“Pasar Rugi” Diabadikan Seniman Bakti Wiyasa Lewat Sketsa, Inspirasi Ketulusan dari Diatmika-Koreati Patut Diteladani

Metro Bali
single-image

Foto: Ketulusan pasutri I Gusti Ngurah Agung Diatmika dan Dewi Eka Koreati menggelar “Pasar Rugi” diabadikan lewat sketsa.

Badung (Metrobali.com)-

Tidak perlu menunggu kaya untuk berbuat baik. Tidak perlu jadi pejabat untuk ngayah dan melayani masyarakat.

Dua prinsip ini tampaknya dipegang teguh pasangan suami istri (pasutri) I Gusti Ngurah Agung Diatmika dan Dewi Eka Koreati untuk terus menginspirasi dengan karya nyata dan ketulusan dalam membantu meringankan beban masyarakat Badung di masa pandemi Covid-19 ini.

Wujud nyata ketulusan Diatmika-Koreati hadir dalam bentuk“Pasar Rugi” sesi kedua yang kembali digelar di Banjar Kaja, Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Sabtu (12/9/2020) yang lagi-lagi disambut sangat antusias oleh warga.

“Pasar Rugi” ini tak hanya menarik perhatian para ibu rumah tangga, kegiatan sosial dalam rangka mendukung gerakan gotong royong di masa pandemi Covid-19 itu juga memanggil gairah seni perupa lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, I Made Bakti Wiyasa.

Seniman lukis asal Banjar Pemanis, Desa Biaung, Kecamatan Penebel, Tabanan itu mengaku ada panggilan estetika istimewa di balik penyelenggaraan “Pasar Rugi”.

“Karena keterpanggilan ingin mengabadikan kegiatan pasar rugi ini saya datang. Ini kegiatan yang perlu diapresiasi di masa pandemi. Punya nafas berbeda dan suasana yang berbeda. Diadakan juga di alam terbuka yang asri di tengah perkotaan,” ucapnya.

Pria yang mengelola Bakti Wiyasa Art Studio itu juga menilai masyarakat sangat menikmati kehadiran pasar rugi. Suasana itulah yang merangsangnya untuk berkarya; menghasilkan karya seni.

“Karya seni berperan mengabadikan sebuah peristiwa. Saya kira perjalanan ini akan menarik. Karena ini awalan yang menarik, makanya saya abadikan,” ungkap seniman berkaca mata itu.

Bakti Wiyasa mengaku tertarik dan tergelitik dengan istilah “Pasar Rugi”. Bagi seorang perupa, dirinya menyebut ungkapan “pasar rugi” sebuah estetika yang seksi untuk diangkat. Upaya merekam peristiwa itu lewat seni lukis pun akhirnya diwujudkan.

Baca Juga :
15 Tahun Kerja di Kapal Pesiar Sia Sia, Istri Minggat dari Rumah Tanpa Pesan

“Sketsa ini saya pikir akan memiliki nilai tersendiri 3 sampai 5 tahun ke depan. Seandainya saya tadi tidak hadir mungkin ada rasa penyesalan. Hadir dalam momen ini merupakan kebanggaan kita,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, “Pasar Rugi” hadir dengan misi yang sama dengan Lembaga Perkreditan Desa (LPD), Desa Adat, dan Banjar Adat di masa pandemi, yakni memberikan keringanan berupa punia atau pemberian tulus iklas kepada masyarakat.

Mendapat respons positif saat digelar pertamakali serangkain hari Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, Minggu (6/9/2020) lalu, kegiatan serupa kembali digelar, Sabtu (12/9/2020).

Mekanisme protokol Covid-19 yang diatur Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 Provinsi Bali menjadi syarat mutlak memasuki areal “Pasar Rugi Diatmika-Dewi Koreati”. Di antaranya pengecekan suhu tubuh, pemakain masker medis, cuci tangan, dan sosial distancing.

“Kami juga menyediakan tim dokter. Masyarakat yang datang akan kami berikan masker pengganti yang sesuai dengan standar medis,” tegas Diatmika. (dan)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.