Jembrana (Metrobali.com)
Banjir bandang sungai Bilukpoh dipicu hujan deras di kawasan hutan menimbulkan musibah. Puluhan KK di Lingkungan Bilukpoh Kangin, Kelurahan Tegalcangkring, Kecanamatan Mendoyo harus mengungsi ke Balai Tempek 5 Banjar Adat Kertasari.
Akibat air sungai Bilukpoh meluap sebanyak 7 rumah warga hanyut beserta isinya. Selain itu arus lalulintas dari dan menuju ke Denpasar lumpuh total. Bahkan menimbulkan antrian panjang kendaraan truk hingga belasan kilometer.
Menurut salah satu warga setempat, Made Cipta Wahyudi banjir bandang Minggu (17/10/2022) malam melebihi banjir bandang sebelumnya. Karena rumahnya yang berjarak sekitar 500 meter dari Jembatan Bilukpoh terkena dampaknya. Bahkan air bercampur lumpur ketinggian lutut orang dewasa memenuhi halaman rumahnya.
Sementara itu Kepala Lingkungan (Kalimg) Bilukpoh Kangin, Kelurahan Tegalcangkring, Komang Suabawa mengatakan dampak dari banjir bandang sungai Bilukpoh sebanyak 71 KK warga Lingkungan Bilukpoh Kangin mengungsi. Dan kemungkinan bisa bertambah karena masih dilakukan pendataan.
Dari 71 KK yang mengungsi kata dia, sebanyak 57 KK atau sekitar 171 jiwa mengungsi ke posko pengungsian di Balai Tempek 5 Kertasari, Lingkungan Bilukpoh Kangin. Sedangkan yang lainnya mengungsi dengan penumpang ke rumah-rumah keluarga.
“Yang mengungsi juga ada anak-anak. Malah ada 4 orang lansia yang terpaksa digendong karena tidak mampu berjalan” ujar Suabawa ditemui di Balai Tempek 5 Kertasari, Senin (17/10/2022).
Menurutnya sejumlah bantuan sudah diterima warga yang mengungsi dari relawan dn Dinas Sosial Kabuoaten Jembrana termasuk untuk makan. Dan lngkungan sendiri sudah mendirikan dapur umum. “Sebenarnya dari Dinas Sosial Jembrana akan membangun dapur umum, tapi karena lingkungan sudah membuatnya, jadi batal” terangnya.
Air disebutnya diketahui mulai meninggi sekitar pukul 19.00 dan puncaknya saat banjir bandang yang mengakibatkan air sungai Bilukpoh meluap sekitar pukul 23.00 Dan air mulai surut pada Senin (17/10/2022) pagi. “Ada satu anak, Komang Adi mengalami luka” imbuhnya.
Sementara Kelian Tempek 5 Kertasari,  Made Suardiasa (51) menuturkan saat terjadinya banjir bandang warga mengungsi ke Balai Banjar dan ke Polsek Mendoyo dengan radius sekitar 700 meter dari Jembatan Bilukpoh.
Disebutnya banjir bandang mengakibatkan air sungai Bilukpoh meluap pada Minggu (16/10/2022) malam merupakan yang ketiga kalinya. Dan juga yang terbesar karena menghanyutkan 7 rumah warga beserta isinya.
“Warga yang mengungsi ini memang rumahnya rusak parah. Tapi ada 7 rumah warga sama isinya hanyut semuanya” terangnya.
Banjir bandang pertama kata dia terjadi pada tahun 1998. Kemudian banjir bandang kedua tahun 2018 dan juga mengakibatkan jembatan Bilukpoh ambruk.
“Ini (banjir bandang) paling besar. Paling parah. Kayunya juga yang  paling banyak. Airnya malah sampai ke pertigaan jalan ke Balai Tempek” tuturnya.
Rumah -rumah warga yang rusak parah menurutnya kebanyakan rumah yang baru dibangun warga pasca kejadian banjir bandang tahun 2018. Bahkan ada yang baru enam bulan lalu di pelaspas.
“Sebenarnya warga ingin melupakan kejadian tahun 2018 lalu. Tapi belum juga lupa, sudah ada kejadian lagi” ungkapnya.
Disinggung banyaknya batang kayu yang berserakan bahkan hingga menutupi jembatan Bilukpoh, ia menduga datang dari atas (hutan). Dan pola penebangan kayu diduga dirubah, bukan ditebang namun dengan cara menyuntikan racun semacam pembasmi rumput sehingga lama-kelamaan pohon akan mati dengan sendirinya.
Pantauan di lokasi, hujan sempat berhenti beberapa jam, namun memasuki sekitar pukul 14.00 hujan deras kembali turun sehingga mengganggu jalanya evakuasi kayu.
Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Sat Pol PP Jembrana juga melakukan pembersihan jalan di Jembatan Bilukpoh dengan cara menyemprotkan air. Sedikitnya sudah tiga tangki air disemprotkan namun jalan tetap berlumpur.
Selain menggunakan alat berat, sejumlah anggota dari Polres Jembrana, Brimob, TNI, SAR dan BPBD Jembrana diterjunkan untuk mempercepat evakuasi (Komang Tole)