Pariwisata, Melalui Jaringan Hindu Dunia

Metro Bali
single-image

 

Oleh  I Gede Sutarya

Prambanan, diusulkan menjadi tempat ibadah umat Hindu sedunia. Usulan ini relevan mengingat pertumbuhan ekonomi umat Hindu di seluruh dunia. Penelitian kependudukan dunia tahun 2015 mencatat, umat Hindu di seluruh dunia berjumlah 1,1 Milyar (15,1% dari penduduk dunia). Jika 10 persen dari umat Hindu ini adalah golongan kelas menengah ke atas maka itu berjumlah 110 Juta jiwa. Pasar ini merupakan pasar yang cukup besar dalam industri pariwisata. Angka ini belum ditambah dengan para pengikut yoga dan sekte-sekte Hindu yang tidak berafiliasi ke Hindu, tetapi memiliki kepercayaan yang sama dengan Hindu.

Sebagai pusat ibadah umat Hindu dunia maka Prambanan harus dipersiapkan sebagai destinasi wisata pilgrimage. Pilgrimage adalah ziarah atau perjalanan suci dengan tujuan keagamaan, yang disebut Tirtayatra dalam Hindu. Tirtayatra merupakan ajaran umat Hindu di seluruh dunia. Itihasa Ramayana dan Mahabharata menyebutkan tempat-tempat tirtayatra yang terkenal, salah satunya adalah Kuruksetra yang memiliki telaga untuk melakukan penyucian diri.

Berdasarkan ajaran Hindu, tempat-tempat tirtayatra biasanya berhubungan dengan sejarah perjalanan orang suci Hindu, mata air suci untuk pembersihan diri, tempat suci untuk dewa-dewa Hindu, tempat kemunculan Tuhan atau dewa-dewa di dunia, dan pemaknaan masyarakat lokal. Tempat-tempat tirtayatra tersebut biasanya telah ditulis dalam teks-teks Itihasa dan Purana. Tempat-tempat tersebut kebanyakan berada di India dan Pakistan, karena berkaitan dengan sejarah kelahiran agama Hindu, tetapi sejarah persebaran agama Hindu juga sering menjadi tujuan-tujuan tirtayatra.

Tirtayatra di Indonesia

Teks-teks kuno di Indonesia (Bali dan Jawa) menyimpan cerita-cerita perjalanan rsi-rsi Hindu kuno ke Nusantara. Rsi-rsi yang terkenal adalah Rsi Agastya dan Rsi Markendya. Dalam tradisi guru-guru suci pada zaman Hindu kuno, apabila orang-orang suci melakukan perjalanan (yatra) maka rsi-rsi tak akan pernah Kembali ke tempat kelahirannya. Mereka sudah berpamitan mati kepada murid-murid dan keluarganya. Karena itu, rsi-rsi tersebut sudah dapat dipastikan mengalami moksha di Indonesia.

Baca Juga :
Polres Bangkalan Tangkap Tenaga Honorer Terlibat Narkoba

Contohnya Rsi Agastya yang diarcakan sebagai Bhatara Guru pada Candi Badut di Malang, Jawa Timur. Candi Badut ini adalah tempat moksha Rsi Agastya yang bersamaan dengan munculnya bintang Agastya. Contoh lainnya adalah Rsi Markendya yang melakukan perjalanan dari Aceh, Srivijaya, Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali. Rsi ini berdasarkan cerita rakyat di Bali mengalami moksha di Besakih.

Ada cerita rsi-rsi lainnya yang diberikan nama Mpu Bharadah berdasarkan lidah orang Bali, yang bisa disamakan dengan Bharadvaja dalam teks aslinya di India. Rsi Bharadvaja ini dipercaya moksha di Besakih, sehingga dibuatkan tempat suci sebagai Ida Bhatara Pu(Mpu)jungsari, yang artinya orang suci yang datang dengan perahu bermotif bunga. Rsi ini juga disebut Ratu Siem pada Pura Pamrajan Kanginan di Besakih, karena rsi ini datang setelah melakukan perjalanan di Siam (Kamboja, Thailand, atau Malaysia kuno?).

Rsi Markendya, Rsi Agastya dan Bharadvaja adalah rsi-rsi pada zaman Hindu kuno yang disebutkan dalam Itihasa Ramayana dan Mahabharata. Berdasarkan pendapat para ahli, Ramayana dan Mahabharata paling baru ditulis pada sekitar abad 400-200 SM. Rentang-rentang waktu itu adalah awal terbangunnya hubungan laut antara India dengan Indonesia. Karena itu, perjalanan rsi-rsi ini mendekati fakta sejarah, walaupun perlu pembuktian yang lebih mendalam lagi.Tempat-tempat yang disinggahi rsi-rsi ini dalam menyebarkan dharma ke Indonesia, bisa menjadi destinasi wisata pilgrimage umat Hindu dunia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sejarah orang suci yang berhubungan penyebaran Hindu ke Indonesia.

