Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Puluhan Ribu Babi Mati di Sumut, GUPBI Bali Desak Mentan Umumkan Wabah ASF

Metro Bali
single-image

Foto: Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Provinsi Bali I Ketut Hari Suyasa.

Denpasar (Metrobali.com)-

Kematian puluhan ribu ekor babi di Sumatera Utara (Sumut) yang terindikasi African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika membuat peternak babi di Bali resah.

Pasalnya hingga kini belum ada penetapan dari Kementerian Pertanian bahwa Sumut terkena ASF atau flu babi Afrika sehingga tidak ada isolasi penuh dan babi dari Sumut masih bisa dikirim keluar.

“Kondisi ini cukup mengkhawatirkan. Sebab bisa saja demam babi Afrika ini menyebar ke daerah lain termasuk di Bali dan bisa menyebabkan kematian massal babi dan tentunya merugikan peternak babi di sini aja,” kata Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Provinsi Bali I Ketut Hari Suyasa, Senin (9/12/2019).

GUPBI Bali mendesak Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo untuk mengumumkan Sumut positif wabah ASF sehingga bisa ada langkah-langkah nyata berupa isolasi penuh agar tidak ada babi dari Sumut keluar ke daerah lain.

Dengan demikian potensi penyebaran ASF ke daerah lain bisa diantisipasi guna mencegah jutaan babi lainnya mati dan mencegah kerugian ribuan peternak babi khususnya juga di Bali.

“Kami minta ketegasan Menteri Pertanian agar deklarasikan Sumut positif ASF agar tidak terjadi penyebaran virus ini ke daerah lain. Jadi ada dasar hukum untuk isolasi penuh,” kata Hari Suyasa.

Pihaknya pun menyayangkan sejak dua bulan wabah ASF ini memakan korban setidaknya hingga 20 ribu ekor lebih babi di Sumut namun belum ada keberanian Menteri Pertanian mendeklarasikan Sumut positif ASF.

Padahal sudah ada pernyataan resmi dari Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) bahwa kematian babi di Sumut dikarenakan virus ASF.

Baca Juga :
Gubernur Aceh-Bupati Bener Meriah ditetapkan sebagai tersangka suap Dana Otsus Aceh

Dalam pernyataan resmi tertanggal 5 Desember 2019, PB PDHI menyebutkan kasus kematian babi pada sejumlah usaha peternakan di Sumatera Utara terus terjadi sejak Agustus 2019 sampai awal Desember 2019 dan mencapai jumlah 20.500 ekor yang mati.

Berdasarkan pengamatan gejala klinis di lapang, perubahan patologi, dan pengujian laboratorium di Balai Veteriner Medan terhadap sampel darah dan organ yang berasal dari babi yang mati (sakit) pada bulan Oktober 2019 dengan menggunakan RT PCR menunjukkan sejumlah sampel positif terhadap African Swine Fever (ASF).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kematian babi di Sumatera Utara disebabkan oleh virus African Swine Fever. Karenanya PB PDHI meminta Pemerintah untuk segera mengumumkan dan menetapkan kasus wabah penyakit ASF di Sumatera Utara.

“Kementerian Pertanian harusnya perhatikan pernyataan resmi PDHI. Segara nyatakan wabah ATAS di Sumut. Jangan tunda-tunda lagu sebab efek dominonya akan luas,” tegas Hari Suyasa.

Menurutnya jika Sumut tidak dinyatakan kena wabah ASF, maka bisa saja babi dari Sumut masuk ke daerah lain termasuk Bali melalui jalur ilegal atau penyelundupan. Tentu jika virus ASF ini sampai di Bali makan puluhan bahkan ratusan ribu ekor babi di Bali akan terancam kena ASF.

Walau ASF ini tidak berbahaya bagi manusia dan hanya menyerang babi serta tidak menyerang hewan lain, namun tetap saja menimbulkan dampak kerugian cukup besar bagi peternak babi.

Sebab penyebaran virus ASF ini 100 persen. Artinya kalau babi sudah terjangkit pasti mati. Makin bahaya lagi kalau babi hutan yang virus ASF sebab akan jadi media penular. “Kalau babi hutan kena ASF tidak akan mati tapi dia tularkan ke babi lainnya,” terang Hari Suyasa.

Baca Juga :
Rai Mantra Menjadi Pilihan PSI Bali pada Pilgub Bali 2018

Parahnya lagi hingga saat ini, belum ditemukan vaksin atau antibiotik yang dapat menyembuhkan penyakit ini. “ASF ditemukan di Afrika 1921 yang sampai saat ini belum ada obat dan vaksin. Jadi ASF ini virus paling berbahaya bagi peternak dan pemerintah harus serius menanganinya,” tutup Hari Suyasa. (wid)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.