Soal Pembagian Kacang Ijo Satwik : Komponen Hindu Protes ke SDN 3 Pemecutan dan Paguyuban Gaurangga

Metro Bali
single-image

Denpasar, (Metrobali.com)-

Komponen Hindu  memprotes kegiatan Paguyuban Gaurangga di SDN 3 Pemecutan, Denpasar soal pembagian kacang ijo Sehat dan “Satwik” yang syarat dengan misi keyakinan HK.
Para hari ini, Rabu, 24 Juni 2020, kami dari berbagai Komponen Hindu Bali (YJHN, Dekorda Denpasar  dan Dekorwil Bali Puskor Hindunesia serta Perkumpulan Bali Dwipa) yang dikoordinir oleh Dekornas
Puskor Hindunesia, telah mengadakan pertemuan guna mencari fakta dan mendengarkan klarifikasi dari pihak SDN 3 Pemecutan tentang kegiatan paguyuban (sekaa demen) Gaurangga, yang melakukan propaganda aliran Hare Krishna (HK) pada tanggal 12 Oktober 2017, yang sempat viral dan menjadi perhatian berbagai pihak di berbagai komunitas Hindu Indonesia.
1. Bahwa pada tanggal tersebut (12 Oktober 2017), memang benar telah ada kegiatan pembagian kacang ijo Sehat dan “Satwik”, yang menurut Mataji Dina (Ni Made Dasmini) bertujuan untuk memperkenalkan makanan Sehat dan “Satwik” pada anak-anak dan  menurut mereka sudah sering dilakukan di berbagai tempat seluruh Bali bahkan Indonesia (Sumatera, Sulawesi, Jawa, dsb). Dan dibenarkan memang ada selingan menyanyi dan menari dari para anggota Hare Krishna dengan menyebutkan nama-nama seperti Gaurangga, Hare Krishna, Nityananda, dsb.
2. Bahwa Mataji Dina, sebagai penyelenggara mengajukan sendiri acara tersebut kepada sekolah dengan dalih melakukan pembagian kacang ijo sebagai makanan sehat dan Satwik. Mataji Dina menyebutkan datang tidak hanya dengan orang HK, ada juga Sai Baba dan dari
agama lain.
3. Bahwa pihak sekolah tidak dijelaskan sebelumnya tentang acara ikutan yang ternyata ada permainan yang sudah mengarah pada pengenalan terhadap berbagai istilah, jargon dan cerita tentang ajaran tersebut (Hare Krishna). Bagi yang bisa menjawab dikasi hadiah.
4. Bahwa mereka (Paguyuban Gaurangga) tak hanya melakukan di SDN 3 Pemecutan, tapi sudah di berbagai sekolah di Bali, mulai dari SD, SMP, SMA bahkan ke lembaga tinggi. Juga di Pura Pura di Bali, bahkan sampai ke daerah lain di luar Bali (Sumatera, Jawa, Sulawesi, dsb).
Dengan adanya hal tersebut kami dari Komponen Hindu Bali menyampaikan nota protes dan keperihatinan atas upaya agresif yang dilakukan oleh Paguyuban Gaurangga dan HK di belakang  kegiatan tersebut.
Terkait dengan kegiatan tersebut 1. Bahwa Mataji Dina dengan kelompok Gaurangganya telah mengambil alih tanpa koordinasi dan perintah dari Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kota Denpasarm dengan mengambil alih pemberian makanan sehat untuk anak-anak sekolah. Dan mereka tidak melakukan koordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan maupun Dinas Kesehatan Kota Denpasar, begitu juga PHDI Kota Denpasar dan PHDI Provinsi Bali, karena terkait dengan aktifitas spiritual.
2. Bahwa pihak SDN 3 Pemecutan tidak tahu akan adanya rangkaian acara yang diluar pembagian Kacang Hijau, karena mereka hanya diberitahukan di awal oleh tim Paguyuban Gaurangga hanya untuk memperkenalkan makanan sehat untuk anak-anak.
Bahwa pemberian bubur Kacang Hijau yang dilakukan oleh Paguyuban Gaurangga dengan tim yang terkordinir dan terorganisir apalagi dengan tim yang terdiri dari para bhakta Hare Krishna, merupakan upaya untuk mempengaruhi umat Hindu Bali, khususnya anak-anak dan para pengajar sekolah yang masih “polos” dan “lugu” dengan ajaran keyakinan Hare Krishna, apapun dalih mereka.
