Konferensi Internasional untuk Kelapa Sawit dan Lingkungan (ICOPE) 2016 Resmi Ditutup

Metro Bali
single-image

Industri kepala sawit dapat beradaptasi dengan tantangan perubahan iklim; Para pemangku kepentingan didorong untuk bekerjasama mendukung petani sawit swadaya

ICOPE

Bali (Metrobali.com)

Konferensi Internasional untuk Kelapa Sawit dan Lingkungan (ICOPE) 2016 secara resmi ditutup pada hari ini dengan dihadiri oleh lebih dari 400 delegasi dari 18 negara yang membahas isu-isu tentang bagaimana meningkatkan produktifitas kelapa sawit sembari mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, serta bagaimana pengurangan emisi gas rumah kaca dari produksi kelapa sawit dapat berkontribusi pada target Indonesia yang diumumkan pada COP21.

Topik yang dibahas selama konferensi tiga hari ini diantaranya, menjaga produktifitas superior melalui bibit unggul dengan produktifitas tinggi, praktik pertanian yang baik, dan bagaimana industri kelapa sawit mendukung dan melibatkan para petaninya dalam mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Peserta juga membahas bagaimana menghitung jejak karbon serta bagaimana mengurangi emisi dari industri kelapa sawit sesuai skema sertifikasi kelapa sawit lestari seperti ISPO, RSPO, dan ISCC.

Michel Eddi,  President Managing Director CIRAD – Pusat Kerjasama Internasional Perancis dalam Penelitian Pertanian untuk Pembangunan – mengatakan “Terima kasih atas kerjasama penelitian yang bermanfaat antara pemerintah dan swasta. Tantangannya adalah untuk membatasi perluasan perkebunan sawit melalui intensifikasi produksi lestari, peningkatan kemampuan pelaku utama seperti petani sawit, dan promosi strategi pembangunan yang dapat meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati sambil meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Peningkatan ketahanan sektor secara menyeluruh bergantung pada menguatnya prinsip dan kriteria keberlanjutan yang membutuhkan upaya penelitian bersama yang saat ini terus berlangsung”.

Menghentikan deforestasi dan penanaman di atas lahan gambut, menangkap gas metana selama pengelolaan limbah cair pabrik, menghentikan praktik tebang dan bakar oleh petani merupakan beberapa solusi penting yang dibahas selama ICOPE 2016. Mengoptimalkan pengelolaan air di lahan gambut yang telah ditanami dengan didukung tindakan pencegahan dan pengendalian kebakaran dengan keterlibatan masyarakat  dipandang sebagai faktor penting dalam menghadapi ancaman El Nino dan La Nina.

Baca Juga :
Bupati dan Ketua DPRD Mabar Lebih Agresif Buru "Tiket"

Ketua Komite Penyelenggara ICOPE 2016, JP Caliman saat menutup konferensi tahun ini mengatakan bahwa “Teknologi untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim tersedia untuk membantu industri kelapa sawit. Yang lebih penting adalah bagaimana para pemangku kepentingan di sektor ini dapat bekerjasama mendukung para petani sawit swadaya kita dengan pemberian insentif yang sesuai, kerangka peraturan, dan bantuan teknis.”

“Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh delegasi, pejabat pemerintah, ilmuwan, para pemain industri kelapa sawit khususnya petani, para sponsor dan peserta pameran atas kehadirannya dalam konferensi ini dan berbagi pemikiran serta gagasan untuk meningkatkan kinerja industri kelapa sawit. Kami ingin terus menyelenggarakan konferensi seperti ini untuk merumuskan solusi-solusi ilmiah yang dapat ditindaklanjuti dengan rencana aksi yang dapat dilaksanakan oleh semua pemangku kepentingan di sektor kelapa sawit,” lanjut Bapak Caliman.

Konferensi Internasional untuk Kelapa Sawit dan Lingkungan (ICOPE) 2016 merupakan konferensi internasional dua tahunan yang ditujukan sebagai sebuah wadah ilmiah untuk pengembangan kelapa sawit lestari dalam memenuhi tantangan lingkungan.

ICOPE dilaksanakan melalui kerjasama antara PT SMART Tbk, World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, dan CIRAD France. ICOPE berikutnya dijadwalkan pada tahun 2018. RED-MB

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.