Wujudkan Smart City Berbudaya dan Berdaya Saing, Amerta Ingin Genjot Kualitas dan Karakter SDM Lebih Responsif

Metro Bali
single-image

Foto: Calon Walikota Denpasar Gede Ngurah Ambara Putra (tengah) bersama para pembicara usai Webinar bersama Relawan Amerta.

Denpasar (Metrobali.com)-

Pasangan Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota Denpasar, Gede Ngurah Ambara Putra-Made Bagus Kertha Negara (Paket Amerta) merangkul dan menggali aspirasi serta masukan semua pihak untuk bersama-sama ikut berkontribusi membangun dan memajukan Denpasar.

Hal ini juga dilakukan salah satunya dengan menggelar Webinar secara virtual bersama Relawan Amerta di Rumah Pembaharuan Amerta/Rumah Jalan Tulip Nomor 15 Denpasar, Kamis (25/9/2020).

Webinar menghadirkan sejumlah pembicara dari kalangan akademisi seperti Dosen Universitas Dhyana Pura (Undhira) Dr. I Wayan Ruspendi Junaedi dan Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Warmadewa, Dr. Gede Wardana. Webinar dibuka langsung Calon Walikota Denpasar Gede Ngurah Ambara Putra.

Untuk diketahui visi Amerta yang mendapatkan nomor urut 2 pada Pilkada/Pilwali Denpasar 2020 yakni membangun Denpasar yang Berseri (Bersih, Sejahtera dan Indah) Berlandaskan Falsafah Tri Hita Karana.

Visi ini ditunjang dua misi utama. Pertama , mewujudkan masyarakat Denpasar yang berbudaya, adil, inovatif dan sejahtera. Kedua, mewujudkan Denpasar sebagai salah satu Smart City berdaya saing di Indonesia.

Ambara mengatakan, keberadaan smart city di Denpasar perlu memberikan dukungan kepada sumber daya manusia. “Alatnya sudah tapi kan karakter sumber daya manusianya ke depan supaya lebih positif, responsif. Bagaiamana semua itu agar berdaya saing,” jelasnya.

Dirinya mengatakan, bahwa smart city di Denpasar sebenarnya sudah berjalan, namun masih ada kelemahan-kelemahan sehingga masih perlu pembaharuan. Dengan begitu, keberadaan smart city yang ada di Kota Denpasar jalannya bisa lebih cepat dan resposif.

Paket Amerta yang diusung koalisi Golkar, Demokrat dan NasDem memang menjadikan program smart city yang berdaya saing dan berbudaya sebagai program unggulan.

Baca Juga :
Menyebut Teman Sebagai Jro Mangku ‘Neraka’, Ditebas Dengan Pedang dan Arit

Menurut Ambara, smart city yang berbudaya berarti mampu memberikan yang terbaik kepada masyarakat. Selain mampu, smart city juga harus berdaya saing sehingga bisa menjadi harapan bagi masyarakat.

Dikatakan keberadaan smart city ini akan terintegrasi satu sama lain, salah satunya dalam upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Denpasar.

“Dengan adanya peningkatan PAD di Kota Denpasar, maka lebih banyak lagi yang bisa dibagikan kepada masyarakat sehingga kesejahterannya meningkat,” katanya lantas menambahkan pembagian PAD ini dilakukan dengan berbagai stimulus dalam upaya meningkatkan ekonomi.

Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Warmadewa Dr. Gede Wardana berharap kepada Amerta agar nantinya ketika memimpin Denpsar dunia pendidikan bisa melahirkan keunggulan koperatif dan kompetitif.

“Keunggulan kecerdasaran, berinovasi. Jadi hal itu harus terus dilakukan. Dalam dunia pendidikan peranan sangat besar,” kata dia.

Di sektor pendidikan juga terdapat persoalan teknologi, baik dari TK, SMP, SMA maupun perguruan tinggi, Di tengah pandemi Covid-19 ada peluang bagi masyarakat untuk belajar IT.

“Jadi tantangan ini (Covid-19) harus dijadikan peluang,” kata dia. “Intinya penguatan SDM dari TK sampai perguruan tinggi yang betul-betul meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” tegasnya.

Dosen Universitas Dhyana Pura (Undhira) Dr. I Wayan Ruspendi Junaedi mengungkapkan daya saing Denpasar sebagai smart city memang harus terus ditingkatkan.

“Dalam smart city itu hanya ada tiga hal yang harus diperhatikan yakni masalah (problem), pembuatan keputusan (decision maker) dan pemecahan masalah (problem solving),” katanya menjabarkan secara konseptual.

Smart city di Denpasar harus mampu memperkuat penguasan dan penerapan dan penemuan berbagai teknologi baru. “Siapa yang menguasai teknologi dia yang menang, dengan dibarengi oleh 7 karakter,” kata Ruspendi.

Baca Juga :
3 Saksi Penelantaran Anak, Jalani 11 Reka Adegan

Ketujuh karakter tersebut yakni percaya diri, integritas (kejujuran, transparansi), keberagman (banyak pendatang), kewirausahaan (entreprenuership dengan mentoring, pendampingan, pelatihan start up pengusaha muda yang ingin berbisnis), pemimpin yang melayani, profesional, globaly (mendunia) serta layanan pengaduan masyarakat berbasis teknologi informasi. (dan)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.