Mangupura (Metrobali.com)-

Bertepatan tilem sasih keenem, Kamis (13/12) kemarin Pemerintah Kabupaten Badung melaksanakan Karya Pemahayu Jagat Bumi Suda, Mapahayu Jagat lan Penangluk Merana di Pantai Seseh, Desa Adat Cemagi Mengwi. Karya ini dipuput tiga sulinggih yaitu Ida Pedanda Gde Pemaron Mandala Giri Kesumajati Griya Yang Batu Denpasar, Ida Pedanda Putra Pemaron Griya Sidemen Gulingan dan Ida Pedanda Buda Griya Jadi Kediri Tabanan. Upacara dihadiri Wakil Bupati Badung I Ketut Sudikerta, anggota DPRD Badung I Nyoman Yasa, Ketua TP PKK Kab. Badung Ny. Ratna Gde Agung, Ketua WHDI Badung Ny. Ketut Sudikerta, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kab. Badung Ny. Kompyang R. Swandika, Camat Mengwi, beserta Pimpinan SKPD di Lingkungan Pembkab. Badung, Bendesa Adat, Pekaseh se-Badung.

Kadis Kebudayaan I B. Anom Bhasma usai karya mengatakan, pelaksanaan Karya Pemahayu Jagat lan Mapekelem dilaksanakan sebagai sarana pembersihan jagat raya dari laut dan gunung dimana gunung dan laut merupakan sumber amerta. Rangkaian upacara ini bertujuan untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa agar memberikan anugrah kerahayuan untuk jagat dan agar terhindar dari mara bahaya baik yang berasal dari gunung, laut dan daratan serta sebagai bentuk penebusan dosa.

Karya Pemahayu Jagat lan Mapekelem dilaksanakan setiap satu tahun sekali, adapun sarana mapekelem menggunakan sarana seperti kambing, itik hitam. Mapekelem dilaksanakan Wabup. Sudikerta didampingi DPRD Badung, Kadis Kebudayaan serta tokoh Adat Canggu bersama melarung pekelem ke tengah laut. Adapun upacara pecaruan pemarisuda yang dilakukan di pinggir pantai yaitu pecaruan manca sanak tingkatan madia dengan sarana berupa binatang sapi, kambing, angsa, itik dan babi belang kalung. Rangkaian Karya Bumihayu Jagat dan Penanggluk Merana diawali dengan persembahyangan bersama untuk memohon kelancaran dalam melaksanakan yadnya kemudian dilanjutkan dengan karya mapekelem ditengah pantai Seseh.

Baca Juga :
Jakarta Krisis Lahan Makam

Setelah upacara pemahayu jagat ini, di masing-masing desa adat juga melaksanakan upacara pecaruan di pekarangan rumah masing-masing, di wilayah desa adat termasuk persawahan. GAB-MB