Denpasar  (Metrobali.com)-
Sebanyak 50 jukung layar tradisional dari lima kelompok  nelayan pesisir pantai Sanur ikut memeriahkan  agenda Sanur Village Festival  7 (SVF), Sabtu (29/9) di pantai Segara Sanur. Para nelayan dari kelompok Dewi Santayojana Gandi ini tampak antusias mengikuti lomba jukung tradisional yang dibuka Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Made Mudra  mewakili Walikota Denpasar. Pada pelepasan limba ini, Mudra didampingi Ketua Yayasan Pembangunan Sanur I.B Sidharta dan Ketua Dewan Pembina YPS IB. Gde Udiyana.  I.B. Sidharta yang ditemui disela-sela acara lomba  mengatakan, kegiatan ini digelar untuk memeriahkan hajatan Sanur Village Festival.
Lomba ini digelar menurut Sidharta guna mempertahankan tradisi budaya masyarakat setempat, dimana sebagai warga masyarakat pesisir, kehidupan di tengah laut dan pantai sangat identik dengan keberadaan jukung sebagai alat untuk berlayar menangkap ikan. “Tetapi seiiring dengan perkembangan kepariwisataan di Sanur, hampir sebagian besar para nelayan beralih profesi, dimana dulunya jukung dipakai sarana untuk mencari ikan, tetapi sekarang jukung tradisional yang dimiliki nelayan Sanur digunakan untuk melayani para wisatawan baik domestik maupun asing untuk menikmati keindahan panorama pantai sanur dan sekitarnya,” kata Sidharta.
Budaya jukung ini harus terus dilestarikan untuk kepentingan anak cucu kita, mengingat dijaman yang canggih seperti sekarang ini nelayan tradisional Sanur masih menggunakan jukung tradisional. “Karena masih lestarinya jukung tradisional di Sanur keberadaanya sangat mendukung pengembangan obyek pariwisata di Sanur.  Sekarang nelayan berubah profesi dari menangkap ikan menjadi menjaring wisatawan,” ujar I.B Sidharta sambil tersenyum lebar. Selebihnya dia mengatakan  keterlibatan para bendega ini merupakan bagian dari komunitas Sanur yang dikenal dengan kehidupan nelayan.  “Obyek wisata Sanur sebagai destinasi wisata tertua tak lepas dari kehidupan masyarakat Desa Sanur sebagai nelayan.
Sementara Ketua Panitia Lomba Jukung Tradisional Wayan Jelantik mengatakan  Nelayan Jukung layar tradisional ini telah memiliki organisasi yang sudah dibentuk tahun 1997 silam. Dalam lomba jukung ini menempuh jarak 3 km dan 15 km.
Selain  disaksikan masyarakat lokal lomba jukung ini juga mendapat perhatian yang antusias dari wisatawan mancanegara dan nusantara yang sedang berlibur di Pulau Dewata menyempatkan diri untuk menyaksikan parade jukung atau perahu tradisional,.
John Michael  wisatawan asal Australia di Sanur mengungkapkan kekagumannya dapat menyaksikan parade jukung yang dilakukan oleh kelompok nelayan Desa Sanur.
“Saya merasa senang dan kagum menyaksikan parade jukung tersebut, karena untuk dapat menonton atraksi itu harus menunggu waktu setahun lagi,” ucap lelaki  yang senang dengan kegiatan budaya ini. DEWA-MB
Baca Juga :
Trans Sarbagita Gratis Tiga Bulan