Banyak Perusahaan Teknologi Ingin Berkantor di Denpasar, Amerta Ingin Cetak Talenta Digital Berdaya Saing Global

single-image

Foto: Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Denpasar nomor urut 2, Gede Ngurah Ambara Putra dan Made Bagus Kertha Negara (Amerta).

Denpasar (Metrobali.com)-

Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Denpasar nomor urut 2, Gede Ngurah Ambara Putra dan Made Bagus Kertha Negara (Amerta) tidak main-main dengan komitmennya menguatkan daya saing perekonomian Kota Denpasar dalam wadah besar smart city (kota cerdas) yang terintegrasi.

Tidak hanya menguatkan ekonomi kerakyatan di Kota Denpasar melalui mendorong progam revitalisasi dan digitalisasi pasar tradisional, paslon yang diusung Partai Golkar, Partai Demokrat dan Partai NasDem ini juga melirik potensi ekonomi digital dan ingin menjadikan Kota Denpasar “home base” perusahaan-perusahan teknologi serta mendorong lebih banyak lahir startup (usaha rintisan) berbasis teknologi.

“Banyak perusahaan teknologi ingin berinvestasi, membuka kantor di Kota Denpasar, tapi ekosistem pendukungnya harus kita siapkan dan kuatkan,” kata Calon Walikota Denpasar nomor urut 2, Gede Ngurah Ambara Putra kepada Metro Bali Jumat (30/10/2020) saat ditanya tanggapannya soal masa depan ekonomi digital dan investasi di Kota Denpasar.

Menurut Ngurah Ambara yang juga seorang pengusaha ini banyak perusahaan teknologi ingin ingin membuka kantor dan beroperasi di Kota Denpasar. Namun mereka terkendala salah satunya terkait ketersediaan talenta digital lokal yang mumpuni sesuai kebutuhan atau standar perusahaan.

Misalnya ada investor yang berniat mendirikan perusahan software house (pengembang perangkat lunak) yang besar di Denpasar. Namun mereka punya kendala  yakni kekurangan programmer lokal.

Jika perusahaan membawa dan mempekerjakan tenaga kerja asing di Denpasar maka akan timbul masalah baru. Biaya operasional perusahaan akan menjadi lebih mahal sebab tenaga kerjanya dari luar negeri yang tentu digaji lebih mahal dari tenaga kerja lokal.

Selain itu kalau banyak mempekerjakan tenaga kerja asing  maka sama artinya keberadaan dan investasi perusahaan teknologi ini di Kota Denpasar tidak memberikan kontribusi yang besar untuk perekonomian Denpasar dan tidak membuka banyak lapangan kerja untuk SDM lokal.

Baca Juga :
Apresiasi BIN dan Kalangan Media, Wagub Cok Ace Tegaskan Kesehatan Adalah Prioritas Utama Dalam Pemulihan Ekonomi Bali

Karenanya, kata Ngurah Ambara, SDM atau talenta digital lokal ini harus diiapkan dengan baik. Amerta berkomitmen untuk bagaimana kita bersama-sama mencetak talenta digital lokal yang berdaya saing global.

“Minimal bisa mengisi peluang kerja di Denpasar ketika ada perusahaan teknologi yang beroperasi di sini. Jadi kita tidak kalah saing dengan tenaga kerja dari luar,” papar Ngurah Ambara didampingi Calon Wakil Walikota Denpasar Made Bagus Kertha Negara.

Untuk menyiapkan mencetak talenta digital lokal yang berdaya saing global, pemerintah harus punya komitmen serius bersama dunia pendidikan atau perguruan tinggi dan pihak industri (perusahaan teknologi).

Terlebih di Denpasar juga ada beberapa kampus IT yang diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang mumpuni, siap diserap pasar kerja.

“Lulusan kampus IT harus punya skill sesuai kebutuhan dunia industri. Begitu juga perusahaan-perusahaan teknologi harus punya progam untuk membantu peningkatan skill SDM di bidang IT. Pemerintah Kota juga harus hadir dengan progam smart city terintegrasi yang juga menyentuh aspek penyiapan talenta digital,” harap Ngurah Ambara.

Bagi Ngurah Ambara menyiapkan SDM atau talenta lokal mumpuni di bidang IT wajib menjadi perhatian serius untuk menghadapi peluang gempuran tenaga kerja asing di perusahaan teknologi maupun startup yang beroperasi di Indonesia khususnya juga di Bali, Denpasar.

Sebab Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law Cipta Kerja) mengisyaratkan adanya kemudahan bagi pihak pemberi kerja, termasuk startup berbasis teknologi/perusahaan teknologi untuk merekrut tenaga kerja asing.

Ketentuan ini dapat dilihat pada pada Bab IV mengenai Ketenagakerjaan Pasal 42 ayat 3c UU Cipta Kerja.

