Bolos Retreat Kepala Daerah, Agung Manik Danendra AMD Puji Koster Kesetiaan Gubernur Koster pada “Kawitan”
Foto: Agung Manik Danendra (AMD), Tokoh Publik Bali yang pernah digadang-gadang maju sebagai Calon Gubernur Bali pada Pilgub Bali 2024 menyampaikan ucapan selamat atas pelantikan Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta (Koster-Giri).
Denpasar (Metrobali.com)-
Agung Manik Danendra (AMD), Tokoh Publik Bali yang kerap dikenal dengan julukan The Real Sultan Dermawan Bali angkat bicara mengenai sikap Gubernur Bali Wayan Koster yang taat pada perintah dan instruksi Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri sebelumnya agar menunda keikutsertaan pada agenda retreat Kepala Daerah yang menjadi program Presiden Prabowo Subianto.
Seperti diketahui Gubernur Bali, Wayan Koster, bersama delapan bupati/wali kota di Provinsi Bali yang berasal dari PDI Perjuangan , kompak tak hadir dalam retreat kepala daerah gelombang pertama di Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah yang berlangsung mulai 21-28 Februari 2025.
Di awal menyampaikan pandangannya, AMD mengomentari kepemimpinan Koster-Giri yang telah resmi dilantik. Ia menyampaikan ucapan selamat atas pelantikan Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta (Koster-Giri), yang mana keduanya merupakan kader PDI Perjuangan.
“Jadi, kita sekarang sudah punya Gubernur yang sah, yaitu Bapak Gubernur Koster yang sudah terpilih yang kedua kalinya dan ada wakil gubernur Pak Giri Prasta yang juga sebelumnya menjadi Bupati Badung,” kata AMD saat dihubungi Rabu 26 Februari 2025.
Tokoh Publik Bali yang pernah digadang-gadang maju sebagai Calon Gubernur Bali pada Pilgub Bali 2024 ini menilai Koster-Giri merupakan duet pemimpin yang ideal karena kedua tokoh ini memiliki pengalaman dalam birokrasi pemerintahan. Wayan Koster sebelumnya menjabat sebagai gubernur, sementara Nyoman Giri Prasta sebagai Bupati Badung dengan julukan “Bupati Bares” karena kerap memberikan berbagai program bantuan kepada masyarakat.
Diharapkan, sebagai Wakil Gubernur Bali, Giri Prasta dapat melanjutkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat dengan cakupan yang lebih luas. ” Semoga juga nanti sebagai wakil gubernur bisa seperti itu, bisa baresnya lebih bares lagi,” harap Tokoh Publik Bali yang bernama lengkap Dr. Anak Agung Ngurah Manik Danendra, S.H., M.H., M.Kn., yang sebelumnya dikenal lekat dengan kritik-kritik pedas yang dilayangkan kepada Wayan Koster selama menjabat sebagai Gubernur Bali periode 2018–2023
Selain itu, AMD menekankan pentingnya program kerja yang pro-rakyat dalam pemerintahan Koster-Giri. Terlebih lagi pasca pelantikan, masyarakat Bali sangat menantikan kebijakan yang bisa langsung memberikan manfaat. “Tentu kami sebagai warga, masyarakat Bali, sangat menunggu kinerja dari Gubernur Koster untuk melanjutkan, dan kami berharap sekali program-programnya adalah pro-rakyat,” tegas AMD yang merupakan lulusan Doktor Ilmu Pemerintahan di salah satu kampus ternama di tanah air itu.
Menanggapi pemberitaan yang ramai mengenai kepala daerah dari Bali yang berasal dari partai PDI Perjuangan, yang tidak mengikuti program retret setelah adanya instruksi langsung dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, AMD mengungkapkan pandangannya terhadap keputusan Gubernur Bali, Wayan Koster yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Bali.
