Silang Sengketa Bhagavad Gita di Zaman Kali ( Kali Yuga ), Momentum untuk Refleksi Diri

Metro Bali
single-image
Ilusatrasi
Oleh : I Gde Sudibya
Pada inti dasarnya tidak ada Bhagavad Gita yang secara khusus mengulas pemujaan leluhur, karena Gita pada focal pointnya mengulas dialog Cri  Krisha simbolik Tuhan Wisnu dengan Arjuna, yang mengandung pesan holistik kaya tentang sistem  kehidupan. Setiap penerjemah dan tafsirnya memberikan penekanan yang berbeda sesuai dengan preferensi dan tingkat kualitas rohaninya.
Yang perlu disimak dalam membaca Gita, terlebih-lebih jika dijadikan salah satu rujukan dalam prilaku, sebut saja, sederhananya sebagai rujukan etika dan moralitas prilaku – code of conduct -, semestinya kita  menghindari Gita yang ditafsirkan sebagai dogma kaku, klaim kebenaran tunggal yang mutlak, punya kecendrungan  yang bisa ditafsirkan menafikan sistem keyakinan  yang berbeda ( di luar Gita ydm. ).
Namun demikian, setiap perbedaan dalam melakukan tafsir Gita, dilakukan melalui dialog, dialog yang mencerdaskan dan bahkan mencerahkan. Sebagaimana testimoni, dari banyak bhakta, para Jnani, yang mengatakan: tidak jarang ditemukan tafsir baru sejalan dengan perkembangan kualitas rohani dari insan-insan manusia ydm.
Konon Mahatma Gandhi  membaca puluhan sloka Githa setiap harinya, menyebut beberapa yang konon menjadi preferensi Gandhiji: Stithaprajna dan bagian Karmayoga secara utuh. Dari perjalanan kehidupan Gandhiji, kita bisa banyak belajar, menyebut beberapa di antaranya: kesederhanaan bahkan kebersahajaan kehidupan, kerelaan penuh untuk berkorban ( menolak menjadi PM India pertama, pasca kemerdekaan, negeri yang Gandhiji perjuangkan kemerdekaannya ).
Politik berlandaskan kebenaran dan emoh kekerasan. Ahimsa Dharma. Dalam prilaku politik, ucapannya yang terkenal: ” Means justifiying the goals ” , cara mesti semulya tujuan. Mengingatkan melalui  sejumlah tulisan dan keteladan prilaku, akan 7 dosa sosial ( seven social sins ), yang menjadi penyakit masyarakat ( social desiases ): politik tanpa prinsip, bisnis tanpa moralitas, pencarian kekayaan tanpa upaya kerja, pendidikan tanpa karakter, pengetahuan tanpa kemanusian, pencarian kesenangan tanpa upaya pembatasan diri, pemujaan kepada Tuhan tanpa kerelaan berkorban.
Bagaimana manusia Bali melakoni kehidupan keagamaannya? Agama adalah realisasi diri,  dipraktekkan dalam ke seharian  kehidupan, tidak untuk diwacanakan terlalu banyak. Simak dengan baik diksi kata dan maknanya : Ayua Wera ( siarkan pengetahuan keagamaan ke orang, waktu dan tempat yang tepat ). Ajewera ( jangan siarkan pengetahuan yang dimaksud ke orang, waktu dan tempat yang tidak tepat ). Satunya kata dan perbuatan ( Satya wacana ).
Konsepsi ini, yang lebih banyak dalam diam ( bicara ), tetapi terus berkarma, sudah mulai banyak ditinggalkan. Ditandai oleh semakin maraknya prilaku: tidak satunya kata dan perbuatan ( nitya wacana ), dengan seluruh konsekuensi kehidupan yang menyertainya.

Baca Juga :
Tips on how to Rate Antiviruses and Fix Registry Mistakes
Siar agama dalam masyarakat Bali yang mentradisi, merujuk ke pemikiran Robert N Bellah sosiolog ternama dunia dari AS, sering dirujuk pendapatnya oleh cendikiawan ternama negeri ini Nurcholis Madjid ( yang biasa dipanggil Cak Nur ) di era tahun 70’an dan 80’an: siar agama dengan kualitas tertinggi, ayat-ayat kitab suci ditransformasi menjadi bentuk  karya seni, karya kebudayaan, dalam bahasa kemanusiaan yang lintas agama dan lintas keyakinan. Memberi impresi, pengalaman rasa, inspirasi universal, bagi penikmatnya. Sebagaimana lazimnya, karya seni berbobot dan kemudian melegenda. Dalam kosa kata budaya Bali, karya seni memanik dan kemudian metaksu.
Ini tantangan ke kinian yang harus dijawab kalangan agaman dan para seniman.
Untuk memberikan lagi bukti  tentang keunggulan peradaban dan kebudayaan Bali. Yang sekarang banyak sekali menghadapi tantangan, yang dibawakan oleh: modernisme, industrialisme, terutama industralisme pariwisata yang berciri kapitalistik dan sekarang pandemi Covid-19 dengan masa paceklik pariwisata yang mengikutinya.
Tentang Penulis
I Gde Sudibya, penulis buku: Hindu Menjawab Dinamika Zaman, Budaya Bali & Agama Hindu ( Bunga Rampai Pemikiran ), penulis prolog buku: Dharma Agama & Dharma Negara.
Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.