Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Upacara Tingkat Utama, Di-“puput” Tujuh Sulinggih

Metro Bali
single-image

Rejang Dewa/ist

Karya “Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Desa Pakraman Kusamba “

Klungkung (Metrobali.com)-

Menyusul telah rampungnya perluasan areal pura dan perbaikan palinggih di Pura Puseh lan Bale Agung, Desa Pakraman Kusamba menggelar Karya Mamungkah, Tawur Labuh Gentuh, Pedanan lan Ngenteg Linggih. Upacara yang tergolong tingkatan utama ini puncaknya dilaksanakan bertepatan dengan pujawali di Pura Puseh-Bale Agung pada Buda Wage Ukir, Rabu, 4 April 2018 mendatang. Seluruh rangkaian upacara di-puput tujuh orang sulinggih dengan yajamana karya, Ida Pedanda Gde Putra Tembau dari Gria Aaan, Klungkung.

Serangkaian karya, Kamis, 29 Maret 2018 dilaksanakan upacara tawur labuh gentuh, mendem padagingan, mlaspas agung, masupati pralingga, caru manca sanak madurga dan caru manca sata. Pjs. Bupati Klungkung diwakili Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Sekretariat Kabupaten Klungkung, I Wayan Winata, anggota DPRD Klungkung dari daerah pemilihan Kecamatan Dawan, Camat Dawan, Kapolsek Dawan, Danramil Dawan, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Majelis Desa Pakraman serta para bendesa desa pakraman se-Kecamatan Dawan. Panglingsir Puri Klungkung, Ida Dalem Semaraputra dan panglingsir Puri Kusamba juga turut hadir menyaksikan upacara yang di-puput tiga orang sulinggih.

Bendesa Desa Pakraman Kusamba, AA Gede Raka Swastika mengungkapkan digelarnya karya mamungkah ini dilatarbelakangi oleh dua hal. Pertama, telah selesainya perluasan areal pura serta rampungnya perbaikan berbagai palinggih di Pura Puseh-Bale Agung. Kedua, petunjuk sastra agama dan tuntunan sulinggih yang menyebutkan dalam rentang waktu 25 tahun, di sebuah pura atau parahyangan mesti dilaksanakan kembali karya mamungkah ngenteg linggih sebagai upaya penyucian kembali. Karya mamungkah di Pura Puseh lan Bale Agung terakhir dilaksanakan tahun 1993. “Tahun 2018 ini sudah waktunya kami menggelar upacara serupa,” kata Raka Swastika.

Baca Juga :
Gempa bumi 4,4 SR guncang Manggarai

Ketua Panitia Karya, I Nengah Sumarnaya menjelaskan anggaran karya senilai Rp 1,5 miliar bersumber dari swadaya krama berupa urunan 978 krama adat serta sumber-sumber pendanaan lain, seperti keuntungan LPD Desa Pakraman Kusamba senilai Rp 180 juta, bantuan keuangan khusus (BKK) dari Pemerintah Kabupaten Klungkung Rp 15 juta, BKK dari Pemerintah Provinsi Bali Rp 225 juta serta punia dari krama adat Rp 102 juta.

Yang membanggakan, wewalungan (hewan upacara) serta sejumlah sarana upakara juga berasal dari punia krama. “Ini menunjukkan tingginya partisipasi krama,” kata Sumarnaya seraya menyampaikan terima kasih atas partisipasi dan ayah-ayahan krama adat lanang lan istri, termasuk sekaa teruna (ST) serta dukungan berbagai pihak terkait.

Raka Swastika dan Sumarnaya berharap seluruh rangkaian karya berjalan lancar sesuai harapan seluruh krama. Karena itu, keduanya mengajak seluruh krama Desa Pakraman Kusamba melaksanakan yasa kerti dalam wujud ayah-ayahan, upacara serta menjaga perilaku yang baik dan suci selama karya berlangsung.

Pjs. Bupati Klungkung, I Wayan Sugiada dalam sambutannya yang dibacakan Kabag Kesra, I Wayan Winata menyatakan upacara ini sangat penting karena sebagai memiliki tujuan mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di desa pakraman secara sekala dan niskala. Pjs. Bupati Klungkung berharap upacara ini bisa menjadi landasan kuat untuk melaksanakan swadharmaning negara berdasarkan swadharmaning agama sesuai tuntunan sastra agama. “Upacara ini mesti makin memupuk kebersamaan dengan landasan sagilik-saguluk salulung sabayantaka sesuai tujuan agama Hindu, moksartam jagadhita ya ca iti dharma,” tandas Sugiada.

Rangkaian upacara sudah dimulai 1 Januari 2018 lalu yang ditandai dengan mlaspas alit palinggih dan majaya-jaya panitia karya. Disusul nyukat genah nyuci pada Rabu, 17 Januari 2018 dan nanceb taring lan wewangunan upakara, Jumat, 19 Januari 2018. Jumat, 30 Maret 2018 hari ini dilaksanakan prosesi nuur tirtha kahyangan jagat dan Gunung Semeru. Pada Senin, 1 April 2018 dilanjutkan dengan melasti ke segara serta Ida Batara mamasar. Selasa, 3 April 2018 digelar mapepada karya. Puncak karya pada Rabu, 4 April 2018 mendatang di-puput enam sulinggih. Kamis, 5 April 2018 hingga Sabtu, 14 April 2018 dilaksanakan bhakti penganyar. Jumat, 13 April 2018 dilaksanakan penyenuk, makebat daun dan mangun ayu. Ida Batara masineb pada Redite Kliwon wuku Tolu, Minggu, 15 April 2018 mendatang. Rangkaian upacara karya diakhiri dengan maajar-ajar ke Pura Goa Lawah pada Buda Pon wuku Tolu, Rabu, 18 April 2018 mendatang.

Baca Juga :
LOCAVORE FESTIVAL , “Mengajak Generasi Muda Mencintai Pangan Lokal”

Editor       : Nyoman Sutiawan 

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.