Denpasar (Metrobali.com)-

Geliat rumah produksi Jayagiri Production pimpinan I Gusti Ngurah Murthana, yang akrab disapa Rahman dalam memproduksi film televisi (FTV) Jejak Leluhur disambut baik oleh badan perfilman daerah (Bapfida) Bali. Bahkan, seluruh anggota Bapfida Bali menegaskan bahwa film FTV Jejak Leluhur sebagai langkah yang cukup berani dan sangat strategis dalam meningkatkan perkembangan perfilman Bali ke depannya. Dan, secara aklamasi memberikan rekomendasi untuk proses syuting.

Hal ini terungkap dalam bedah naskah Jejak Leluhur di ruang rapat Padma Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali, Selasa (30/10) kemarin. Dalam kesempatan itu, seluruh anggota Bapfida Bali memberikan berbagai masukan untuk kesempurnaan dari penggarapan film FTV Jejak Leluhur yang mengangkat episode Manik Angkeran dan Arya Wiraraja tersebut. Terutama menekankan pada nilai edukasi, dan menghindari adanya konflik internal dengan pendekatan dari para tokoh atau pinisepuh yang memahami tentang sejarah dan keagamaan.

Kepala Seksi Perfilman dan Perizinan, Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali, I Wayan Dauh, bahkan berjanji akan turut memperjuangkan penjaringan investor atau bantuan dana baik dari instansi pemerintah maupun swasta. Sebagai wujud nyata pemerintah dalam menyukseskan program pendokumentasian melalui media film dokumenter. “Saya akan mendorong Disbud Bali untuk mengajukan pendanaan terhadap penggarapan film FTV Jejak Leluhur ini,” janjinya karena mengangkat kearifan budaya Bali.

Apalagi, katanya, film FTV Jejak Leluhur ini mengangkat kisah tentang perjalanan hidup dan sikap kepemimpinan dari Manik Angkeran dan Arya Wiraraja yang sarat pesan moral dan filsafat kehidupan. Sehingga sangat relevan dan cukup strategis dalam upaya pembentukan karakter terhadap upaya menghadapi berbagai persoalan bangsa. “Pihaknya sangat mendukung film FTV Jejak Leluhur ini. Dan, berharap film ini nantinya mampu menjadi penopang dari media informasi tentang film Besakih,” harapnya.

Baca Juga :
Gubernur Koster Terima Suntikan Pertama Vaksin Covid-19 di Pulau Bali

IGN Murthana alias Rahman, menjelaskan bahwa proses produksi film FTV Jejak Leluhur ini untuk mengembangkan bakat dan potensi para sinaes muda Bali. Diharapkan, film ini nantinya selain sebagai media edukasi publik tentang sejarah peradaban Bali yang menghibur sekaligus mencerdaskan.

Diakuinya, penggarapan film FTV Jejak Leluhur ini sepenuhnya melibatkan potensi lokal tapi demi kualitas standar nasional pihaknya juga menggaet tim produksi profesional dari Jakarta. Sehingga, film FTV Jejak Leluhur, yang rencananya akan ditayangkan di televisi lokal maupun nasional ini memiliki nilai komersial sebagai penguat kearifan budaya lokal khas Bali. “Kita berupaya maksimal untuk menciptakan film FTV ini dengan bahasa film yang menarik berdasarkan data sejarah secara otentik dari berbagai sumber valid,” janjinya, sehingga bisa diterima khalayak publik dan bisa dikembangkan lebih lanjut ke depannya.

Sementara itu, Hani Zetia, yang juga penulis naskah film televisi jejak leluhur ini menambahkan bahwa proses syuting film ini akan berlangsung sepekan mendatang, mulai Kamis (1/11) mendatang. Proses syuting akan berlangsung di wilayah desa Taro, Tegallalang Gianyar, Karangasem, dan Klungkung. “Saya akan mengawal proses syuting film ini agar apa yang menjadi harapan bersama, terutama anggota Bapfida Bali dapat tercapai dengan baik dan film berlatar kearifan budaya Bali ini bisa diterima khayalak publik,” sergahnya. IJA-MB