Rektor ISI Berikan Penghormatan Terakhir Wayan Beratha

Metro Bali
single-image

Arya Sugiartha1

Denpasar (Metrobali.com)-

Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Dr Gede Arya Sugiartha akan memberikan penghomatan terakhir kepada jenazah empu seni I Wayan Beratha (90) di kuburan Desa Adat Sumerta, Kota Denpasar, Senin (19/5).

“Rapat senat telah menyetujui penghormatan terakhir kepada almarhum yang semasa hidupnya mengabdikan diri untuk kemajuan ISI Dennpasar,” kata Gede Arya Sugiartha di Denpasar, Minggu (18/5).

Ia mengatakan, ISI pada tahun 2012 memberikan penghargaan kepada almarhum I Wayan Beratha sebagai “Empu Seni”, sebuah penghargaan bergengsi atau sejajar dengan guru besar.

“Penghargaan terakhir dalam kemasan seni itu dilakukan di kuburan, begitu jenazah diturunkan dari bade, keranda khusus pengusungan jenazah, yang diiringi dengan alunan gong blaganjur,” tutur Gede Arya Sugiartha.

Almarhum I Wayan Beratha pergi untuk selama-lamanya, Sabtu, 10 Mei 2014 dalam usia 90 tahun.

Anggota senat, jajaran dosen dan mahasiswa ISI Denpasar juga akan ikut memberikan penghomatan mengenang jasa, prestasi dan kebaikan almarhum dalam mengembangkan seni budaya Bali.

Sedangkan pelepasan jenazah di rumah duka rencananya dilakukan oleh Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharma Wijaya Mantra serta diawali dengan iringan gong blaganjur besar.

Dr I Nyoman Astita, MA, dosen ISI Denpasar merasa sangat kehilangan atas kepergian almarhum untuk selama-lamanya. Ia mengenang almarhum sebagai maestro yang karya-karyanya telah memberikan kesejahteraan, keindahan dan kesejukan bagi masyarakat Bali.

“Semoga seluruh amal bakti dan karya-karya yang telah beliau ciptakan untuk mengharumkan seni budaya Bali akan terus dikenang dan dijadikan acuan bagi generasi seniman-seniman muda Bali,” ujarnya.

I Wayan Beratha lahir dari lingkungan seniman di Banjar Belaluan, Denpasar, tahun 1924. Kesenimanannya diturunkan oleh kakeknya I Ketut Keneng yang memiliki keahlian di bidang sastra.

“Sang guru I Made Regog dan ibu Ni Made Rerod telah membimbing I Wayan Beratha dengan sentuhan seni gamelan. Ayahnya I Made Regog adalah salah seorang tokoh seniman tabuh yang mengembangkan gong kebyar di Bali Selatan,” katanya.

Tabuh Kebyar Ding Sempati karya I Made Regog yang telah direkam dalam piringan hitam Odeon dan Beka pada tahun 1928 menjadi tonggak perkembangan tabuh-tabuh kreasi.

Sebagai tokoh seni tabuh di Banjar Belaluan I Wayan Beratha menekuni gamelan sejak usia delapan tahun. Melihat bakat seni anaknya I Made Regog kemudian mengantarkan I Wayan Beratha untuk berguru kepada Ida Boda, Nyoman Kaler dan I Made Gerebag.

Sejalan dengan usianya yang menginjak dewasa I Wayan Beratha tidak hanya terampil memainkan gamelan Gong Kebyar. Bakat seni yang telah ditanamkan oleh orang tuanya terasah semakin matang dalam menciptakan seni tabuh dan tari-tarian.

Almarhum I Wayan Beratha adalah seniman yang memiliki talenta kreatif dan karya-karya yang diciptakan diterima masyarakat, digemari serta dikagumi.

Tari Tani, Tari Yudapathi, Tari Kupu-Kupu Tarum diciptakan pada tahun 1958. Karya tabuh kreasi yang telah diciptakan antara lain Kebyar Swabuanapaksa, Kebyar Jaya Semara, Gesuri, Bajradanta, Palguna Warsa, Koslya Arini, Purwa Pascima.

Tabuh lelambatan klasik yang ditata menjadi lelambatan kreasi karya Wayan Beratha antara lain Tabuh Pisan Gegancangan, Tabuh Dua Semara Ratih, Tabuh Telu Sekar Gadung, Tabuh Pat Gari, Tabuh Nem Galang Kangin, Tabuh Kutus Playon dan banyak lagi yang lainnya, tutur Nnyoman Astika. AN-MB 

Bagikan :
Baca Juga :
In Lebanon, The Revolution Is A Woman

Leave a Comment

Your email address will not be published.