Pandemi Covid-19, Pendekatan Manajemen Krisis

Metro Bali
single-image

Ilustrasi

Oleh : I Gde Sudibya

Pandemi Covid-19 telah merambah luas ke seluruh dunia termasuk Bali. Berdasarkan data Radar Bali (19/4), update Covid-19 Bali Sabtu (18/4) : PDP:92, Positif :131, Sembuh:36, Negatif:141, Meninggal: 3. Data yang terus menaik dari waktu ke waktu.

Dampak ekonomi dari pandemi ini sangat luar biasa terhadap ekonomi Bali, karena perekonomiannnya sangat tergantung kepada industri pariwisata dari sisi: penciptaan pendapatan, kesempatan kerja dan penerimaan pendapatan daerah. Pandemi ini, paling tidak memberikan 3 tekanan (pressure) terhadap Krama Bali; pertama, resiko kesehatan dan bahkan keselamatan diri. Kedua, tekanan ekonomi: hilangnya : pekerjaan, pendapatan, dan harapan akan masa depan ( paling tidak untuk sementara). Ketiga, tekanan psikologis sebagai akibat tekanan pada butir (1) dan (2) di atas. Ada ungkapan kearifan kehidupan yang mengajarkan: kejadian atau peristiwa luar biasa ( extra ordinary events ), harus diselesaikan dengan cara-cara luar biasa, tidak bisa dengan cara / pendekatan rutin normal ( business as usual ). Kearifan ini secara implisit menjadi rujukan inti ( core ) dalam manajemen krisis.
Dalam konteks Bali , manajemen krisis untuk menanggulangi pandemi dan paling tidak mempunyai tujuan / target ganda : meminimalkan korban dan mempercepat proses pemulihan kesehatan, serta mempercepat upaya pemulihan ekonomi –economic rebound- .
Manajemen krisis paling tidak mencakup beberapa isu : pertama, pemetaan wilayah dengan risiko tinggi penyebaran: banjar, desa, kecamatan, kabupaten, dengan action plan: pengambilan uji petik untuk rapid test dan bahkan dengan PCL, dan berdasarkan data akurat dilakukan: minimal lockdown ( karantina terbatas ), tingkat Banjar / Desa, sesuai dengan tuntutan situasi,diikuti segera dengan tracing (penelusuran) cepat dan terkoordinasi. Kedua, merujuk tesis, ekonom pemenang hadiah Nobel tahun 1998, Amartya Sen dari Santiniketan India, dari hasil risetnya tentang : kelaparan, kekurangan pangan, kemiskinan di Negara bagian Kerala India dan Negara Tiongkok, yang berupa : transparansi kebijakan publik yang merupakan hasil dari proses demokrasi, ternyata negara bagian Kerala, India, tidak mengalami kelaparan,sedangkan Tiongkok mengalaminya ,(riset akhir tahun 70’an ), walaupun tingkat produksi dan stock pangan lebih tinggi di Tiongkok. Dengan menggukan tesis ini dalam konteks penanggulangan pandemi Covid-19, transparansi dalam kebijakan publik, keterbukaan akan kritik dari masyarakat sipil, dan tanggung jawab sosial transparan dari negara, menjadi sangat penting untuk efektivitas penanggulangannya . Ketiga, kedatangan massif Krama Bali, PMI, dilakukan dalam koridor protokol pencegahan yang berlaku, tanpa kehilangan empati kepada mereka. Kesan stigma negatif yang kemungkinan muncul, semestinya diminimalkan. Keempat, sistem penunjang kesehatan yang secara cepat diperbaiki : ketersediaan obat dan peralatan, keamanan dan keselamatan petugas medis, dukungan moral yang kuat dalam bentuk : apresiasi dan respek. Kelima, dukungan logistik sesuai dengan kebijakan jaring pengaman sosial, karena effektivitas karantina terbatas akan meminimalkan penyebaran. Keenam, bertumbuhnya kesadaran birokrasi yang menjadi garda terdepan penanggulangan pandemi, menjadi organisasi organik dengan cirinya : cepat memutuskan, responsif terhadap tekanan, kemampuan cepat belajar secara individu dan kelompok untuk merespons krisis, yang diperkirakan oleh beberapa akhli akan mencapai puncaknya bulan Mei ini.

Baca Juga :
Kim Kardashian pergi ke Gedung Putih

____________________________________________
I Gde Sudibya, berpengalaman sebagai konsultan ekonomi dan menajemen, termasuk manajemen krisis lebih dari 25 tahun pada berbagai industri di Jakarta dan Denpasar.
Sekarang tinggal di Banjar Pasek, Desa Tajun, Den Bukit, Bali Utara.

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.