Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Setelah Dipertanyakan, Perataaan Lahan di Pekutatan Ternyata Untuk Ini

Metro Bali
single-image

Perataaan Lahan di Pekutatan untuk pengelolaan sampah.

Jembrana (Metrobali.com)-

Aktivitas perataan lahan hingga pengerjaan pondasi di Selatan Jembatan Pekutatan akhirnya terkuak. Di lahan yang dari informasi tanah pelaba desa adat itu rencananya akan dibangun tempat pengolahan sampah (TPS) dan pembangunan tungku pembakaran sampah.

Dua pekerjaan yang anggarannya bersumber dari DDS ini terlihat pada papan nama proyek. Pertama, untuk pembangunan gedung TPS senilai Rp 160.540.999 dan pekerjaan Pembangunan Tungku Pembakaran Sampah, senilai Rp 31.316.386. Kedua pekerjaan dilakukan bersamaan dengan sistem pekerjaan swakelola.

Pasca dipertanyakan warga, aktivitas sempat terhenti. Pengerjaan kembali berjalan setelah papan nama proyek terpasang akhir pekan lalu. Sedangkan sosialisasi juga baru dilakukan pada Kamis (12/9) lalu kendati pekerjaan telah berjalan hampir sebulan.

Pembangunan TPS ini masih menjadi polemik di masyarakat. Selain terkesan diam-diam, lokasi juga berada di dekat rumah warga. Tidak hanya itu TPS dan pembangunan pembakaran tungku sampah disinyalir bertentangan dengan peraturan Peraturan Gubernur (Pergub) Bali dan Peraturan Daerah (Perda) Jembrana.

Sesuai Perda nomor 8 tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah, dilarang membakar sampah. Lebih terinci lagi didalam Bab XV pasal 46 tentang Larangan, disebutkan dengan jelas tiga poin larangan membakar sampah apapun.

“Ini masih menjadi pertanyaan. Kalau memang sudah direncanakan matang pengolahan sampah, tapi kenapa di proyek juga ada pembakaran sampah. Apakah ini tidak berlawanan dengan Perda dari pemerintah daerah sendiri” tandas salah seorang warga, Minggu (15/9). Apalagi lanjutnya, kawasan Pekutatan merupakan kawasan Pariwisata.

Sementara itu, Pjs Perbekel Pekutatan, Nyoman Sukesajayasa, sebelumnya mengungkapkan pengerjaan TPS ini sudah direncanakan matang oleh desa setahun lalu, dan baru tahun ini bisa dikerjakan.

Baca Juga :
Buka World Culture Forum, SBY Baca Puisi

Begitu juga dengan penetapan lokasi tanah yang dibangun, sudah direncanakan merupakan lahan pelaba desa adat yang sertifikatnya sudah keluar tahun 2019 ini. Karena itu desa menganggarkan APBDes untuk membangun TPS meskipun berdekatan dengan rumah warga dan sungai.

Disisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jembrana, I Wayan Sudiarta menegaskan pengelolaan sampah dengan cara membakar sampah bertentangan dengan Perda dan Pergub Bali tentang Pengelolaan Sampah. (Komang Tole)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.