Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Wall Street Turun di Tengah Meningkatnya Kecemasan Pertumbuhan

Metro Bali
single-image
Traders work on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York, U.S., January 29, 2019. REUTERS/Brendan McDermid (Reuters)

New York, (Metrobali.com)-

Saham-saham di Wall Street berakhir lebih rendah pada perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena pasar tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan ekonomi AS dan memburuknya gesekan perdagangan Amerika Serikat-China.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 391,00 poin atau 1,49 persen, menjadi ditutup di 25.896,44 poin. Indeks S&P 500 turun 35,96 poin atau 1,23 persen, menjadi berakhir di 2.882.70 poin. Indeks Komposit Nasdaq turun 95,73 poin atau 1,20 persen, menjadi ditutup di 7.863,41 poin.

Semua dari 11 sektor utama S&P 500 diperdagangkan lebih rendah di sekitar penutupan pasar, dengan sektor keuangan turun lebih dari 1,9 persen, memimpin kerugian.

Saham Occidental Petroleum turun lebih dari 4,5 persen, setelah perusahaan penasehat investasi Evercore menilai bahwa akuisisi raksasa energi AS itu terhadap Anadarko Petroleum menyebabkan penilaian Occidental Petroleum menurun.

Imbal hasil surat utang jangka panjang dan pendek AS jatuh pada Senin (12/8/2019), dengan patokan imbal hasil obligasi 10-tahun turun sedikit di atas 1,64 persen setelah penutupan pasar. Itu memperlebar selisih dengan imbal hasil surat utang tiga bulan, yang mencapai hampir 1,99 persen, sehingga membentuk kurva terbalik dan memicu kekhawatiran akan potensi resesi.

Indeks Volatilitas CBOE, yang secara luas dianggap sebagai pengukur ketakutan terbaik di pasar saham, meningkat 17,36 persen menjadi 21,09 pada Senin (12/8/2019).

Goldman Sachs juga mengurangi perkiraan pertumbuhan untuk kuartal keempat sebesar 20 basis poin menjadi 1,8 persen, karena bank investasi terkemuka itu menaikkan “perkiraan dampak pertumbuhan perang perdagangan,” kata Jan Hatzius, kepala ekonom bank, dalam catatan pada Minggu (11/8/2019).

Baca Juga :
Made Arjaya Terpental dari Daftar Calon Sementara PDIP Bali

“Pendorong perubahan moderat ini adalah bahwa kami sekarang memasukkan perkiraan dampak sentimen dan ketidakpastian dan bahwa pasar keuangan telah menanggapi terutama berita perdagangan baru-baru ini,” kata Hatzius. (Antara)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.