kerja sama perekonomian dengan Tiongkok, yang ditunjukkan antara lain dengan langkah Bank Pembangunan Asia (ADB) yang memperdalam kemitraan dengan negara Tirai Bambu tersebut.

“Saya berkomitmen untuk terus bekerja sama lebih erat lagi dengan Republik Rakyat Tiongkok untuk mengatasi tantangan pembangunan,” kata Presiden ADB Takehiko Nakao dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (24/3).

Pada saat yang bersamaan, menurut Nakao, pihaknya juga menyambut keinginan pemerintahan Republik Rakyat Tiongkok untuk memperdalam kemitraan dengan salah satu lembaga finansial multilateral tersebut.

Saat menghadiri undangan Komisi Reformasi dan Ekonomi Nasional Tiongkok, ADB telah menggelar serangkaian kajian mendalam an membuat rekomendasi untuk Rencana Lima Tahun ke-13 Republik Rakyat Tiongkok, yang sedang digodok.

Kajian itu berguna untuk mengatasi tantangan seperti transformasi industrial, pembangunan seimbang perkotaan-perdesaan, transformasi SDM, keamanan sumber daya air, dan integrasi yang lebih jauh dengan perekonomian global serta reformasi keuangan publik.

Sejak tahun 1986, ADB juga telah mengucurkan hingga sebesar 29,4 miliar dolar AS dalam bentuk pinjaman kepada Tiongkok.

Sebelumnya, Prancis, Jerman dan Italia pada Selasa (17/3), mengumumkan rencana untuk bergabung dengan bank pembangunan AIIB yang dipimpin Tiongkok, menarik kekhawatiran Washington yang memandang lembaga itu dengan skeptis. Tiga negara Eropa itu ingin “menjadi anggota pendiri dari Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB)”, dalam pernyataan bersama yang dikutip kantor berita AFP.

AIIB dengan modal awal 50 miliar dolar AS (47 miliar euro) telah diinisiasi oleh Beijing sebagai cara pembiayaan pembangunan regional, tetapi dipandang sebagai saingan potensial untuk lembaga-lembaga yang berbasis di AS seperti Bank Dunia.

Washington, Tokyo dan Seoul telah menolak untuk menjadi anggota pendiri — tetapi dalam waktu seminggu, empat ekonomi terbesar Eropa telah mengisyaratkan rencana untuk bergabung.

Baca Juga :
NasDem Bali Bagikan 4.500 Bibit Buah Produktif dan Unggul, Gelorakan Gerakan Bali Menanam dan Ajak Milenial Bertani

Pemerintah Inggris telah mengumumkan ambisinya untuk menjadi negara Barat pertama yang bergabung dengan bank tersebut, dalam sebuah langkah untuk memperkuat hubungannya dengan Tiongkok.

Tiongkok juga pemegang asing terbesar surat utang negara AS, dengan kepemilikan sebesar 1,2391 triliun dolar AS pada Januari 2015.

Sedangkan Presiden RI Joko Widodo dalam lawatannya ke Jepang dan Tiongkok akan menawarkan peluang investasi untuk membangun 24 pelabuhan yang menjadi pilar proyek infrastruktur tol laut, kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago. “Ya, kami ingin mempercepat penerapan poros maritim,” kata Andrinof di Jakarta, Senin (23/3).

Andrinof tidak menampik keberangkatan Jokowi ke Tiongkok juga karena misi serupa negara Tirai Bambu itu, yang ingin membangun Jalur Sutera, sebuah jalur konektivitas tata niaga dari berbagai wilayah di Asia ke Eropa dan Afrika.AN-MB