Oleh : Tri Ayuning S

 

Seabrek kerusakan moral yang melanda remaja negeri ini tidak lepas dari permasalahan dunia pendidikan yang sistemis. Beberapa alasan yang menjadikan pendidikan di negeri ini telah gagal salah satunya adalah kesalahan dalam persepsi Sebagian besar orang terhadap profesi guru. Tak dipungkiri mengajar adalah sebuah profesi dengan penghasilan yang rendah,  faktanya sebagian besar diantara mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki kesempatan dalam peluang karir yang mendatangkan finansial yang besar sehingga akhirnya tertarik memilih profesi sebagai guru. Sehingga jalur ini dipenuhi oleh orang orang dengan kualifikasi dan skill yang tidak memadai mengajarkan ilmu. Persyaratan untuk profesi mengajar seharusnya hanya membolehkan orang-orang yang paling mampu untuk bertanggungjawab mengajarkan ilmu pengetahuan di setiap bidang.  Seorang Guru haruslah memiliki pengetahuan yang luas dan meliputi segala hal. Sehingga untuk peran mengajar, minimal dibutuhkan orang-orang yang tertarik membaca dan meneliti, mereka akan sangat bersemangat terhadap pekerjaannya. Jika tidak ada proses skrining untuk memilih orang-orang yang tepat, seluruh sistem pendidikan gagal, seperti yang bisa kita lihat. Ketika guru kurang pengetahuan dalam bidang mereka, mereka tidak mampu menjelaskan konsep kepada murid. Hal ini melahirkan sistem yang bersandar pada pembelajaran hafalan teks hingga siswa lulus ujian, dan hanya untuk memberikan penampakan luar tentang keberadaan pendidikan namun sesungguhnya tidak ada. Para guru tidak mampu memahami dan menjelaskan apa yang ada di dalam buku pelajaran. Mereka mendorong para siswa untuk menghafal kalimat-kalimat dan contoh-contoh yang sudah dipecahkan. Untuk itu kita akan selalu melihat sejumlah angkatan murid yang memiliki gelar tetapi tidak memiliki skill.Untuk menjadi pengajar, yang dipelajari tentu bukan hanya teknik mengajar yang baik, namun juga perlu diperhatikan dan dicermati nilai-nilai yang menjadi pijakan kurikulum yang sarat dengan arah pandang negara-negara barat yang liberal.

 

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meresmikan modul pembelajaran Islam damai untuk siswa sekolah umum yang terdiri dari SD, SMP, SMA dan SMK. “Modul ini modul pelatihan agar bagaimana nanti guru-guru Pendidikan Agama Islam (PAI) mempunyai paradigma yang sama terkait substansi materi ajar dan metodologi penyampaiannya,” kata Menag Lukman Hakim, Selasa (11/8) saat peluncuran modul tersebut di Asrama Haji Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat.Lukman mengatakan pembuatan modul ini merupakan cara untuk merespon kebutuhan akan keluaran pendidikan yang bersifat Islam damai. Modul, kata Lukman, juga dapat menjadi cara pemerintah untuk menanggulangi potensi ajaran kekerasan atau radikalisme di lingkungan institusi pendidikan, seperti di sekolah umum.

 

Namun sayang, muatan modul pembelajaran tersebut merupakan  upaya pengaburan bahkan penyesatan ajaran Islam melalui program deradikalisasi. Bagaimana mungkin pemahaman anak anak muslim terhadap agamanya akan baik bila yang diajarkan adalah nilai nilai universal kebebasan yang diberi label HAM. Pemahaman tentang toleransi yang kebablasan, hukum jihad, hudud dan khilafah yang disalahtafsirkan. Seperti diungkapkan pihak Kementerian Agama, program ini sudah diawali dengan pengiriman  40-an guru-guru agama pilihan dari berbagai kota untuk mendapatkan pelatihan metode pengajaran agama yang menarik dari Oxford University Inggris. Ini yang perlu digarisbawahi,  yang dipelajari tentu bukan hanya teknik mengajar yang baik, namun juga nilai-nilai yang menjadi pijakan kurikulum di negara-negara barat yang liberal. Bukan hanya itu mereka juga mengunjungi gereja, museum dan sekolah-sekolah agama di Inggris agar bisa menyaksikan betapa ‘baik’ peradaban Barat.

Ini jelas pembaratan, meracuni pendidik-pendidik Muslim agar ramah terhadap nilai Barat bahkan mengunggulkan peradaban Barat yang rusak. Inilah yangditunjukkan oleh pemerintah sebuah upaya sistematis menjauhkan umat Islam dan generasi penerusnya dari kebangkitan Islam. Mengarahkannya menjadi generasi pembebek budaya Barat yang akan membiarkan terus bercokolnya penjajahan politik dan ekonomi negara-negara barat atas negeri ini. Padahal semestinya pelajaran agama bisa menumbuhkan kebanggaan terhadap nilai Islam, kecintaan terhadap Islam dan perjuangan atas seluruh syariat. Juga secara pasti melahirkan semangat perlawanan atas segala bentuk penindasan dan penjajahan yangtelah dilakukan oleh barat dalam agenda neoimperealismenya yang telah memakan korban jutaan ras,suku dan agama rakyat negeri yang telah lama hidup dalam kesenjangan sosial dan kemiskinan yang berkepanjangan. RED-MB