Keterangan Foto: Foto mendiang Ida Pedanda Nyoman Temuku semasa hidupnya. 

Gianyar, (Metrobali.com)-
Selepas mengalami sakit kepala berat, Ida Pedanda Nykman Temuku, Griya Cebaang Giri Kusuma, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan lebar (meninggal dunia), Selasa (17/12/2019) saat beliau dilarikan ke Rumah Sakit Sanglah Denpasar.
Mendiang Ida Pedanda Nyoman Temukh ini dikenal sebagai pencetus Wariga Belog yaitu ilmu astronomi kuno yakni ilmu perbintangan, beliau dikenal sangat detail mempelajari ilmu Wariga ini.
Metode Wariga Belog yang beliau cetuskan tidak bermakna “belog” atau bodoh, melainkan suatu akronim dari kata bheviour (tingkah laku), environment (alam/lingkungan) serta logos (harmonisasi prilaku).
Bahkan, karena metode yang beliau kuasai ini tak sedikit penyabat khsusnya di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Gianyar sering “nangkil” (datang ke griya)  untuk memohon petunjuk sebelum mengambil keputusan.
Ida Bagus Kesuma Yuda, yang merupakan adik dari mendiang Ida Pedanda Nyoman Temuku mengungkapkan bahwa diperkirakan beliau lebar dikarenakan mengalami sakit kepala yang berat. Dimana semasa hidupnya ida Pedanda pernah mengatakan bahwa metode wariga belog ini merupakan perhitungan ilmu perbintangan dengan menggunakan matahari sebagai pendanda jara bintang dan bulan, metode ini tentunya sangat rumit dan memerlukan pemikiran yang sangat keras.
Pada, Selasa (17/12/2019) pukul 18.00 wita, mendiang mengalami sakit kepala berat. Lalu dipanggilnya dokter dari Puskesmas Payangan, karena dinilai cukup serius maka pihak puskesmaspun melakukan rujuk ke Rumah Sakit Sanglah Denpasar.
Saat di perjalanan, tepatnya di persimpangan By Pass Tohpati, Denpasar, ambulans sempat berhenti untuk memberikan napas bantuan. Setelah kondisi Ida dinilai cukup membaik, perjalanan ke RSUP Sanglah dilanjutkan.
“Saat tiba di Sanglah, semua dokter ahli sudah siaga, penanganan terbaik sudah diberikan. Mungkin karena sudah umur, akhirnya beliau berpulang, Selasa pukul 20.00 Wita,” ujarnya, Rabu (18/12/2019).
Ida Bagus Kesuma Yuda menjabarkan bahwa Ida Pedanda lebar pada usianya yang ke-71 tahun, pihak keluargapun berusaha tabah menerima kepergian beliau.
“Saat ini, layon sudah berada di griya, untuk prosesi plebon, kami masih menunggu rapat semeton, setelah ada hasil rapat, nanti akan minta petunjuk ke Ida Pedanda Nabe,” ucapnya.
IB Kesuma Yuda mengungkap, selama hidupnya Ida Pedanda dikenal sebagai orang yang tidak bisa mengungkapkan isi perasaan. Ketika beliau tidak suka pada satu hal, beliau memilih diam. Karena itulah, tidak ada satupun yang mengetahui, apakah beliau mengalami sakit kepala karena kelelahan, atau ada faktor lain.
“Setiap hari selalu ada penangkilan, kemungkinan beliau capek. Beliau memang tidak pernah mengeluh, kalau tidak suka pada sesuatu, beliau tidak utarakan, beliau lebih memilih diam agar tidak mengecewakan atau agar tidak membuat tidak enak perasaan orang,” beber IB Kesuma Yuda. (cat).
Baca Juga :
Wagub Sudikerta Dukung Pameran Seni Sebagai Upaya Pelestarian Budaya Bali