Oleh: I Gde Sudibya

Indonesia diperkirakan memasuki masa puncak pandemi Covid-19 di triwulan pertama tahun 2021, sedangkan beberapa negara Eropa seperti Jerman, Italia telah mengalami gelombang kedua pandemi.

Kompas dalam laporannya tanggal 10 Desember 2020 berjudul: Pelajaran Jerman – Korsel, Vaksin Bukan Segalanya, melaporkan: Kanselir Jerman ngotot untuk melakukan pembatasan sosial, ketika gelombang kedua pandemi di negeri ini telah mengakibatkan kematian hampir 600 orang per hari dan juga menyampaikan arah pandemi tidak akan berubah hanya dengan penemuan vaksin.
Menurut perhitungan eksponensial, jumlah kasus di Jerman diperkirakan akan meningkat  lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan puncak kasus pada musim semi yang lalu. Karantina wilayah sebagian selama enam minggu terakhir saat bar dan restoran tutup, tetapi toko dan sekolah buka, dinilai tidak lagi cukup.
Kanselir ini, sepakat  dengan saran dari para ilmuwan dari Leopoldina Academy yang menyarankan toko yang tidak menjual produk esensial harus tutup antara malam Natal  sampai minimal tanggal 10 Januari 2021. Krumunan harus dibatatasi, para pekerja harus bekerja dari rumah kalau memungkinkan.
Ide dasar dari rekomendasi ini, mendorong warga tetap di rumah selama perayaan Natal, untuk memutus rantai penularan Covid-19. Peringatan dalam bahasa keras dari Angela Merkel buat warganya: ” Jika kita terlalu banyak kontak dengan orang lain sebelum Natal dan ternyata itu menjadi Natal terakhir bersama keluarga, kita benar-benar gagal “.
Demikian juga dengan Korea Selatan, yang tidak ingin buru-buru melakukan vaksinasi. Walaupun negara ini telah melakukan pemesanan vaksin  44 juta. Presiden Korsel Moon Jae – in jusrtru menginginkan test dilakukan lebih luas dan penelusuran kontak dilakukan lebih gencar. Kebijakan pembatasan sosial lebih ketat diperlakukan, sejak hari Selasa (8/12) termasuk jam malam untuk restoran dan tempat usaha lain.
Tantangan bagi Satgas Bali
Di tengah masyarakat mengalami kejenuhan dalam menghadapi pandemi, ekonomi yang turun tajam, dan menurut pemodelan FKM UI yang didukung Bappenas, perkiraan puncak pandemi di triwulan pertama tahun 2021, belajar dari upaya penanggulan pandemi oleh Jerman dan Korea Selatan di atas, tantangan dari satgas penanggulan pandemi Covid-19 provinsi Bali, menyebut beberapa diantaranya:
1. Protokol kesehatan 3 M semestinya dilakukan secara lebih ketat, terlebih-lebih untuk kurun waktu 20 Desember 2020 sampai 10 Januari 2021, dan kalangan usaha wisata menerapkan standar super ketat dalam pelayanan tamunya, sesuai standar dari kementriaan pariwisata.
2.Bauran kebijakan 3 M dan 3 T ( Tracing, Testing, Treatment ) dilakukan secara lebih fokus: wilayah, penentuan target, jadwal waktu, tingkat kinerja dan sistem evaluasi.
3. Salah satu kata kunci dari keberhasilan dalam penanganan pandemi ini: DISIPLIN, sehingga diharapkan  bertumbuhnya kesadaran dalam penegakan disiplin, mulai dari para pengambil kebijakan, disiplin dalam pelaksanaan kebijakan dan penegakan aturan dan disiplin prilaku dari masyarakat luas.
Ekonom pemenang hadiah Nobel tahun 1974 berkebangsaan Swedia Gunnar Myrdal, dalam bukunya yang monumental: Asian Drama, membuat kategori:tingkat disiplin sebuah negara bangsa akan menentukan apakah negara tersrlebut tergolong kuat ( strong state ), atau negara lemah ( soft state ). Menurut ekonom ini, negara dengan kategori kuat memenangkan persaingan. Dari banyak studi pembangunan di banyak negara, tesis Myrdal ini benar adanya, dan tetap relevan sampai dewasa ini.
Barangkali tidak bisa sekeras Jerman untuk melakukan lock down ketat selama priode 20 Desember 2020 – 10 Januari 2021, tetapi semestinya Satgas dan juga masyarakat menjadi sangat sadar akan risiko kalau kita lengah dan menganggap enteng pandemi. Risikonya tinggi, dari sisi jumlah penularan dan juga citra pariwisata Bali.
Kalau jumlah kasusnya meningkat tinggi dan adanya risiko terjadi gelombang kedua. Kalau ini terjadi, program pemulihan ekonomi akan tertunda dan bisa brantakan, sedangkan tekanan ekonomi sudah luar biasa berat. Dalam konteks ini, kita mengetuk hati satgas untuk meningkatkan sense of crisisnya, yang sudah berulang-ulang kali disampaikan Presiden dalam berbagai kesempatan.
Tentang Penulis
I Gde Sudibya, ekonom, konsultan strategi manajemen dan pengamat kebijakan publik.
Baca Juga :
Bom Bekasi akan diledakkan di Istana