Keputusan tersebut dianggap sebagai bentuk loyalitas terhadap partai yang menaunginya. Dalam konteks budaya Bali, sikap ini mencerminkan nilai-nilai kesetiaan kepada leluhur atau kawitan, yang dalam hal ini diartikan sebagai induk partai. Prinsip tersebut menjadi bagian dari tradisi masyarakat Bali yang mengedepankan rasa hormat dan kepatuhan terhadap leluhur dalam setiap tindakan dan keputusan. Sikap kesetiaan Gubernur Koster kepada induk partainya, menurut AMD, patut untuk ditiru.
“Karena kita sebagai orang Bali itu tidak boleh melupakan leluhur, kawitan. Sebagai orang Bali itu harus taat kepada dan selalu eling, setia kepada leluhur, apapun risikonya,” ungkap tokoh sentral Puri Tegal Denpasar Pemecutan ini.
Keputusan tersebut dianggap sebagai bentuk loyalitas terhadap partai yang telah membesarkannya. AMD menilai bahwa kesetiaan ini merupakan prinsip yang membedakan Gubernur Koster dari tokoh lain seperti mantan presiden Joko Widodo (Jokowi) yang pernah mendapat dukungan besar dari partainya, tetapi kemudian mengambil jalur berbeda. Padahal Jokowi diangkat dan dibesarkan oleh ” kawitan ” atau “leluhurunya” hingga menjadi presiden dua periode.
“Mantan Presiden Jokowi, yang diangkat dan dibesarkan oleh kawitan leluhurnya hingga menjadi presiden dua periode dan malah keluar dari kawitan, leluhurnya, dan malah dipecat, dan menjadi rival malahan sekarang,” beber AMD yang juga seorang pakar hukum dan masih aktif berprofesi sebagai Notaris-PPAT dan Pengusaha ini yang sebelumnya sempat berprofesi sebagai Advokat di era Orde Baru itu.
AMD juga menilai bahwa keteguhan Gubernur Koster dalam menjaga kesetiaannya merupakan hal yang patut dihormati. Menurutnya, di tengah banyaknya tokoh yang memilih jalur aman atau bahkan meninggalkan induk politiknya demi kepentingan pribadi, Koster tetap teguh pada prinsipnya. Sikap yang tidak tergoyahkan ini dianggap sebagai contoh bagi masyarakat Bali dalam menjunjung nilai loyalitas dan komitmen terhadap prinsip yang dipegang teguh.
“Nah ketokohan Pak Koster ini dalam hal kesetiaan kepada kawitan inilah yang saya bilang itu saya angkat topi, hormatlah kepada Pak Koster dalam hal kesetiaannya kepada induk parpol,” ujar AMD yang dikenal tokoh muda Bali yang tidak suka pamer, low profile dan gemar berbagi, membantu pembangunan pura di nusantara hingga viral dengan sebutan The Real Sultan Dermawan Bali ini.
Meskipun demikian, AMD juga menyoroti pentingnya hubungan baik antara Bali dan pemerintah pusat. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kemungkinan berkurangnya perhatian pemerintah pusat terhadap Bali akibat dinamika politik ini. Dukungan dari pemerintah pusat dinilai tetap diperlukan untuk keberlanjutan pembangunan di Bali. Namun, karena kepemimpinan Koster-Giri baru saja dilantik, AMD menilai bahwa masih terlalu dini untuk memberikan komentar lebih lanjut mengenai dampak dari keputusan tersebut.
“Dalam hal ini, saya sebagai warga masyarakat di Bali cukup prihatin terhadap permasalahan ini. Jangan-jangan nanti Bali “sing ade ape De,” karena apa? Karena ini kan dukungan pusat sangat kita perlukan. Nah ini saya belum bisa banyak mengkomentar dalam hal ini, karena ini kan baru dilantik,” urai AMD yang dikenal sebagai tokoh yang lahir dari keluarga Puri yang dekat dengan semua lapisan masyarakat dan Cucunda tokoh legenda dua jaman I Gusti Ngurah Oka Pugur Pemecutan ini.
