Opini : Agama Tidak Diperlukan Lagi Bagi Mereka yang Perutnya Lapar

Metro Bali
single-image

Ilustrasi

Oleh : I Gde Sudibya

Pelatihan kewirausahaan untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi umat Hindu, begitu penting. Mari kita simak ucapan tokoh Hindu dunia di bawah ini.

“Agama tidak diperlukan bagi mereka yang perutnya lapar”. ( Svami Vivekananda, dalam rangkaian ceramahnya di beberapa kota di AS, pasca menghadiri Konferensi Agama-Agama Se Dunia di Chicago, 128 tahun yang lalu ).

Jika kita perhatikan fenomena saat ini, setelah setahun pandemik Covid-19 di Indonesia, keadaan dan kehidupan rakyat berubah terutama di Bali. Warga Bali sangat terpukul dengan situasi pandemi ini yang berpengaruh terhadap menggeliatnya sektor pariwisata.

Banyak orang Bali saat ini limbung. Untuk kehidupan sehari hari saja mereka sudah susah. Beban hidup semakin berat. Tingkat setres warga semakin tinggi dan kejahatan semakin meningkat serta kemiskinan terus meningkat. Saat keadaan seperti itu, warga tidak lagi perlu himbauan dan aturan. Yang diperlukan masyarakat agar dibukanya aktivitas ekonomi. Pemerintua membuka Bandara tentu dengan aturan prokes yang ketat.

” Persepsi tentang Tuhan bagi orang-orang miskin yang nyaris kelaparan, hanya sebatas niat baik yang dianggap ada pada orang yang memberikannya sepotong roti, sehingga hari itu, mereka tidak jadi kelaparan”. (Korespondensi Mahatma Gandhi dgn. Rabinthranath Tagore).

Implisit dan ekspilisit, tetua Bali telah menjawabnya, melalui pengembangan ethos kerja tangguh, untuk tidak terjerembab dalam kemiskinan kultural dan struktural.

Kemiskinan kultural yakni kemiskinan yang lahir dari budaya yang sangat permisif terhadap: kemalasan, kebodohan, ketidak-disiplinan dan ketakutan mengambil risiko kehidupan.

Kemiskinan struktural, kemiskinan yang lahir dari struktur ekonomi dan politik yang tidak adil, sehingga orang miskin menjadi sangat sulit menaikkan derajat ekonominya.

Tradisi Desa Pakraman yang mandiri, yang sangat tampak di Desa-desa Bali Pegunungan, yang lekat dengan tradisi Bali Mula, menghindarkan diri dari kooptasi kekuasaan, kekuasaan yang cendrung korup, yang kemudian melahirkan kemiskinan struktural. Tetua Bali, telah menyadari jebakan ini, untuk tidak dimasuki oleh fenomena ketergantungan pada penguasa dan melahirkan kemiskinan strutural bagi mereka.

Baca Juga :
Pengamat : Peternakan di Bali Punya Peluang Menjanjikan

Untuk menghindari jebakan kemiskinan di satu pihak, dan penyelenggaraan kehidupan keagamaan yang abstrak dan mengawang-awang, mengukir langit rokhani ( meminjam istilah seorang sastrawan ), tetua Bali mengajarkan jalan tengah kehidupan, madya maka, keseimbangan antara gerak sekala dan laku niskala.

Sebagaimana digambarkan dengan sangat baik dalam karya kidung Sucita-Subudi, oleh Ida Kade Alit  dari Griya Banjar, Seririt, Buleleng: Ne sakala lan niskala, Atepang mangden mamesik, Reh jati palinggan tunggal, Hyang Wisesa ngeraganin, Da malasang di hati, Tingkahe nibakang unduk, Tri Kayane patut jalanang, Ke Niskala mangden pasti, Mudra iku tikasang pareh ring Hyang.

I Gde Sudibya, penulis asal Buleleng.

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.

xnxxhd xxx18 hdxxxx xnxx hd