Denpasar (Metrobali.com)-

Pemerintah Provinsi Bali mengalokasikan anggaran  Rp 230
miliar untuk desa pakraman (adat) dan subak di seluruh Bali pada tahun
anggaran 2013 mendatang. Anggaran ini juga sudah disetujui DPRD Bali.

“Kami anggarkan dana Rp 230 miliar untuk bantuan seluruh desa pakraman dan
subak di Bali,” ujar Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam sambutannya
pada acara Pemantapan Kapasitas Prajuru Desa Pakraman dan Pemerintahan
Desa se-Bali Tahun 2012 di Gedung Wiswa Sabha Kantor Gubernur Bali Renon
Denpasar, Rabu (5/12).

Dari dana sebesar itu, Rp 148 miliar diperuntukkan untuk desa pakraman
yang jumlahnya mencapai 1.480 tersebar di seluruh kabupaten di Bali.
Masing-masing desa pakraman mendapatkan bantuan Rp 100 juta,  naik Rp 45
juta dibandingkan bantuan tahun sebelumnya masing-masing Rp 55 juta.

Sementara bantuan untuk subak mencapai Rp 81.210.000.000 yang
masing-masing mendapatkan Rp 30 juta, meningkat Rp 10 juta dibandingkan
sebelumnya Rp 20 juta per tahun.

Saat ini di Bali jumlah desa pakraman mencapai 1.480 tersebar di seluruh
wilayah Bali, sedangkan jumlah subak (subak basah/sawah, dan subak
kering/perkebunan) 2.707.

Menurut Gubernur, alasan menaikkan bantuan kepada desa pakraman maupun
subak itu antara lain karena adanya kenaikan kebutuhan di desa pakraman
yang selama ini berperan dalam menjaga adat dan agama, di samping juga
dipengaruhi faktor inflasi. Penyaluran bantuan ini nantinya tidak lagi
dengan sistem hibah tapi dalam bentuk bantuan keuangan khusus.

Gubernur mengatakan, dalam pembangunan daerah Baqli yang berwawasan
budaya, keberadaan desa pakraman bersama lembaga tradisoonal lainnya
sangat strategis dalam melestarikan dan menopang kehidupan tradisional
masyarakat Bali di tengah derasnya arus globalisasi yang membawa
nilai-nilai modern.

Baca Juga :
Wagub Cok Ace Dorong Inovasi Pengembangan Potensi Desa Hadapi New Normal

“Desa pakraman adalah benteng budaya Bali sekaligus pilar penting dalam
partisipasi krama (warga) Bali dalam desa/kelurahan di wilayah
masing-masing untuk mewujudkan tatanan masyarakat dalam hubungan menyama
braya yang hakiki dengan landasan filosofi Tri Hita Karana,” papar Mangku
Pastika. SUR-MB