“Pasar Rugi” di Dalung Ludes Diserbu Warga, Diatmika-Koreati Senang Dapat Kepuasan Batin Bantu Sesama

Metro Bali
single-image

Foto: Warga berfoto bersama usai menyerbu ludes “Pasar Rugi.”

Badung (Metrobali.com)-

Pelaksanaan sesi kedua “Pasar Rugi” di Banjar Kaja, Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung yang digelar Sabtu (12/9/2020) kembali disambut antusias warga.

Ludes!!! Pemandangan inilah yang tersaji pada “Pasar Rugi” yang diprakarsai pasangan suami istri (pasutri) I Gusti Ngurah Agung Diatmika dan Dewi Eka Koreati ini.

Saking antusiasnya masyarakat, terpaksa pasar dibuka sejam lebih awal dari rencana awal pukul 07.00, Sabtu (12/9/2020).

Puluhan ikat ceper, janur, aneka ragam buah, jajanan upacara menyambut perayaan Hari Suci Galungan habis seketika. Membludaknya warga bahkan memaksa panitia mengatur alur keluar masuk ke lokasi pasar agar sosial distancing sesuai protokol kesehatan Covid-19 terwujud.

Tak sedikit warga yang harus iklas tak kebagian barang yang diidamkan karena datang lebih siang. Menariknya, seluruhnya tak kecewa. Mereka tampak tersenyum sembari membeli dagangan lain yang dijual di bawah harga pasar.

“Saya tidak kebagian ceper (bahan dasar canang dari rangkaian janur), slepan (janur tua), pir besar, apel besar, mangga besar. Jus kemasan yang disukai anak saya dan sempat kami beli di pasar ini minggu lalu juga habis,” ucap Putu Ayu Mustiari, salah satu warga Desa Dalung.

Ia mengaku sangat terbantu dengan kehadiran “Pasar Rugi” yang diprakarsai pasutri Diatmika dan Dewi Koreati yang dikenal sebagai sosok dermawan dan tulus membantu warga.

“Saya dapat busung, apel kecil, jeruk kecil, dodol, sayur, dan belanjaan lain. Memang lebih murah dari harga pasar. Saya bayar di kasir Rp 100 ribu sudah banyak bisa belanja,” tutur Mustiari.

Konsep “Pasar Rugi” dibuat sebagai respons atas terpuruknya kondisi perekonomian masyarakat di masa pandemi Covid-19.

Baca Juga :
Denpasar Beri Penghargaan Kerti Budaya Kepada Budayawan

Diatmika mengaku dirinya terpanggil melakukan hal kecil menyikapi fakta bahwa per Agustus 2020, 73.631 orang dirumahkan dan 2.667 orang di-PHK di Bali.

Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, dirinya mengungkapkan dari segi pendapatan, Bali ditaksir kehilangan Rp 9,7 triliun setiap bulannya.

Tekanan berat bagi pariwisata Bali juga tercermin dari kedatangan wisatawan mancanegara ke Bali pada Juni 2020. Berdasarkan data BPS Bali kunjungan wisatawan hanya tercatat 32 kunjungan atau turun 99,99 persen dibandingkan dengan kedatangan pada Juni 2019 sebanyak 549.516 kunjungan.

“Gotong royong menjadi kekuatan masyarakat Bali di masa pandemi Covid-19. Kami ingin ngaturang punia lewat pasar rugi ini. Tapi mohon maaf, tidak bisa sering-sering kami gelar. Nanti banyak warung di sekitar lingkungan kami yang protes karena harga jual di sini jauh lebih murah,” ujar notaris senior itu sembari tersenyum.

Selain “Pasar Rugi” ke depan Dewi Eka Koreati berkomitmen menggelar kegiatan sosial pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di bidang UMKM.

“Kami sangat terharu. Pagi-pagi belum buka masyarakat sudah antre. Sangat antusias. Hanya berbekal Rp 100 ribu di sini bisa belanja banyak. Beli sayur, buah, dapat juga kebutuhan lainnya. Beras, minyak goreng juga ada. Kopi yang kami dapat langsung dari petani tersedia. Sudah ludes jam segini (pukul 09.00 pagi, red). Habis semuanya,” ungkap Dewi Koreati.

Ia mengaku senang, bahagia, terharu karena bisa menyelenggarakan pasar murah atau pasar rugi ini. “Kami tidak rugi sama sekali karena ada kepuasan batin untuk membantu masyarakat,” tandas ibu dua anak itu. (dan)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.