Sampan Fiber Diminati Nelayan Jembrana

Metro Bali
single-image

sampan

 
Negara (Metrobali.com) –
Sampan berbahan fiber akhir-akhir ini diminati nelayan di Kabupaten Jembrana, karena bisa digunakan untuk menangkap berbagai jenis ikan di laut.

“Kalau sampan berbahan kayu, paling bisa dipakai menjaring ikan di pinggiran atau memancing. Yang berbahan fiber, jarak tempuhnya lebih jauh sehingga peluang mendapatkan ikan lebih besar,” kata Samsuri, salah seorang nelayan di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Jumat.

Karyono, nelayan lainnya mengatakan, dengan daya jelajah yang lebih jauh, nelayan bisa menjaring, memancing layur maupun cumi-cumi, bahkan mencari hasil tambahan dengan menjadi “mata-mata” bagi perahu selerek yang sedang berburu ikan lemuru atau tongkol.

Menurutnya, untuk menjadi “mata-mata”, nelayan yang menggunakan sampan fiber berangkat mendahului perahu selerek melaut, lalu mencari lokasi yang banyak terdapat ikan.

“Saat menemukan lokasi yang banyak ikan lemuru atau tongkolnya, mereka mengabari nelayan yang menggunakan perahu selerek untuk menjaringnya. Dari hasil tangkapan tersebut, nelayan yang menjadi “mata-mata” mendapatkan bagian sesuai kesepakatan,” katanya.

Ia mengatakan, komunikasi antara nelayan sampan fiber dengan perahu selerek selain menggunakan handphone, juga menggunakan sinar laser yang biasanya digunakan untuk mainan anak-anak.

“Seringkali di tengah laut tidak ada sinyal handphone. Biasanya, nelayan sampan fiber melambai-lambaikan sinar laser sebagai tanda kepada perahu selerek untuk mendekat,” katanya.

Saat beruntung menemukan lokasi ikan dalam jumlah yang banyak, nelayan sampan fiber bisa mendapatkan penghasilan ratusan ribu hingga jutaan rupiah dalam satu malam melaut.

Karena multifungsi, banyak nelayan yang awalnya menggunakan sampan berbahan kayu beralih ke bahan fiber, meskipun harganya jauh lebih mahal.

Rahman, nelayan lainnya mengungkapkan, untuk memiliki satu unit sampan fiber bekas, nelayan harus memiliki modal antara Rp30 juta sampai Rp35 juta.

Baca Juga :
Beach Clean Up Di Pantai Karang Sanur, Rai Mantra dan “Malu Dong” Pungut Sampah

Karena modal yang cukup besar tersebut, menurutnya, sebagian besar nelayan patungan untuk membelinya, atau menjalankan sampan fiber milik orang lain dengan sistem bagi hasil.

“Tapi kalau rusak seperti bocor atau pecah, sampan berbahan fiber lebih sulit diperbaiki. Kalau sampan kayu tinggal tambal saja,” katanya. Sumber : Antara

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.