Bangunan baru yang disebut sebut sebagai bencingah agung. Benarkah ini. Dasar sastranya apa. Sementara keberadaan dan bangunan Pura Besakih masing masing telah berdasarkan sastra.

Karangasem, (Metrobali.com)-

Dimana disebut perempatan agung dan apa yang disebut patung padma bhuwana? Apakah yang dimaksud Bencingah Agung, apakah patung ini sebatas ornamen tontonan bagi para turis, atau simbol baru bangunan suci untuk mebhakti?

“Sejumlah pertanyaan yang mesti dijawab sebelum kerusakan kosmos Pura Besakih yang semakin kacau,” hal itu dikatakan Ketua Forum Penyadaran Dharma Jro Gde Sudibya, Senin, 6 Maret 2023.

Dikatakan, kalau bangunan suci baru apa dasar sastranya? Bukankah ring “jejer kemiri pura” sudah ada jejer kemiri pura, Catur Loka Pala: di Timur Pura Gelap pemujaan Tuhan Iswara, di Selatan Pura Kiduling Kreteg pemujaan Tuhan Brahma, di Barat Pura Ulun Kulkul pemujaan Tuhan Mahadewa, di Utara Pura Batu Ngadeg pemujaan Tuhan Wisnu, dan di Tengah Pura Penataran Agung pemujaan Tuhan Ciwa dan juga Tuhan Swayambu?

Jika patung ini pelinggih baru, kata dia berapa jaraknya dengan kompleks pertokoan yang baru dibangun, untuk memastikan asta kosali-kosali diikuti dengan taat asas?

“Jika patung ini sebatas ornamen “bebungahan” bagi para turis, timbul pertannyaan, apakah layak ring uluning jejer kemiri Pura: Manik Mas, Ulun Kulkul, Bangun Cakti, Goa Raja, Rambut Sadhana dibangun “bebungahan” tsb.?,” tanya Jro Gde Sudibya.

Jro Gde Sudibya mengatakan, hal- hal tersebut di atas yang patut dijelaskan oleh panitia, karena Besakih merupakan tempat suci umat “sejebag” Bali, Monumen Peradaban Bali Berbasis Spiritualitas, bukan milik orang per orang dan atau kelompok yang bisa mengatur semaunya sendiri? (SUT-MB)