Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Mudarta Ajak Caleg Gagal Mulat Sarira, Hidup Tak Berakhir Saat Coblosan

Metro Bali
single-image

Foto: Tokoh masyarakat Bali yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Bali I Made Mudarta.

Denpasar (Metrobali.com)-

Dalam beberapa jam ke depan, merupakan detik-detik yang sangat menegangkan bagi ribuan caleg di Bali yang bertarung dalam Pileg (Pemilu Legislatif) 17 April 2019.

Beberapa jam setelah rekapitulasi penghitungan suara di TPS selesai dan walau belum ada hasil resmi KPU (Komisi Pemilihan Umum) setempat, mereka juga sudah bisa  tahu gambaran awal posisi perolehan suara masing-masing.

Termasuk potensi lolos atau tidaknya sebagai wakil rakyat sesuai tingkatan baik untuk DPRD Kabupaten/Kota se-Bali, DPRD Provinsi Bali, DPR RI, termasuk juga bagi calon anggota DPD RI.

Pada masa tenang ini, hingga hari pencoblosan kemudian saat menunggu hasil resmi dari KPU setempat merupakan masa-masa yang krusial dan kritis bagi para caleg.

Untuk itulah tokoh masyarakat Bali yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Bali I Made Mudarta meminta para caleg untuk mulat sarira (introspeksi diri) pada masa tenang ini. Terlebih juga bagi para caleg yang nantinya gagal meraih impian sebagai wakil rakyat terpilih.

“Mari mulat sarita, pasrah pada Tuhan, banyak meditasi, sembahyang, kembali pada posisi nol,” ajak Mudarta ditemui di Denpasar, Selasa (16/4/2019).

Ia pun memberikan siraman rohani kepada para caleg agar tidak stress menghadapi hasil buruk perolehan suara nantinya. Yakni dengan perbanyak membaca kitab suci masing-masing. Misalnya bagi yang beragama Hindu pelajari ayat suci di Weda seperti Nitisastra, Bhagawad-gita. “Ini penting agar dapat energi positif dan terhindar dari energi negatif,” kata Mudarta.

Ia juga meminta semua caleg dari seluruh partai politik yang ada di Bali untuk dengan lapang dada menerima apapun pilihan rakyat. Sebab tentu lebih banyak caleg yang akan tidak terpilih dengan jumlah kursi wakil rakyat yang terbatas dibandingkan jumlah caleg dan partai politik yang sedemikian banyaknya.

Baca Juga :
Operasi Pekat, 31 Orang Ditetapkan Sebagai Tersangka

“Harus terima  hasil dengan lapang dada. Anggap apapun hasilnya sebagai bagian suratan takdir,” kata politisi Demokrat asal Jembrana yang dikenal bersahaja dan low profile ini.

Ia pun mengingatkan bagi caleg yang belum terpilih masih ada kesempatan lima tahun lagi untuk kembali ke pesta demokrasi. Yakinlah bahwa terpilih sebagai anggota legislatif itu tidak hanya dari suara rakyat tapi blessing (berkah) Tuhan.

“Kalau garis tangan belum jatuh tempo, tidak perlu stres. Energi, uang yang telah keluar tentunya akan dicatat alam semesta. Energi itu akan kembali dalam bentuk lain. Hidup juga tidak berakhir besok (saat pencoblosan 17 April 2019-red) tapi akan berlanjut terus,” katanya mengingatkan.

Mudarta juga mengingatkan bagi yang terpilih juga harus tetap menghargai caleg yang belum berhasil. Sebab jarang ada caleg yang lolos dengan hasil suara sendiri. Kebanyakan juga dari dukungan suara caleg lainnya dan parpol.

“Yang terpilih hormati yang gagal karena dapat dukungan juga dari yang tidak terpilih. Jangan jaga jarak dengan yang tidak terpilih. Tapi rangkul dan saling menghargai,” pesan Mudarta.

Uang Masih Jadi “Dewa Suara”

Di sisi lain Mudarta menilai praktik money politics (politik uang) masih jadi tantangan serius dalam pesta demokrasi Pemilu Serentak 17 April 2019 yang baru pertama kali digelar ini. Warga yang toleran dengan politik uang saat ini cukup tinggi. Uang sepertinya jadi ‘dewa’ suara.

“Sebagian warga mindset-nya telah dimasuki politik uang ini. Dia (calon) datang mau kasih apa dan berapa, itu kerap yang muncul,” kata Mudarta

Menurutnya kondisi yang terjadi tidak terlepas dari sikap politisi itu sendiri yang mau cari gampang dengan cara memberi sesuatu kepada calon konstituen yang disasar.

Baca Juga :
Polisi Gilimanuk Temukan Ular di Dalam Bus 

“Akibatnya warga jadi ketergantungan, apa yang akan diberikan calon atau apa kebutuhan warga bisa dipenuhi. Sehingga kemudian terjadi semacam ‘jual beli’ suara. Warga tak lagi independen,” ujarnya.

Mereka digiring, dianggap seperti bebek dan sudah tak merdeka lagi menentukan hak suara sesuai nuraninya. “Yaa karena sudah ‘digadai’,” tambah Mudarta. Meski demikian, politisi asal Jembrana ini mengakui kondisi ini takkan berlangsung lama.

Seiring dengan makin tingginya kesadaran warga akan berdemokrasi, maka politik uang akan ditinggalkan. Apalagi ancaman hukuman bagi pelaku maupun penerimanya cukup berat.

Laporkan Indikasi Politik Uang

Maka ia kembali mengingatkan agar jangan sampai ketika para caleg sudah all out kampanye, menghabiskan energi hingga uang ratusan juta bahkan miliaran rupiah, ujung-ujungnya kena OTT (Operasi Tangkap Tangan) money politics.

“Money politics dideklarasikan sejak awal kampanye jadi musuh bersama. Sayangnya di beberapa titik masih ada money politics. Ini tidak sehat, racun demokrasi. Kalau gunakan uang, masyarakat akan pragmatis,” kata Mudarta.

Politisi Demokrat yang dikenal dermawan ini pun mengajak seluruh elemen masyarakat agar ikut mengawasi dan melaporkan indikasi praktik politik uang. “Semua ikut awasi. Laporkan yang lakukan gerakan money politics,” kata Mudarta lantas berharap pelaksanaan Pemilu Serentak 2019 ini berjalan aman, damai dan lancar.

“Ini masa tenang. Harusnya para caleg banyak berdoa, berpasrah diri pada Tuhan, perbanyak meditasi. Jangan masa tenang malah buat masyarakat resah dengan gerilya lakukan money politics,”

Ia mengingatkan bahwa praktik money politics atau  politik uang melanggar hukum. Baik  yang memberi dan menerima sama-sama bisa terjadi hukuman pidana.

“Kalaupun terpaksa, terima uangnya tapi jangan dipilih. Masalahnya masyarakat sudah terima uang pasti pilih  oknum caleg yang kasi  uang karena ada ikatan hutang budi,” tandas Mudarta.(wid)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.