mie

Jakarta (Metrobali.com)-

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyelidiki pemilik dua pabrik mie basah berformalin di Citayem, Depok.

“Kami tidak yakin pemilik pabrik itu Hari. Kami lagi menyelidiki siapa aktor di belakangnya,” kata Kepala Pusat Penyidikan BPOM Hendri Siswadi di Jakarta, Sabtu (11/10).

Dua pabrik mie basah tanpa merek yang berada di pemukiman warga di Citayem digerebek tim BPOM tadi subuh.

Dalam razia itu, Hari mengaku sebagai pemilik pabrik itu. Namun beberapa sumber informasi dari pabrik tersebut menyatakan Hari memiliki bos.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat terungkap,” ujarnya.

Menurut dia, sejak dua bulan terakhir petugas BPOM telah menyelidiki pabrik itu, termasuk identitas pemiliknya.

Berdasarkan hasil penyelidikan, pabrik itu memproduksi mie basah 6 ton. Mie mengandung banyak formalin, karena setiap tiga hari sekali pemilik pabrik membeli 3 kg formalin dari toko kimia di Tangerang.

Harga satu kg mie yang dijual kepada pedagang di pasar sebesar Rp6.000 per kg. Dalam sehari pendapatan perusahaan itu Rp36 juta, dan sebulan Rp1,08 miliar.

Pabrik itu telah beroperasi selama tiga tahun.

“Keuntungan pemilik pabrik itu 30 persen dari pendapatan. Pantas lah pemiliknya kaya,” katanya.

Hendri mengatakan Hari memiliki rumah mewah dan empat mobil mewah, selain alat transportasi yang memadai untuk mengangkut mie ke pasar.

“Kami sudah mengetahui identitas Hari, sehingga tidak mungkin dia dapat kabur,” katanya.

Dia menduga masih ada pabrik mie berformalin lainnya di Indonesia yang belum terungkap. BPOM memutuskan untuk melakukan operasi khusus dalam menangani permasalahan ini.

“Ini kasus mengerikan. Penanganannya juga harus bersama institusi berwenang lainnya,” katanya, AN-MB 

Baca Juga :
Bupati Menghadiri kegiatan Persembahyangan bersama Penglingsir Puri Se-Bali