Ilustrasi: Bundir di Jembatan Tukad Badung

 

 

Satu minggu menjelang Purnama di bulan “bersih” sasih Kedasa, 12 April 2025, Purnama Siddhi, Purnama yang bermakna penuh kelimpahan lahir batin, “sekala – niskala”, yang lazimnya telah menjadi tradisi, dengan nuansa, suasana ketenangan, harmoni dalam batin, melahirkan relasi yang “menyembuhkan” dalam hubungan antar manusia. “Dauh ayu” bagi krama, dimana Alam Raya, menjadi tempat terbaik untuk “mesayuban”, keteguhan dan ketenangan pikiran, layaknya sorga di dunia yang maya, dengan segala suka dan dukanya, dalam mengarungi “lautan” hukum Rwa Bhineda.

Tetapi realitasnya, “jauh panggang dari api”, kehidupan yang penuh sesak secara sosial, melahirkan tekanan dan ketegangan batin bagi banyak manusia, yang kurang berdisiplin diri, ditundukkan oleh keinginan yang nyaris tanpa batas, bahkan melakukan pamer keserakahan.

Di sisi lain, ada bagian masyarakat, yang terpinggirkan, merasa kalah, merasa menjadi korban keadaan, mengalami rasa putus asa, dicampakkan oleh lingkungan kehidupan individu, yang memuja benda, dan bahkan “memuja” ketamakan. Realitas Sosial yang menyesakkan ini, melahirkan fenomena menyedihkan, perbuatan “Ulah Pati”, tidak adanya lagi harapan, tamsilnya “terowongan gelap tanpa sinar lilin kecil di ujung trowongan”.

Bagaimana fenomena menyedihkan ini, diurai dari perspektif ilmu sosial?.
Jawaban tentatifnya, menyebut beberapa, masyarakat yang orientasinya patriomonial, vertikal, kehilangan panutan, suri teladan dalam melakoni kehidupan. Akibatnya terjadi anomie, ketidak-jelaskan peran kehidupan, yang menimbulkan anomali, kekacauan sosial. Profesi bukannya dimulyakan, tetapi justru dinafikan dan bahkan dikhianati. Kedua, tradisi yang merupakan kesepakatan sosial, untuk menjawab tantangan zamannya, terlambat diperbaharui, sejalan dengan perubahan “Desa, Kala, Patra”. Akibatnya, bisa terjadi tradisi menjadi beban berlebihan, menekan, bukan membebaskan manusia (libereting people) dalam merespons tantangan zaman. Tradisi dalam masyarakat agararis pertanian, tidak dilakukan perubahan yang berarti dalam masyarakat dengan dominasi industri jasa pariwisata, yang membuat pertemuan budaya, “cultural encounter”nyaris tak terhindarkan. Ketiga, masyarakat mengalami kegugupan budaya, cultural shock, tamsilnya satu kaki masih menginjak tradisi agraris pertanian, kaki lainnya telah melangkah di industri jasa, lengkap dengan kecerdasan buatan. Keempat, dalam masa transisi, proses transformasi sosial, sistem nilai baru belum seluruh terbentuk, nilai lama sebagian mesti ditinggalkan, akibatnya masyarakat gamang merespons disrupsi perubahan. Kelima, kalangan intelektual yang semestinya membawa obor nurani perubahan, mengalami kegamangan yang sama, sehingga ikut terkooptasi dalam anomali sosial yang berlangsung.

Penulis : Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kebudayaan dan kecenderungan masa depan.