Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

“Penyawangan” Pura Medang Kemulan Maknai Indahnya Toleransi

Metro Bali
single-image

Peletakan batu pertama di atas lahan sekitar 30 are itu dilaksanakan, Senin (9/9/2019) pukul 09.00 Wita.

Denpasar (Metrobali.com) –

 

”Penyawangan” (bangunan pelinggih) Pura Penataran Luhur Medang Kemulan dibangun di kawasan Pancasari Buleleng Bali. Peletakan batu pertama di atas lahan sekitar 30 are itu dilaksanakan, Senin (9/9/2019) pukul 09.00 Wita.

Hadir pada peletakan batu pertama sejumlah tokoh agama, apiritual dan budayawan di antaranya Romo Sepuh Satya Bhuana dan Romo Sepuh Istri Satya Bhuana dari Pura Penatan Luhur Medang Kemulan di Dusun Buku, Desa Mondoluku, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Selain itu, hadir tokoh masyarakat yang Ketua PHDI Kecamatan Kuta Drs. I Nyoman Sarjana, MSi., tokoh spiritual Romo Dukun Pandita Tengger, Mbahkung Buanergis Muryono, Budayawan yang juga tokoh spriritual Mojokerto Jawa Timur Purwanto dan sejumlah tokoh lainnya.

Romo Sepuh Satya Bhuana dalam pertemuan dengan media yang dihadiri pula para tokoh agama dan spiritual Selasa (10/9/2019) malam di Renon mengingatkan perjuangan para leluhur dan menjaga persatuan toleransi antar umat beragama di nusantara.

Diceritakan awalnya di lingkungan pura itu hanya tinggal 7 KK yang sudah sepuh. Kondisi pura juga sangat memprihatinkan. Bahkan ada upaya untuk mempralina pura yang semula bernama Pura Setya Dharma Bhakti ini. Apalagi saat itu status tanahnya bermasalah.

“Namun pada tanggal 26 Oktober 2010 itu, bertepatan terjadinya erupsi Gunung Merapi, kami mendapat sabda dari beliau untuk membangun kembali pura itu dan nama pura kemudian menjadi Medang Kemulan,” kenang Romo Satya.

Dikatakan semua yang terjadi berlangsung secara alamiah, para leluhur yang menentukan. Kita berdoa terus kepada leluhur, semoga semua berjalan dengan baik dan akan berbahagia.

Baca Juga :
BPKP Kaji Belanja Bansos Rp 18,6 Triliun

Menurutnya, agama itu sifatnya universal, Tuhan itu satu, semua umat manusia bersaudara. Karena itu, dia mengajak semuanya untuk saling menghormati keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Semoga dengan seperti itu, semua bisa berjalan dengan damai.

“Kita yang terlahir di dunia, senantiasa eling kepada yang melahirkan, ingat kepada leluhur, ingat Kemulan, bagi kami Kemulan masih relevan untuk leluhur kita yang sejatinya menginginkan semangat toleransi antar umat beragama di nusantara,” sambungnya.

Romo Satya juga mengingatkan agar umat selalu mendoakan agar bangsa ini damai dan tenteram. Masyarakat dapat hidup rukun, bertoleransi yang baik. Dengan begitu, harapannya semoga semua dapat terelakkan dari marabahaya.

“Kita berdoa, doakan pemimpin kita agar amanah untuk rakyatnya,” tutup Romo Satya sembari menambahkan, Penyawangan Pura Medang Kemulan juga bisa dibangun di kabupaten dan kota lainnya.

Sementara itu, Ketua PHDI Kecamatan Kuta I Nyoman Sarjana, sebagai penggagas pertemuan, mengisahkan awal mula bertemu Romo Satya. “Semua berjalan alamiah, kami bertemu, pembicaraan nyambung, untuk persatuan nusantara. Ini ketiga kali ketemu, saya ingin tangkil ke Pura Medang Kemulan,” tegas Sarjana.

Dari pertemuan dengan Romo Satya, kemudian lahir gagasan peletakan batu pertama Penyawangan Medang Kemulan yang berdiri di atas tanah seluas 30 are. “Seperti dijelaskan Romo Satya, ini adalah pemersatu umat di nusantara, karena semua datang, untuk mendoakan leluhurnya, tempat leluhurnya,” imbuh tokoh Kuta ini. Sarjana mengatakan setelah peletakan batu pertama, pembangunan pelinggih segera dilakukan.

Pewarta : Hidayat
Editor : Whraspati Radha

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.