4. Bahwa Forum Hindu Bali menegaskan gerakan semacam ini sudah terpola dan memiliki muatan spiritual yang ingin memperkenalkan dan menyebarluaskan ajaran Hare Krishna di berbagai tempat yang sudah menganut keyakinan Hindu Bali. Aktifitias ini sudah sangat bertentangan dengan UUD 1945 tentang kebebasan berkeyakinan dari kami para penganut  Hindu Bali, yang sudah sah sebagai penganut Hindu di Indonesia. Selain itu secara undang-undang juga dilarang bagi mereka untuk menyebarkan keyakinan kepada orang lain yang sudah berkeyakinan.
5. Secara konsep antara Hare Krisnha dan Hindu yang dianut oleh orang Hindu Bali sangat jauh  berbeda bahkan cenderung bertolak belakang. Oleh karena itu penyebaran ajaran Hare Krishna dalam berbagai bentuk adalah melanggar hak orang Hindu Bali untuk menjaga, melindungi dan menguatkan agama Hindu mereka.
Oleh karena itu kami, dari Forum Hindu Bali, dengan ini mendesak PHDI baik Povinsi Bali maupun di  Pusat dan Majelis Desa Adat di Bali untuk bersikap tegas untuk:
1. Menghentikan segala aktifitas di lapangan kelompok aliran Hare Krishna di Bali dan di luar  Bali yang ada komunitas penganut Hindu Bali dan Hindu Indonesia (kearifan lokal -Dwipantara).
2. Membersihkan lembaga Hindu, utamanya PHDI, dari kelompok mereka, karena aliran Hare Krishna tidak saja tidak mengakui bagian dari Hindu, tapi juga terdiri dari berbagai agama yang mempelajari dan menerapkan ajaran Hare Krishna, dengan demikian menghilangkan identitas kemurnian lembaga umat Hindu untuk tempat berkumpulnya komponen Hindu.
3. Meminta kepada organisasi yang mengajarkan Hare Krishna, untuk menggunakan keyakinannya hanya untuk diri mereka sendiri tanpa mempengaruhi atau melakukan propaganda kepada orang lain, terutama umat Hindu Bali dan umat Hindu Indonesia (Dwipantara).
4. Memperjelas eksistensi organisasi ini dalam lembaran negara, karena masih simpang siur adanya pencabutan Surat Keputusan Kejaksaan Agung Nomor 107 tahun 1984. Tentang Pelarangan Hare Krishna di Indonesia.
5. Mengajak semua pihak dalam wadah keumatan Hindu untuk waspada dan tetap menjaga kebhinekaan Hindu dengan tidak melakukan intervensi atau rekonversi atau redoktrinisasi  dari Sampradaya yang berbeda dengan berbagai keyakinan Hindu yang ada di Indonesia (Dwipantara), sebagai bagian dari bentuk implementasi Hindu Universal yang mengakomodir
berbagai kearifan lokal turun temurun di Indonesia.
Surat Pernyataan sikap itu ditantangani atas nama Forum Hindu Bali Dewan Koordinator Nasional Pusat Koordinasi Hindu Indonesia  (Puskor Hindunesia)
Ketua Umum, Sekretaris Jenderal,
DR(HC). Ida Bagus Ketut Susena, S.Kom Cokorda Gde Agung Narayana, A.Md.T
Tembusan disampaikan kepada Yth.
1. Gubernur Bali, di Denpasar.
2. Ketua DPRD Provinsi Bali, di Denpasar.
3. Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bali, di Denpasar.
4. Ketua PHDI Pusat di Jakarta
5. Ketua PHDI Provinsi Bali, di Denpasar
6. Ketua Majelis Desa Adat Provinsi Bali, di Denpasar
7. Ketua PHDI Kota Denpasr, di Denpasr
8. Ketua MDA Kota Denpasr, di Denpasar
9. Ketua Dekorwil Bali Puskor Hindunesia, di Denpasar.
10. Ketua Dekorda Denpasar Puskor Hindunesia, di Denpasar.
11. Kepala Dinas Pendidikan Kota Denpasar, di Denpasar.
12. Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, di Denpasar.
13. Arsip.
(**)
Bagikan :
Baca Juga :
Obat Aborsi Banyak Dibeli Wanita Remaja

Leave a Comment

Your email address will not be published.