Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Soal Pertanian, RI Harus Belajar dari Korsel dan Taiwan

Metro Bali
single-image

Cara menanam padi di Korese

Nusa Dua, Bali (Metrobali.com)-
 
Ketua Aliansi Petani Indonesia (API), Mudzakir mengingatkan jika tahun ini merupakan peringatan pertanian keluarga internasional. Ia berharap pada tahun ini pula pemerintah serius untuk mengukuhkan posisi dan menciptakan skema yang dapat mendukung ketahanan pangan keluarga mereka. Pada akhirnya, hal itu dapat meningkatkan kapasitas produksi pertanian mereka, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Untuk memperingati pertanian keluarga internasional, API yang tergabung dalam Asian Farmers Association (AFA) menggelar Kongres Petani Asia yang dipusatkan di Nusa Dua, Bali.
“Kami menyambut baik pertemuan ini. Tentu saja pertemuan ini akan berdampak pada anggota khususnya petani. Kami berharap juga dapat terumuskan upaya untuk meningkatkan kapasitas pendapatan, teknologi, pendidikan, akses air, tanah dan lainnya yang dibahas pada pertemuan ini,” imbuh dia, Selasa (6/5).
Nantinya, sambung Mudzakir, pertemuan ini akan melahirkan beberapa kegiatan yang direkomendasikan bersama oleh AFA. Mudzakir sedikit menyindir perhatian yang kurang serius dari pemerintah terhadap sektor pertanian. Buktinya, kata dia, anggaran dalam APBN untuk sektor pertanian kurang dari 2 persen.
Padahal, mayoritas masyarakat Indonesia bergerak di sektor pertanian. “70 persen petani di dunia terdapat di Asia, termasuk Indonesia,” katanya. Ia berharap menjelang suksesi kepemimpinan Negara, semua pihak harus menunjukkan komitmennya terhadap sektor pertanian. Yang terpenting adalah regenerasi atau menggairahkan pertanian kepada anak muda.
Ia mencontohkan di Korea Selatan. Pemerintah mengeluarkan kebijakan bagi kaum perempuan yang mau menikahi remaja petani, maka pemerintah akan menanggung biaya perawatan make up perempuan tersebut. Lain Korea Selatan, beda pula di Taiwan. Di Taiwan, untuk menarik minat anak muda menjadi petani pemerintah memberikan lahan secara gatis untuk digarap.
Pemerintah juga membebaskan biaya pajak lahan pertanian. Selain itu, pemerintah juga memasok bahan baku pertanian. Sementara di Indonesia, belum ada kebijakan jelas tentang sektor pertanian, khususnya kepada anak muda.
Pada sisi lain, alih fungsi lahan kian menggila. Sekjen AFA, Esther mengutip data Koalisi Tanah Internasional memaparkan jika terdapat 6 juta hektar lahan pertanian di kawasan Asia yang beralih fungsi menjadi kepemilikan perusahaan. “Di Afrika terdapat 16 juta hektar lahan yang diambil oleh perusahaan. Saat ini ada 807 transaksi yang tengah dinegosiasikan. Dari jumlah itu, sebanyak 379 transaksi terjadi di Asia Tenggara, di antaranya merupakan transaksi tanah pertanian. Totalnya sebanyak 46 persen dari total transaksi tanah di seluruh dunia,” sebut Esther. JAK-MB
Bagikan :
Baca Juga :
Rai Mantra Kembali Menunjukan Diri Layak Memimpin Bali Lima Tahun ke Depan

Leave a Comment

Your email address will not be published.