Keterangan foto: Budayawan Kabupaten Jembrana Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, S.Sos berpulang/MB

Jembrana (Metrobali.com) –

Budayawan Kabupaten Jembrana Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, S.Sos yang lebih dikenal dengan nama DS Putra (57), Jumat (21/1/2022) meninggal dunia karena hipertensi..

Kepala Bidang (Kabid) Politik Dalam Negeri dan Organisasi Masyarakat (Poldagri) pada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Pemkab Jembrana meninggal dunia di RS Sanglah setelah menjalani perawatan selama dua pekan lebih.

Almarhum meninggal dunia saat istri Ni Ketut Mahendri (49) dan ketiga anak-anaknya, Ida Ayu Putu Gayatri Praba Putra (26), Ida Ayu Made Gita Prapti Sanjiwani Putra (24) dan Ida Bagus Yudistira Prana Putra (22), berkumpul disisinya.

“Ya, ketika ajik meninggal kami semua ada disamping ajik (almarhum). Ajik meninggal karena hipertensi” terang Yudistira saat ditemui di rumah duka, Sabtu (22/1/2022).

Menurutnya berawal pada hari Selasa (4/1/2022) pagi tiba-tiba almarhum mengeluh pusing disertai muntah kemudian dibawa ke UGD RSU Negara. Selanjutnya sekitar pukul 20.00 dirujuk ke RS Sanglah.

Di RS Sanglah sambungnya, almarhum sempat menjalani operasi dua kali, salah satunya operasi untuk mengeluarkan darah karena terjadi penggumpalan darah pada otak.

Seusai operasi kedua pada Rabu (5/1/2022) lanjutnya, kondisi almarhum sempat membaik. Dan memasuki petang sebelum meninggal dunia, kondisi almarhum kembali menurun, bahkan sampai demam tinggi.

“Ajik meninggal hari Jumat (21/1/2022) sekitar setengah delapan malam (19.30) di Sanglah. Untuk Pelebon atau Upacara Pengabenan di hari Selasa (25/1/2022) depan” ujarnya.

Menurutnya almarhum sering mendapat panggilan untuk mengisi acara, termasuk berdiskusi terkait politik, budaya maupun seni. Bahkan ada beberapa yang sengaja datang ke rumah hanya untuk berdiskusi. Dan diskusi ini juga dilakukan almarhum bersama anak-anaknya. “Kalau penghargaan, ajik banyak mendapat penghargaan. Salah satunya Festival Bali Jani” imbuhnya.

Baca Juga :
Sepenggal kisah cinta putri Presiden Jokowi Kahiyang Ayu

Sementara itu, istri Gubernur Bali, Ny. Putri Koster mengaku sangat kehilangan atas meninggalnya budayawan Jembrana, DS Putra. Terlebih dirinya dari awal mengikuti proses, dari rumah sakit Negara sampai di rumah sakit Sanglah karena selalu berkomunikasi dengan Ibu Jro, istri almarhum.

Menurutnya almarhum merupakan sosok budayawan yang enak untuk diajak berdiskusi. “Beliau itu teman diskusi yang enak. Kita plong kalau berdiskusi dengan beliau. Dan beliau itu orangnya apa adanya” ujar Ny Putri Koster ditemui seusai melayat ke rumah duka di Kelurahan Banjar Tengah, Kecamatan Negara, Sabtu (22/1/2022).

Almarhum menurutnya juga paham dan tahu akan situasi politik. Sebagai seorang budayawan dan seni, almarhum orangnya peduli (care) dan cerdas dalam mengkritisi situasi yang disertai solusi.

“Saya suka cara beliau mengkritisi, baik itu tajam maupun melalui humoris. Cara beliau memang seperti itu dan landasannya adalah semua untuk menjadi lebih baik” ungkapnya.

Disebutnya dirinya dengan almarhum tidak berteman baru sekarang saja. Namun sudah lama. Karena kakak almarhum Ibu Dayu (Kadis Perpustakaan) semasa kuliah di Denpasar dan dirinya, sama-sama pernah tinggal di Panjer. “Waktu itu beliau masih muda. Kita ketemu lagi tahun 2011 sejak ada FB. Hilang kontak sudah cukup lama sejak tahun 80-an” ujarnya.

Almarhum sambungnya, sosok yang enak diajak bicara dan banyak memberikan wisdom-wisdom yang mudah untuk dilakukan. Misalnya seorang ibu adalah ibu bumi yang penuh kesabaran. “Beliau juga menulis puisi buat saya “Si Mata Embun Yang Penuh Kasih” imbuhnya.

Pihaknya akan menggelar Festival Seni Bali Jani (FSBJ) dan disitu ada FSBJ Nugraha Award. Rencananya disitu akan saya berikan untuk tiga orang, Pak Umbu, Pak Abas dan Tuaji (almarhum). “Tahu-tahu beliau berpulang. Saya kira ini belum terlambat. Semoga ada manfaatnya untuk keluarga karena penghargaan ini apresiasi pemerintah kepada para sastrawan” tandasnya.

Baca Juga :
Serahkan BPUM, Presiden Dorong Pelaku Usaha Mikro Tidak Putus Asa di Tengah Pandemi

Dikonfirmasi terpisah Bupati Jembrana I Nengah Tamba atas nama Pemerintah Daerah, Masyarakat dan pribadi menyampaikan bela sungkawa atas berpulangnya DS Putra yang merupakan salah satu putra terbaik Jembrana dan juga seorang budayawan dan seni.

Bupati Tamba juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaafkan kesalahan almarhum, baik disengaja maupun tidak disengaja semasa hidupnya.

Secara pribadi disebutnya dirinya sangat mengenal sosok almarhum, bahkan mengenalnya sudah cukup lama, sejak kuliah. Terlebih dirinya dimasa muda sering bermain di Kelurahan Banjar Tengah.

“Kami sangat kehilangan. Apalagi beliau sangat memahami dan mendalami budaya literasi Islam dan Hindu yang ada di Jembrana” ujar Bupati Tamba ditemui seusai mendampingi Ny. Putri Koster melayat di rumah duka almarhum DS Putra.

Almarhum juga merupakan salah satu nara sumber untuk mendapatkan dan mengetahui harmonisasi interaksi dua kebudayaan yakni kebudayaan Hindu dan Melayu khususnya di Jembrana.

“Hari ini kita kehilangan sosok budayawan dan seni. Pengetahuan yang beliau miliki sudah banyak ditularkan, juga melalui pesan-pesan. Ini sangat berkesan buat diri saya” ungkapnya.

Disebutnya, almarhum sangat vulgar dalam mengkritisi setiap kebijakan yang dikeluarkan dirinya. Bahkan tidak segan-segan mengatakan salah, jika kebijakan yang keluarkan dianggap salah oleh beliau. Namun kritik beliau juga dengan alasan dan solusi.

“Astungkara, antara salah dan benar, salahnya sedikit, benarnya lebih banyak. Sehingga beliau sangat mendukung apa yang saya lakukan” imbuhnya.

Terakhir bertemu dengan almarhum menurut Bupati Tamba saat diskusi terkait Angkringan Negaroa Bahagia. Dan almarhum memberikan banyak masukan positif karena di angkringan itu tempatnya anak-anak muda untuk berkreasi, berinovasi serta berpikir untuk kemajuan, baik untuk Jembrana maupun global.

“Itu terakhir yang saya diskusikan dengan beliau (almarhum). Beliau sangat mendukung karena untuk pertumbuhan UMKM yang ada di Jembrana” pungkasnya. MT-MB

Baca Juga :
Rebutan Perempuan,  Ditusuk Dengan Taji