Gianyar, (Metrobali.com) –

Berbeda dengan upacara nangluk merana sebelumnya, ditengah masih mewabahnya pandemi Covid-19 ini upacara nangluk merana yang dilakukan di Pantai Lebih Gianyar pada Senin (14/12) cukup berbeda. Hal ini tampak dari sedikitnya pemedek yang tangkil (datang, red) dimana sebagian besar pemedek yang tangkil merupakan tutusan (utusan) dari masing-masing Desa Adat di wilayah Kabupaten Gianyar.

Hal ini diungkapkan oleh Bendesa Adat Lebih, I Wayan Wisma. “Jadi yang tangkil ke Pantai Lebih pada saat upacara nangluk merana ini adalah perwakilan atau tutusan dari masing Desa Adat di wilayah Kabupaten Gianyar, hal ini dilakukan untuk menekan jumlah pemedek yang membludak. Apalagi saat ini Covid-19 masih mewabah,” ujarnya.

terkait Karya Nangluk Meran di Pantai Lebih, merupakan gelaran upacara yang diselenggarakan oleh Pemkab Gianyar. Pihaknya selaku Desa Adat yang mempersiapkan prosesinya. Yang membedakan pelaksanaan kali ini adalah penerapan protokol kesehatan. “Jumlah yang terlibat dibatasi agar tidak berkerumun. Pemedek yang datang wajib mentaati protokol kesehatan,” jelasnya.

Mengenai tujuan diselenggarakannya Karya Nangluk Merana, untuk memohon keselamatan alam semesta beserta isinya. “Mohon agar merana pada tumbuh-tumbuhan, hewan termasuk manusia atas anugerah Ida Bhatara Dalem Segara Agung dapat membelenggu semua itu. Sehingga tercipta keseimbangan hidup, kedamaian,” katanya.

Yang menarik, ada sejumlah anak-anak pesisir yang rela menceburkan diri ke pantai. Anak-anak ini membantu pemedek nunas toya segara. Setelah jerigen berisi toya segara penuh, anak-anak ini diberikan upah. Mulai Rp 2.000 sampai Rp 10.000. Menurut Bendesa, pemandangan anak-anak nunas toya segara itu sudah biasa.

“Mereka memang sehari-hari bergelut dengan ombak. Namun demikian, kita tetap imbau agar hati-hati,” ujarnya. Pihaknya akan lebih khawatir, jika justru pemedek yang turun langsung nunas toya segara. “Karena kalau pemedek yang turun, mereka bisa terpleset kalau tidak menguasai medan. Kalau anak-anak ini, mereka sudah terbiasa, jadi aman,” imbuhnya.

Sedangkan salah satu pemedek yang tangkil, Made Oka mengatakan bahwa dirinya datang merupakan tugas atau tutusan dari Desa untuk nunas tirta di Pantai Lebih dan kemudian untuk dibawa ke Desa untuk dibagikan kembali kepada masyarakat.

“Saya dapat tugas dari Desa Adat Bukit Jangkrik kesini, ada dua orang tutusan lagi yang saya ajak. Sesuai dengan arahan di Desa, tutusan ditugaskan untuk nunas tirta pada saat upacara nangluk merana ini di Pantai Lebih dan kemudian tirta ini akan dibawa ke Pura Desa yang dimana akan dibagikan kepada masyarakat Desa,” tandasnya. CTR