Kerthamasa : Regenerasi Petani dan Adaptasi Perubahan Iklim
Di wilayah Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan Bali, khususnya di wilayah Subak Aya, warga subak masih meyakini pola tanam padi dengan sistem “kerthamasa” yaitu pola penanaman padi yang merujuk pada kalender musim yang diyakini turun temurun.
Kalender musim tersebut bukan sekedar gugon towon, apalagi sesuatu yang “mistis”. Kerthamasa boleh dikatakan sebagai tatanan budaya yang terangkum dari proses interaksi panjang ketika manusia hidup bersama alam. Kerthamasa pun adalah pengetahuan yang terintegrasi antara berbagai faktor baik potensi alam, SDM maupun sistem sosial yang ada di masyarakat pertanian khususnya padi sawah.
Oleh masyarakat petani/subak, ketiga unsur tersebut diatas diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang bisa kita lihat dan rasakan dalam tatanan budaya Bali, menyentuh wilayah spirit parahyangan (keyakinan), palemahan (wilayah) dan pawongan (manusia) yang selanjutnya tersinkretisasi dalam sistem “budaya subak”. Dibarengi dengan aktivitas positif (Sad Kertih) akhirnya terwujud “harmoni” atau populer dengan sebutan “Tri Hita Karana”.
Kerthamasa di wilayah subak Aya I, musim tanam pertama dimulai pada bulan Januari dengan menanam jenis “Padi Taun” (padi bali/padi lokal), selanjutnya musim penanaman kedua dimulai pada bulan agustus. Diantara kedua musim tanam tersebut petani biasanya menanam palawija. Jika tidak menanam palawija petani akan melanjutkan penanaman padi lokal jenis lain yaitu “padi cicih”, yaitu padi lokal yang umurnya lebih pendek, dimulai sekitar bulan juni.
Kata “mulai” (ngawit) dalam musim tanam tersebut artinya awal proses aktivitas tanam berikutnya, biasanya ditandai oleh upacara suci, menghaturkan sesajen sebagai “simbul” (bahasa) untuk mempermaklumkan sekaligus memohonkan kepada Sang Pencipta agar apa yang diniatkan dan akan dikerjakan mendapatkan petunjuk dan diberikan jalan yang benar lahir dan batin (skala-niskala).
Jika pembenihan (ngawit/ngawiwit/ngurit) dimulai, artinya seluruh tahapan dan rencana kerja berikutnya di sawah sudah ditetapkan dan harus dilaksanakan. Setiap tahapan secara otomatis merupakan kepastian, tidak saja dalam wilayah teknis, tetapi juga dalam hal upacara, semuanya berhubungan dengan kalender waktu (pedewasaan).
Lalu bagaimana budaya dan keyakinan kerthamasa tersebut kini? Ternyata dilapangan dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, banyak tantangan membuat tatanan kerthamasa (khususnya pola tanam padi) tidak bisa dijalankan dan berjalan secara optimal antara lain : Pertama, faktor kebijakan, awal tahun 1970-an pemerintah melaksanakan program revolusi hijau, petani dianjurkan untuk menanam padi jenis baru. Perubahan varietas padi secara langsung merubah pola tanaman dan pola kerja petani di sawah.
Kedua: pernah, karena adanya pembangunan proyek saluran irigasi, membuat saluran air ditutup apalagi jadwal pelaksanaan proyek irigasi tidak sesuai dengan jadwal tanam. Hal ini membuat debit air menurun sehingga tidak bisa melakukan penanaman padi sesuai tatanan kerthamasa. Ketiga, perubahan debit air di kawasan hulu yang sempat berkurang karena sebagian dimanfaatkan oleh PDAM untuk kebutuhan air bersih, hal ini membuat pola tanam berubah seiring perubahan alir dan debit air.
Keempat; petani sebagian besar sudah usia lanjut, hal ini menyebabkan petani tidak mampu lagi “metekap” atau mengoperasikan traktor. Kini petani usia lanjut, memelihara sapi tujuannya hanya penggemukan atau untuk memperoleh anakan atau kotorannya saja untuk pupuk. Dengan demikian sapi-sapi yang dipelihara oleh petani jarang dilatih membajak sehingga tidak mungkin digunakan untuk membajak. Demikian juga traktor, dibeberapa wilayah karena minimnya petani usia muda (regenerasi) berdampak terjadi “krisis sopir traktor”, kalaupun ada banyak yang berasal dari luar Bali. Petani usia lanjut sudah tidak kuat lagi mengoperasikan traktor. Hal ini membuat petani sangat tergantung dengan penyedia jasa traktor. Dampaknya sering kali jadwal pengolahan lahan bergeser dan bahkan sering terlambat.
Bagi petani kerthamasa adalah pola pertanian selaras alam, petani paham bahwa adanya perubahan “sudut” antara posisi bumi (pertiwi) dengan matahari (surya) akan berpengaruh nyata terhadap kelembaban udara dan berpengaruh juga terhadap pertumbuhan tananaman padi. Pengetahuan mengenai dampak dari perubahan konfigurasi tata surya itulah, maka petani senantiasa berusaha mengikuti pola tanam pada bulan-bulan yang diyakini memberi hasil yang terbaik.
Belakangan semuanya menjadi lebih sulit di prediksi karena terjadi perubahan cuaca yang ektrim. Biasanya petani lebih banyak merasakan dari pada mewacanakan, isu-isu perubahan iklim dan pemanasan global pun seperti bagian dari hidupnya. Yang jelas petani di wilayah Penebel selalu setia merasakan dan terus berusaha beradaptasi dengan perubahan iklim global, dimana tatanan kerthamasa yang diyakini merupakan salah satu indikator atau barometernya. (*).
Oleh : Made Nurbawa (Tabanan, 11 Agustus 2016)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.