Denpasar (Metrobali.com)-

Program Biogas Rumah (Biru) menargetkan pembangunan 1.000 unit reaktor hingga akhir 2013 di delapan provinsi di Indonesia.

“Program biogas rumah tersebut bertujuan untuk memanfaatkan energi alternatif sehingga masyarakat tidak bergantung pada energi yang sudah ada,” kata Koordinator Program Biru Provinsi Bali I Gde Suarja saat acara sosialisasi pemanfaat biogas di Denpasar, Kamis (4/7).

Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini Biru telah membangun 9.030 unit yang tersebar di delapan provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Lampung, dan Sulawesi Selatan.

Sedangkan di Bali hingga Mei 2013 sudah lebih dari 430 rumah tangga telah memanfaatkan biogas dan pupuk organik dari hasil olahan limbah ternak mereka melalui program Biru yang tersebar di sekitar 39 kecamatan di sembilan kabupaten/kota.

Program Biru dilaksanakan oleh Yayasan Rumah Energi yang bekerja sama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda.

Program tersebut dimulai pada Mei 2009 yang dirintis oleh “Hovis”, sebuah lembaga kemanusiaan untuk kerja sama pembangunan yang berbasis di Belanda.

“Dalam Program Biru, para peternak atau masyarakat yang berminat akan mendapat subsidi sebesar Rp2 juta per reaktor,” ujarnya.

Menurut dia, bantuan tersebut tidak dalam bentuk uang, tetapi berupa peralatan pendamping (after sales sevice).

Selain itu, mereka juga akan mendapatkan pelatihan perawatan reaktor Biru dan pengolahan ampas menjadi pupuk organik.

Dalam kesempatasn tersebut yang dihadiri langsung oleh Kabid Energi dan Sumber Daya Mineral Dinas Pekerjaan Umum Bali Putu Agus Budiana mengatakan akan berupaya mendorong masyarakat untuk memanfaatkan energi alternatif yang ada di Bali.

“Energi alternatif yang ada dan bisa dimanfaatkan adalah biogas,” ujarnya.

Baca Juga :
Montolivo Absen Di Piala Dunia Karena Patah Kaki

Pihaknya berharap kepada masyarakat agar memanfaatkan kesempatan tersebut karena diberikan pelatihan dan bantuan untuk membangun reaktor biogas tersebut.

Sementara itu, menurut Nyoman Brandi, masyarakat yang memanfaatkan kotoran ternak untuk diolah menjadi bogas merasa terbantu dengan penggunaan reaktor biogas tersebut.

“Saya sangat merasakan perubahan tersebut karena biayanya lebih murah dibandingkan menggunakan gas elpiji,” ucapnya. INT-MB