Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Warganet Serukan Copot Aplikasi Grab, Usai Indonesia Dicibir Negara Miskin di Malaysia

Metro Bali
single-image

Foto: Warganet serukan uninstall aplikasi Grab dan usir Grab dari Indonesia.

Jakarta (Metrobali.com)-

Tagar (tanda pagar) #UsirGrab dan #UninstallGrab mulai ramai dibicarakan warganet sejak muncunya penolakan dari pendiri Big Blue Taxi Malaysia Shamsubahrain Ismail terhadap kehadiran GoJek di Malaysia.

Tagar tersebut menggema karena perusahaan ride hailing pesaing Gojek itu memang didirikan di Malaysia dan di miliki  Anthony Tan, pria kaya yang juga berasal dari Malaysia.

Salah satu warganet @digebuk mengungkapkan kekesalannya karena tidak terima Indonesia disebut sebagai negara miskin.

“Sedih ya, dibilang negara miskin. Padahal buat Grab, Indonesia pasar paling besar loh. Giliran yang bagus2 semua diakui punya Malaysia  #usirgrabdariIndonesia #UninstallGrab biar aja @gojekindonesia yg kuasai pasar ojol Indonesia” cuitnya.

Akun @GuritnaPramana bahkan menilai bahwa pekerjaan menjadi driver ojol bukanlah pekerjaan yang patut dihina.

“Jadi Driver itu bukan pekerjaan Bodoh, tapi lebih mulia daripada mengerjakan sesuatu yang tidak halal. Ayo ramaikan hastag #usirgrabdariIndonesia. Biarkan karya-karya anak bangsa aja yang beroperasi di Indonesia,” cuitnya.

Pengamat Ekonomi asal Medan, Gunawan Benyamin menilai aksi seruan boikot Grab dari warganet Indonesia adalah hal yang wajar. Masyarakat Indonesia hanya memberikan respon rasional atas ucapan pelecehan dari pendiri taksi Malaysia.

“Kalau untuk sebutan miskin, ini relatif ya. Seorang freshgraduate di indonesia yang digaji sekitar Rp6 juta per bulan, ini daya belinya nggak jauh berbeda dengan freshgraduate di Eropa yang digaji Rp80 jutaan,” ungkapnya.

Jadi tolak ukurnya itu ada. Di Singapura orang berpendapat dikatakan menengah ke atas jika punya gaji di atas 4000 SGD, sekitar Rp40 jutaan ke atas.

“Kita nggak perlu sampai segitu, cukup gaji di atas Rp4 juta, alhamdulillah udah bisa menikmati hidup. Karena memang biaya hidup di Singapura maupun Malaysia memang jauh lebih mahal,” ucapnya.

Baca Juga :
Desa Adat Jenah di Evaluasi Tim Sabha Upadesa Kota Denpasar

“Roda ekonomi itu berputar, lihat China hari ini dan bandingkan 40 tahun lalu. Jadi tidak ada kata lain selain kita support Gojek untuk go internasional. Ini produk nasional yang go internasional,” tandasnya. (dan)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.