Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Maraknya Pembangunan Hotel, Petani Rumput Laut di Kuta Selatan Tersingkir

Metro Bali
single-image

Petani Rumput Laut di Kuta Selatan

Kuta (Metrobali.com)-

Sejumlah pembangunan hotel di wilayah Kuta Selatan, Kabupaten Badung mampu mengangkat Sumber daya manusia terutamanya masyarakat sekitar kawasan wilayah itu untuk membuka lapangan kerja. Sayangnya, kondisi ini membuat sejumlah kelompok petani rumput laut meronta.

Bahkan maraknya, pembangunan wisata di wilayah Pantai Kuta Selatan, membuat para petani rumput laut harus tersingkir. Seperti halnya pembangunan hotel Mulia dikawasan Pantai Geger, Keminge Kuta Selatan,Badung. Kelompok petani yang sebelumnya berjumlah hampir 70 kini hanya tersisa 20.

Sejumlah kelompok petani rumput laut di wilayah Pantai Pandawa, juga merasakan hal yang sama. Sebelumnya, mereka selalu bergembira menikmati hasil panen. Kini kelompok petani di wilayah Pandawa ini juga tergusur dari yang sebelumnya ada 7 kelopok petani rumput laut, kini hanya tinggal satu kelompok tani Artha Segara yang jumlahnya juga minim.

“Silahkan mau dikembangkan jadi apapun, tetapi jangan petani kami digusur. Hanya ini mata pencarian dan mahkota kehidupan kami di pantai selatan ini,” Tegas Nyoman Karma, Ketua Kelompok Tani Rumput Laut Artha Segara di Pantai Pandawa, Kuta Selatan Bali, Kamis (2/10).

Dihubungi terpisah, Bendesa Adat Kutuh, Wayan Wena mengatakan sejarah awal pantai Pandawa di Desa Kutuh, tidak bisa dilepaskan dari profesi nelayan rumput laut. Sebab sebelum pantai Pandawa dikenal karena potensi pariwisata, dulu pandawa terkenal dengan adanya petani rumput laut.

“Rumput laut, harus tetap kami usahakan eksis dan bisa dikelola dan diolah sebagai kebutuhan rumah tangga. Apalagi pemerintah pun mengharapkan untuk jangan dihilangkan rumput laut tersebut,” ungkap Wena.

Sementara itu, Kepala Dinas Perternakan Perikanan dan Kelautan (Kadisnakanlut) Kabupaten Badung, I Made Badra, menepis anggapan bahwa pariwisata telah menggusur paksa para petani pembudidaya rumput laut.

Baca Juga :
Kesenjangan Ekonomi Antarwilayah Dapat Dipecahkan

“Terpenting adalah penataan, tidak ada yang tersingkirkan. Harus sama-sama saling menguntungkan,” jelasnya singkat via telepon. SIA-MB 

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.