Pariwisata Bali Lumpuh, Musisi Kafe Ini Menolak “Punah”, Apresiasi Kepedulian Srikandi PSI Emiliana Sri Wahjuni

Metro Bali
single-image

Foto: Anggota Komisi IV DPRD Kota Denpasar Emiliana Sri Wahjuni (tengah) bersama para musisi kafe yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19.

Denpasar (Metrobali.com)-

Pariwisata Bali yang terpuruk akibat dampak pandemi Covid-19 membuat orang-orang yang menggantungkan hidup dari geliat pariwisata kehilangan mata pencaharian. Para seniman musik atau pemusik yang biasa bermain musik di kafe-kafe, hotel turut merasakan “pahit getirnya” kondisi “nolnya” pariwisata Bali.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Denpasar Emiliana Sri Wahjuni mengaku prihatin dengan dampak pandemi Covid-19 di kalangan pekerja pariwisata dan musisi khususnya juga musisi kafe yang kerap tampil di sejumlah kawasan pariwisata di Denpasar. Para musisi kafe ini tidak punya penghasilan sama sekali karena pariwisata sepi bahkan hampir nol.

“Kafe banyak tutup, tidak ada wisatawan jadi para pemusik ini tidak ada mata pencaharian lagi,” kata Emiliana Sri Wahjuni saat menerima aspirasi dan keluhan para musisi kafe, pemusik jalan, musisi gereja di Rumah Kreatif Emiliana Sri Wahjuni di Perum Kerta Dalem Mansion B17, Sidakarya, Denpasar, Sabtu (23/1/2021).

Acara ini pun dikemas secara kreatif dan fun dengan konsep podcast dan diiringi alunan musik yang dimainkan para musisi yang hadir. Mereka pun bernyanyi bersama Emiliana Sri Wahjuni seraya menebar keceriaan dan semangat bahwa mereka tidak mau menyerah dengan keadaan pandemi Covid-19.

Bagi Emiliana Sri Wahjuni para musisi khususnya yang bergantung juga di sektor pariwisata seperti musisi kafe memang menghadapi kondisi yang sangat berat di tengah pandemi Covid-19.

Kondisi itu diperparah dengan fakta banyak diantara mereka tidak tersentuh bantuan pemerintah. Terlebih ketika sempat ada aturan bahwa penerima bantuan wajib menunjukkan surat PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) sementara para musisi kafe ini bukan merupakan karyawan kafe. Jadi banyak diantara mereka yang tidak mendapatkan bantuan.

Baca Juga :
Presiden ingin timnas "mati-matian", siapkan bonus Rp12 miliar

“Masa pandemi banyak pemusik bingung. Karyawan yang di-PHK agar dapat bantuan harus ada surat keterangan PHK, kalau pemusik dimana dapat surat itu. Jadi saya ajak mereka diskusi di rumah kreatif agar jangan sampai putus harapan agar mereka jadi musisi tangguh,” kata srikandi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini.

Nasib “pahit” para musisi kafe ini juga masih berlanjut ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Bali yang sebelumnya berlangsung 11-24 Januari 2021. Mereka pun harus menerima fakta PPKM diperpanjang lagi dari 26 Januari hingga 8 Februari 2021.

“Tamu sudah sepi sekarang kafe harus tutup jam 7, jam 8. Bagaimana para musisi kafe ini menyambung hidupnya. Kami harapkan pemerintah memberikan perhatian serius,” harap Emiliana Sri Wahjuni yang juga Sekretaris Fraksi NasDem-PSI DPRD Kota Denpasar ini.

Para musisi kafe yang hadir di Rumah Kreatif Emiliana Sri Wahjuni ini satu persatu menyampaikan keluhan dan aspirasinya serta menyampaikan apresiasi atas perhatian Emiliana Sri Wahjuni.

“Sebelumnya kami ada kontrak dengan hotel, restoran dan kafe. Tapi sejak pandemi ludes dan ambyar tidak ada panggilan main musik. Musisi kafe juga tidak ada jaminan sosial,” kata Andreas Bambang Meidianto yang akrab disapa Bambang.

Di tengah pandemi Covid-19 para musisi ini tidak mau hopeless. Mereka juga menolak”punah” karena pandemi. “Kami jaga secercah harapan, masih ada hari esok. Kami tidak mau berhenti berkarya,” kata Bambang yang kini juga mulai membuka kelas kursus musik secara online.

Musisi kafe lainnya Konstantinus Mali yang akrab disapa Kun juga mengatakan bahwa PPKM yang diberlakukan saat ini sangat berdampak juga bagi para musisi. “PPKM ganggu kreativitas dan penghasilan kami. Harapannya jangan sampai ada lagi PPKM, PSBB atau apapun sejenisnya. Ini sangat menyulitkan, mau cari uang di jalan terbatasi, mau nyanyi di kafe tidak ada orang,” kata Kun.

Baca Juga :
Guru Aniaya Murid : Kasusnya Dilanjutkan

Musisi asal Sumba, NTT (Nusa Tenggara Timur) ini sebelumnya bernyanyi di kafe namun karena kafe sepi akibat pandemi lalu dia berusaha bertahan hidup demi keluarga dengan mencari uang melalui ngamen di jalan.

Pada saat dirinya sedang ngamen di jalan Teuku Umar Denpasar saat itu dia bertemu dengan Emiliana Sri Wahjuni yang menghampirinya dan memberikan bantuan sembako serta masker. “Terima kasih Ibu Emil sudah memperhatikan kami,” kata musisi berambut gondrong ini.

Dalam kesempatan ini Emiliana Sri Wahjuni juga mengundang Mama Rina dari Alex and Mom Kitchen yang menampilkan demo masak makanan khas Maluku yakni papeda bumbu kuah kuning. (wid)

Bagikan :
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Leave a Comment

Your email address will not be published.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});