Aspek lainnya adalah mata air suci yang disebutkan dalam teks-teks Hindu kuno. Rsi Agastya telah membangun mata air suci di Jawa Tengah. Mata air suci itu adalah mata air Bima Lukar di Dieng. Mata air ini adalah hulu dari Sungai Serayu di Jawa Tengah. Sungai Serayu adalah salah satu sungai suci dalam Hindu, yang disebutkan mengalir menuju kota Ayodya, tempat kelahiran Shri Rama. Sungai Serayu di Jawa Tengah juga mengalir menuju Yogyakarta (Ayodyakuta), di mana Romo Mataram bertahta. Mata air ini bisa diperkenalkan sebagai tempat untuk melakukan penyucian diri.

Baca Juga :
Gung Widiada dan Nelayan Serangan Deklarasikan Dukungan ke Mantra-Kerta

Aspek tempat-tempat suci untuk pemujaan para dewa, sudah sangat jelas tampak pada Candi Prambanan yang memiliki ratusan candi. Ratusan candi ini sudah tentu merupakan kompleks pemujaan dewa-dewa Hindu, dengan Dewa Tri Murti sebagai dewa utama.

Aspek lainnya adalah cerita-cerita tentang kemunculan dewa-dewa di dunia, di mana cerita-cerita ini biasanya merujuk tempat-tempat di India. Tetapi kalau merujuk kepada Sungai Serayu di Jawa Tengah maka dapat disebutkan bahwa Jawa Tengah adalah tempat lahirnya Shri Rama, yang banyak dipuja umat Hindu sebagai turunan Dewa Wisnu atau Wisnu yang berwujud manusia. Apalagi raja-raja Jawa sampai saat ini masih dipanggil Romo, yang dalam Bahasa lokal berarti ayah. Hal ini menunjukkan hubungan antara raja-raja Jawa dengan Dinasti Surya yang dibangun Shri Rama. Dinasti Surya ini menurunkan dinasti-dinasti utama raja-raja warma yang berkuasa di Srivijaya, Jawa dan Bali.

Kerajaan yang dibangun di Jawa Tengah juga bernama Mataram. Mata itu Bahasa Sanskerta yang berarti ibu, sedangkan Rama artinya Tuhan yang suci. Karena itu, Mataram artinya adalah tanah air pusaka yang suci. Cerita ini bisa dikaitkan dengan kehadiran dewa-dewa di dunia, di mana Shri Rama lahir di pulau Jawa. Dalam perdebatan di India, tempat kelahiran Shri Rama masih merupakan misteri. Nepal juga mengklaim sebagai tempat kelahiran Shri Rama. Indonesia bisa menambah deretan negara-negara yang mengklaim sebagai tempat kelahiran Shri Rama.

Aspek lainnya yang tak kalah penting adalah pemaknaan masyarakat lokal. Cerita-cerita sejarah rsi, dewa-dewa, pemujaan, dan mata air suci akan hidup bila masyarakat lokal memberikan makna terhadap cerita tersebut. Masyarakat lokal, pemberi makna ini adalah umat Hindu di sekitar candi, yang seharusnya sering melakukan kegiatan keagamaan di tempat itu. Misalnya melakukan upacara mendak tirta setiap tiga hari sekali, atau ritual lainnya. Hal ini bisa dilakukan apabila pemerintah memiliki komitmen yang kuat untuk menjadikan Prambanan sebagai tempat ibadah Hindu dunia.

Baca Juga :
Ekspor Kerangka Binatang Langka, Warga Belanda Dituntut 3 Tahun Penjara

Kelengkapan Destinasi

Setelah terpenuhi aspek-aspek ini maka pemerintah perlu mempersiapkan fasilitas pariwisata (hotel, restoran), akses, dan kreativitas masyarakat untuk menggarap potensi ini. Orang-orang Bali adalah orang-orang yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia pariwisata. Kreativitas mereka bisa diandalkan untuk membangun paket-paket tour pilgrimage (tirtayatra) ke Indonesia. Pengalaman ini bisa ditransfer ke masyarakat Jawa dan sekitarnya, sehingga bisa membangun paket-paket ini secara mandiri.

Prambanan adalah destinasi wisata yang sudah memiliki kelengkapan tersebut. Kelengkapan ini perlu ditambah dengan kunjungan ke komunitas umat Hindu lokal di sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta. Misalnya melakukan kunjungan ke Klaten dan desa-desa Hindu di Gunung Kidul. Kunjungan ini menambah wawasan umat Hindu dunia tentang perkembangan Hindu di Indonesia. Umat Hindu dunia juga akan diperkenalkan berbagai corak Hindu di Nusantara, yang memiliki keunikan dibandingkan dengan umat Hindu di tempat lainnya. Keunikan ini berupa tradisi keagamaan yang bisa dilihat langsung kepada masyarakat aslinya.

Perkembangan jauh dalam pariwisata agama adalah belajar kepada komunitas lokal. Hal ini perlu dipersiapkan dengan menyiapkan pasraman-pasraman pada komunitas local Hindu di Jawa. Pasraman-pasraman ini bisa digunakan untuk belajar Hindu etnis Jawa. Misalnya belajar menabuh, menyanyikan kidung lokal, dan olah kebatinan lokal. Wisatawan yang memiliki ketertarikan untuk belajar ini biasanya memiliki waktu tinggal yang lebih lama, sehingga bisa berkontribusi kepada ekonomi lokal.

(Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag adalah dosen UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar)

Bagikan :
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Leave a Comment

Your email address will not be published.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});