Terkait anggapan bahwa keputusan untuk tidak mengikuti retret merupakan bentuk perlawanan terhadap Presiden, AMD, yang dikenal sebagai tokoh muda dengan semangat membara untuk perubahan menilai hal tersebut sebagai pemikiran yang berlebihan. Namun, ia juga melihat adanya perbedaan pandangan yang tidak lagi sejalan antara pemerintah pusat dan kepala daerah dari Bali.
Perbedaan ini diibaratkan seperti jalur rel kereta api yang tidak sepenuhnya terhubung, sehingga berisiko menghambat perjalanan ke depan. AMD menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi ini, karena perbedaan arah kebijakan dapat berdampak pada hubungan antara pemerintah pusat dan daerah.
“Kalau dibilang perlawanan kepada Presiden, menurut saya sih terlalu berlebihan. Tapi menurut saya itu, ini sudah ada pemikiran yang berseberangan, tidak satu jalur,” ungkap AMD yang selama ini dikenal sebagai sosok yang humanis, namanya harum dan viral berkat berbagai aksi sosial kemanusiaan dengan tidak henti-hentinya berbagi dan beryadnya, memiliki pengalaman organisasi, intelektual tinggi dan disegani kaum milenial..
Terkait dampak keputusan tersebut terhadap hubungan antara pemerintah pusat dan daerah, AMD menilai bahwa Gubernur Koster sebagai pemimpin yang berpengalaman tentu memiliki langkah-langkah tersendiri dalam menyikapi situasi ini. Ia menekankan bahwa setiap gubernur memiliki pendekatan yang berbeda, terutama dalam konteks kepemimpinan di bawah naungan partai politik tertentu.
Dalam pandangannya, jika berada dalam posisi gubernur, keputusan yang diambil akan berorientasi pada kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan lainnya. Namun, ia juga menyadari bahwa situasi Wayan Koster sebagai gubernur yang berasal dari PDI Perjuangan memiliki dinamika tersendiri, sehingga langkah yang diambil akan bergantung pada strategi politik dan kebijakan yang diterapkan oleh partai pengusungnya.
“Karena kalau saya jadi gubernur, apapun itu saya dipilih oleh rakyat, kepentingan negara itu kita dahulukan daripada kepentingan yang lainnya, kan begitu ya. Tapi ini dalam tanda kutip, saya ini kan tidak bisa dicontohkan sebagai bentuk seperti itu, karena saya itu bukan kader PDI P,” tutur AMD yang merupakan putra dari tokoh pendidikan Bali, Ayahndanya adalah pejuang kemerdekaan RI sebagai Ketua Legium garis depan dengan mendapatkan bintang gelar kehormatan dari Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto.
AMD sekali lagi mengaku salut dengan keteguhan Gubernur Koster dalam menaati arahan dari partai yang menaunginya, meskipun kemungkinan ada dilema di dalam dirinya. Ia melihat sikap tersebut sebagai bentuk kepatuhan yang luar biasa, layaknya seorang anak yang menghormati dan menaati orang tua, meskipun terkadang memiliki perbedaan pandangan.
Tokoh Publik Bali yang masih dinilai layak menjadi Calon Gubernur Bali 2029 ini membandingkan hal ini dengan pengalamannya sendiri dalam kehidupan sehari-hari, di mana terkadang terdapat perbedaan pendapat dengan orang tua, namun tetap dihormati. Baginya, kesetiaan Gubernur Koster kepada partai yang membesarkannya adalah sesuatu yang patut diapresiasi.
“Saya salut sama Gubernur Koster yang terus eling sama kawitan, sama leluhur. Apapun petunjuk dari leluhur itu ditaati, walaupun kadang-kadang mungkin sedikit bertentangan dengan hati, tapi tetap diikuti, itu luar biasa,” pungkas AMD. (mb)