Pasal 42 berbunyi:
1. Setiap pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja asing wajib memiliki rencana penggunaan tenaga kerja asing yang disahkan oleh Pemerintah Pusat.
2. Pemberi kerja orang perseorangan dilarang mempekerjakan tenaga kerja asing.

Baca Juga :
Kerja di California, bisa bawa anjing ke kantor

3. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi:
(a) Direksi atau komisaris dengan kepemilikan saham tertentu atau pemegang saham sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
(b) Pegawai diplomatik dan konsuler pada kantor perwakilan negara asing; atau,

(c) Tenaga kerja asing yang dibutuhkan oleh pemberi kerja pada jenis kegiatan produksi yang terhenti karena keadaan darurat, vokasi, perusahaan rintisan (start-up) berbasis teknologi, kunjungan bisnis, dan penelitian untuk jangka waktu tertentu.

Patut diakui ketersediaan tenaga kerja dalam negeri yang andal merupakan salah satu tantangan yang dihadapi startup lokal, terutama untuk profesi yang ukup spesifik seperti insinyur teknologi (engineer).

Artikel “Polemik UU Cipta Kerja dan Dampaknya bagi Pekerja Startup) yang dimuat di situs TechInAsia menyebutkan bahwa bila tak kunjung menemukan engineer yang sesuai kebutuhan, tak jarang startup memenuhi kebutuhannya dengan berbagai cara dari luar negeri.

Ini dilakukan seperti merekrut engineer ke Indonesia, menyewa jasa (outsourcing) engineer asing, mempekerjakan secara jarak jauh (remote working), atau bahkan mendirikan pusat penelitian dan pengembangan di luar negeri.

“Jadi kalau kita tidak siap dengan SDM lokal di ranah teknologi untuk mengisi peluang kerja di perusahaan teknologi atau startup teknologi maka bisa saja ada serbuan tenaga kerja asing. Kita tidak mau generasi muda angkatan kerja kita jadi penonton di rumah dan tanah kelahirannya sendiri,” pungkas Ngurah Ambara.

Ingin Denpasar Punya Inkubator Bisnis Terbesar di Asia Tenggara

Mengingat besarnya potensi ekonomi digital saat ini dan ke depan dan banyaknya talenta digital yang akan dibutuh dan diserap sebagai tenaga kerja, Amerta tidak main-main ingin mendukung keberadaan startup (usaha rintisan) berbasis teknologi di Kota Denpasar.

Sebab keberadaan startup ini sangat penting untuk meningkatkan perekonomian Denpasar khususnya di sektor ekonomi digital dan ekonomi kreatif.

Baca Juga :
‎KPU Tabanan Tetapkan 40 Legislatif Terpilih 

Terlebih potensi ekonomi digital di Kota Denpasar sangat besar dan sejalan juga dengan visi Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin menjadikan Indonesia negara dengan perekonomian digital terbesar di Asia Tenggara.

Untuk itu Gede Ngurah Ambara Putra-Made Bagus Kertha Negara (Amerta) jika dipercaya memimpin Denpasar lima tahun ke depan sebagai Walikota dan Wakil Walikota Denpasar Periode 2020-2025 ingin agar Denpasar semakin mampu menguatkan keberadaan startup. Selasa satunya dengan dukungan inkubator bisnis.

“Kami ingin Denpasar punya inkubator bisnis terbesar di Asia Tenggara. Jadi para startup  bisa dibantu untuk tumbuh dan berkembang di inkubator bisnis ini,” kata Calon Wakil Walikota Denpasar Made Bagus Kertha Negara belum lama ini.

Pria yang juga pengusaha ini menjelaskan inkubator bisnis merupakan tempat bisnis startup mematangkan dirinya untuk menghasilkan sesuatu.

Inkubator bisnis biasanya memberikan program kepada pengusaha pemula (early stage) atau startup, yang didesain untuk membina dan mempercepat keberhasilan pengembangan bisnis melalui rangkaian program permodalan yang diikuti oleh dukungan kemitraan atau pembinaan elemen bisnis lainnya.

Inkubator bisnis bertujuan menjadikan startup agar mampu bertransformasi menjadi perusahaan yang profitable, memiliki pengelolaan organisasi dan keuangan yang benar, serta menjadi perusahaan yang sustainable, hingga akhirnya memiliki dampak positif bagi masyarakat.

“Kami lihat startup berbasis teknologi di Denpasar begitu menggeliat. Banyak juga muncul creative hub,” ungkap Bagus Kertha Negara  yang juga Direktur Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pariwisata Kertha Wisata Denpasar ini.

“Jadi ekonomi digital dan berkaitan juga dengan ekonomi kreatif potensinya sangat besar di Denpasar. Ini yang harus didukung dengan inkubator bisnis yang dikelola dengan profesional agar para startup ini dapat dukungan pendampingan baik dari sisi manajemen, keuangan,  akses permodalan ke investor hingga akses, pasar” papar pria yang akrab disapa Sting ini. (dan)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.

xnxxhd xxx18 hdxxxx xnxx hd