Renungan Galungan : Momentum Penumbuhan Kesadaran Diri Menuju Kebangkitan Rohani

Metro Bali
single-image
Oleh: I Gde Sudibya

Hari Raya Galungan tanggal 16 September 2020, raina Buda Kliwon Dungulan nemu sasih Ketiga Icaka 1942, dilakoni berbarengan dengan terjadinya pekebeh gumi, krisis kehidupan akibat dari pandemi Covid-19.

 Krisis kehidupan yang berupa krisis kesehatan dengan risikonya yang tinggi dan krisis ekonomi yang menyertainya. Ekonomi Bali memasuki masa paceklik akibat dari krisis dalam industri pariwisata. Untuk menanggulangi penyebaran virus Covid-19, ada himbauan dari berbagai pihak untuk menegakkan protokol kesehatan secara ketat bagi umat Hindu yang akan merayakan Galungan dan Kuningan. Perayaan Galungan besok, menjadi momentum untuk melakukan perenungan diri, mulat sarira, terhadap kualitas kehidupan kita selama 6 bulan ( Bali ) sesuai kalender dengan siklus wuku. Kualitas kehidupan pada keseluruhan dimensinya: susila, tatwa, upakara. Dalam perspektif etik dan ethos kerja dapat mencakup: integritas, kredibilitas diri, etika dalam menjalankan dharma kehidupan.  Refleksi diri sebagai momentum untuk penumbuhan kesadaran diri menuju kebangkitan rohani.
Penumbuhan kesadaran diri
Renungan Galungan sebagai momentum untuk penumbuhan kesadaran diri,  self recognising meminjam kosa kata dan spirit dari Svami Vivekananda dalam pidatonya di Sidang Parlemen Agama-agama se Dunia di Chicago 127 tahun yang lalu. Kesadaran diri menuju ke kebangkitan rohani. Self recognising up to self  spiritual awakening.
Renungan Galungan di hari-hari ini, di tengah-tengah risiko sebaran virus Covid-19 dengan segala risikonya dan ketidakpastian ekonomi yang tinggi dan kita tidak tahu kapan berakhirnya, kita dapat merujuk beberapa catatan sastra kehidupan di bawah ini.
1. Prasasti tertua di Bali,.prasasti Sukawana berangka tahun 740 Caka: ” Sakabde sira wani, murti ganitha, masatetha, palguna, menyampaikan kearifan kehidupan berupa: kehidupan adalah keutamaan dan kemulyaan,  jalani keutamaan dan kemulyaan kehidupan ydm.dalam ke seharian.
2. Karya kidung Sucita-Subudi, oleh sastrawan Ida Kade Alit  dari Griya Banjar Buleleng, menyampaikan  tuntunan etik kehidupan sbb.:
” Sangkan de mangutang yatna, Undagan ideppe lingling, De drupon manyujuh sukla, Apan tuhu lintang sulit, Apang de dadi nungkalik, Nyudya merta wesia tepuk, Bisa ngukur kemampuan, Yan tan sida kreseng hati, De mamurug apang de dadi pangenan.
3. Tiga puluh delapan bait sloka dalam Bab Dua Bhagavad Githa, tentang Samkya, yang konon dibaca setiap hari oleh Mahatma Gandhi, dan Gandhiji menafsirkan Stitha prajna: insan-insan manusia dengan kepribadian kuat, kecerdasannya stabil dan seimbang serta vairagya. Tampil dalam prilaku ke seharian dengan cirinya: self control ( kuat dalam pengendalian diri ), self help ( mandiri ), self sufficiency ( sederhana  dalam kehidupan ). bersambung.

Baca Juga :
Keluarga Bantah Corby Diwawancarai TV Australia
Menuju ke kebangkitan rohani
Renungan Galungan di tengah pekebeh gumi dewasa ini, penumbuhan kesadaran diri, Jagra, menuju ke kebangkitan rohani, spritual revival dalam pandangan Svami Vivekananda.
Dalam proses ke kemulyaan kehidupan ini, netizen dapat merujuk beberapa  sastra kehidupan di bawah ini.
1. Rangkaian ceramah Svamiji 127 tahun lalu pasca Sidang Agama se Dunia di Chicago yang historik fenomenal di banyak kota di AS.mengulas singkat sederhana tentang : Sat, Chit, Ananda. Kesadaran akan Tuhan dalam diri, menjadi pengetahuan yang melekat dan mentransformasi diri, melahirkan Ananda ( kebahagiaan abadi ), – the eternal flow of spiritual happieness -.
2. Karya sastra  Parama Tatwa Suksma, yang menurut informasi ditulis oleh Ida Pedanda Putra Kemenuh dari Griya Sukasada Singaraja, pendeta modern pada zamannya, keluar Griya untuk mengajar agama di SMAN Singaraja pertengahan tahun 1960’an, menulis: Diastun sampun notah wikan, naler dereng mewasta becik, Becikke naler dereng pisan,sane mewastaning patut, Patutte naler dereng pisan,  Mraga suci, Suci jati sat mraga Dewa.
Pendeta ramah tetapi cukup tegas dalam mengajar ini, “berbicara” tentang kerendahan hati, kesabaran, keajegan dalam menapaki jalan rohani.
3. Karya sastra Sucita-Subudi dalam bait pertama kekidung ydm., tentang proses realisasi diri dalam tafsir cerdas mumpuni dari seorang sastrawan dari Griya Banjar Buleleng:
Jenek ring meru sarira, Kastiti Hyang Maha Suci, Mapuspa Padmahradaya, Maganta suaraning sepi, Maganda ya tisning Budhi, Malepane sila hayu, Mawija minget prakasa,  Kukusing sad ripu dagdi, Dupan ipun madippe hideppe galang.
Tentang Penulis
I Gde Sudibya, Ketua FPD.( Forum Penyadaran Dharma ), Denpasar.
Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.