Jakarta, (Metrobali.com)

 

Beijing akan melarang penggunaan kemasan plastik non-degradable (tidak dapat terurai) oleh gerai pengiriman ekspres mulai akhir tahun ini, di tengah upaya China untuk mengendalikan pencemaran plastik, demikian disampaikan pihak berwenang setempat pada Kamis (28/4).

Guna mengurangi penggunaan produk plastik non-degradable dari sumbernya, gerai-gerai pengiriman di ibu kota tersebut juga akan dilarang menggunakan tas anyaman plastik sekali pakai, menurut Komisi Pembangunan dan Reformasi Kota Beijing.

Per akhir 2022, penggunaan resi digital, pita perekat berukuran lebih kecil dari 45 mm, dan tas daur ulang akan mencakup seluruh sektor pengiriman di kota tersebut.

Selain sektor pengiriman, Beijing juga meluncurkan langkah-langkah untuk membatasi hingga bahkan melarang penggunaan produk plastik di sejumlah industri utama lainnya seperti katering, pengiriman makanan, grosir, dan retail.

Menurut statistik kasar, toko luring (offline) dari sejumlah supermarket besar di Beijing, termasuk Jingkelong, CSF Market, Walmart, dan Carrefour, mencatat penjualan tas belanja plastik turun 37 persen, atau 23 juta lembar, pada 2021 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Beijing membuat kemajuan dalam penanganan polusi plastik, kendati masih menghadapi banyak tantangan dan perlu melakukan upaya lebih lanjut, kata juru bicara komisi tersebut.

Pada 2020, China merilis rencana untuk melarang atau secara signifikan mengurangi produksi dan penggunaan produk plastik yang tidak ramah lingkungan dalam kurun waktu lima tahun ke depan guna mengurangi sampah plastik.

Pada 2025 nanti, negara itu berharap mengendalikan polusi plastik secara efektif, mengurangi secara substansial jumlah sampah plastik di tempat-tempat pembuangan sampah kota-kota besar, membangun sistem pengelolaan plastik yang lengkap, dan membuat kemajuan dalam pengembangan produk alternatif, urai rencana tersebut.

Baca Juga :
Lapas Siapkan Pengamanan Pemindahan ''Bali Nine''

 

Pewarta: Xinhua