Keterangan foto: Dr. Somvir guru yoga asal India, usai diperiksa Ketua Bawaslu Buleleng Putu Sugi Ardana, SH, MH, Senin (29/4) siang di sekretariat Bawaslu Buleleng/MB

Buleleng, (Metrobali.com) –

Dr. Somvir guru yoga asal India, kini menjadi aktor populer terkait dugaan dirinya memberikan uang ke pemilih saat Pemilu Legeslatif, 17 April 2019 lalu. Dari hasil dugaan bermain uang itu, ia berhasil mendulang suara hingga belasan ribu suara mengalahkan caleg DPRD Provinsi Bali lainnya di Dapil 5 Buleleng di internal Partai Nasdem Buleleng.

Kendatipun warga kerap mendatangi sekretariat Bawaslu Buleleng dan meminta agar Dr. Somvir ditangkap dan diperiksa sesuai ketentuan undang-undang Pemilu, namun Dr. Somvir menanggapinya dengan santai dan seolah-olah masalahnya itu adalah hal biasa. “Isu suap, money politics dalam demokrasi sah-sah saja” ujar Somvir.

“Kecewa boleh tetapi jangan cemburu. Bagi yang kecewa mari belajar yoga sama saya,” sindirnya usai diperiksa Ketua Bawaslu Buleleng Putu Sugi Ardana, SH, MH, Senin (29/4) siang di sekretariat Bawaslu Buleleng.

Lebih lanjut ia mengatakan untuk lawan politik agar tidak cemburu dengan hasil suara yang diperolehnya di intetnal Partai Nasdem yang cukup besar.” Yang jelas kecewa boleh tetapi jangan cemburu” ujar Somvir lagi menegaskan.

Yang sungguh mengejutkan adalah Somvir mengaku tifak mengenal terhadap orang yang melaporkan dirinya ke Bawaslu tentang bermain uang saat Pemilu. Sedangkan dalam laporannya, terlapor Subrata mengaku menerima uang dari Somvir. “Tidak benar Isu money politics yang dilaporkan Redana dan kawan-kawan. Dan juga saya tidak tahu siapa subrata,” dalihnya kepada awak media.

“Semua laporan dan aksi demo itu hanya tuduhan untuk mengeluarkan saya dari Partai Nasdem. Sehingga saya tidak berhak mendapatkan kursi di dewan untuk mewakili Partai Nasdem Buleleng. Saya mendapatkan suara dengan cara benar. Dimana selama ini mengajar yoga dan berbuat baik bagi semua umat,” tandas Somvir.

Baca Juga :
Jaga Pilkada Badung Aman, Polsek Kuta Gandeng Ormas

Pewarta: Gus Sadarsana
Editor: Hana Sutiawati