Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Ketua Gugus Tugas ingin PKK hingga karang taruna bantu cegah COVID-19

Metro Bali
single-image

Jakarta (Metrobali.com) –

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona (COVID-19) sekaligus Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meminta organisasi di tingkat RT/RW seperti pembina kesejahteraan keluarga (PKK) dan karang taruna harus ikut terlibat untuk mencegah penyebaran COVID-19

“Penjelasan (soal COVID-19) yang terus menerus ini harus sampai di tingkat paling rendah yaitu desa dan kelurahan dan melibatkan setiap potensi, seperti PKK, karang taruna, Posyandu, RT/RW termasuk relawan-relawan yang diorganisir, saatnya kita saling bahu membahu saling kerja sama dan tolong menolong,” kata Doni Monardo di kantor BNPB Jakarta, Selasa.

Doni Monardo menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers melalui “video conference” usai menghadiri rapat terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo dengan tema “Pengarahan Presiden kepada Para Gubernur Menghadapi Pandemi COVID-19.

“Setiap pejabat di daerah harus dapat menerjemahkan tentang ancaman yang semakin serius dari wabah corona ini dan bagaimana kita semua bisa selamat, yang sehat harus tetap sehat, yang terlanjur sakit diupayakan diobati. Presiden menegaskan agar masyarakat tidak panik, saling berbagi pengalaman saling berbagi cerita agar kita bisa selamat dari wabah ini,” ungkap Doni.

Doni juga meminta agar masyarakat semaksimal mungkin menjaga kesehatan dirinya dan tidak menganggap enteng COVID-19.

“Jangan anggap sepele, prosedur pencegahan betul-betul ditaati, jaga jarak, jangan berdekatan, hindari kerumunan. Ketika bepergian pun bila tangan disengaja atau tidak disengaja menyentuh sesuatu, jangan coba-coba memegang mata, hidung dan mulut,” tegas Doni.

Bila ingin memegang mata, hidung dan mulut harus mencuci tangan lebih dulu.

Doni juga menjelaskan sudah ada sejumlah daerah yang menyatakan status siaga darurat dan status tanggap darurat.

Status Siaga Darurat adalah keadaan ketika potensi ancaman bencana sudah mengarah pada terjadinya bencana yang ditandai dengan adanya informasi peningkatan ancaman berdasarkan sistem peringatan dini yang diberlakukan dan pertimbangan dampak yang akan terjadi di masyarakat.

Baca Juga :
Mengurai Benang Kusut Sektor Pertanian Era Jokowi

Sedangkan status Tanggap Darurat adalah keadaan ketika ancaman bencana terjadi dan telah mengganggu kehidupan dan penghidupan sekelompok orang/masyarakat.

Dengan status Tanggap Darurat itu, BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mempunyai kemudahan akses untuk pengerahan sumber daya manusia; pengerahan peralatan; pengerahan logistik; imigrasi, cukai, dan karantina; perizinan; pengadaan barang/jasa; pengelolaan dan pertanggungjawaban uang dan/atau barang; penyelamatan; dan komando untuk memerintahkan sektor/lembaga (pasal 50 UU No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana)

“Sampai saat ini sudah ada 15 provinsi yang mengeluarkan status Siaga Darurat, 41 kabupaten 41, dan 10 kota sedangkan provinsi yang telah menetapkan status Tanggap Darurat sebanyak 4 provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Kepulauan Riau, Yogyakarta, 3 kabupaten dan 2 kota,” tambah Doni.

Sudah ada 28 provinsi yang menentukan organisasi gugus tugas ada 28 dengan ketuanya adalah masing-masing gubernur sedangkan wakilnya adalah Pangdam dan Kapolda sedangkan di tingkat bawahnya ada 74 kabupaten dan 24 kota yang membuat gugus tugas dengan ketua bupati/wali kota dan wakilnya adalah Dandim dan Kapolres.

“Seluruh gubernur juga mendukung keputusan pemerintah yaitu ‘social distancing’ yang oleh presiden diterjemahkan menjadi ‘physical distancing’. Presiden menekankan agar ‘phsiycal distancing’ ini bisa diterjemahkan gubernur dan pejabat daerah agar ada jarak aman dan disiplin melaksanakannya. Menjaga jarak bukan hanya berlaku di tempat umum tapi juga di seluruh rumah tangga dan keluarga karena belum tentu di setiap keluarga semuanya negatif,” tegas Doni.

Hingga Senin (23/3), terdapat 579 kasus positif COVID-19 dengan 500 orang dalam perawatan, 30 orang sembuh dan 49 orang meninggal.

Para pasien tersebut berada di DKI Jakarta (353 orang), Jawa Barat (59 orang), Banten (56 orang), Jawa Timur (41 orang), Jawa Tengah (15 orang), Kalimantan Timur (11 orang), Yogyakarta (5 orang), Kepulauan Riau (5 orang), Bali (6 orang), Sulawesi Tenggara (3 orang), Sumatera Utara (2 orang), Kalimantan Barat (2 orang), Kalimantan Tengah (2 orang), Sulawesi Selatan (2 orang), Papua (2 orang), Riau (1 orang), Jambi (1 orang) Lampung (1 orang), Kalimantan Selatan (1 orang), Sulawesi Utara (1 orang), Maluku (1 orang), Maluku Utara (1 orang).

Baca Juga :
Yan Widjaya Akui Khilaf Sebut Aura Kasih "Pabrik Dusu"

Hingga Selasa (24/3) pagi terkonfirmasi di dunia ada 381.462 orang yang terinfeksi virus corona dengan 16.550 kematian sedangkan sudah ada 102.423 orang yang dinyatakan sembuh. Kasus di China mencapai 81.171 kasus, di Italia 63.927 kasus, di Amerika Serikat 46.116 kasus, di Spanyol 35.136 kasus, di Jerman 29.056 kasus.

Jumlah kematian tertinggi bahkan saat ini terjadi di Italia yaitu sebanyak 6.077 orang, disusul China 3.277 kematian, Spanyol 2.311 orang, Iran sebanyak 1.812 orang dan Prancis 860 orang. Saat ini sudah ada sekitar 189 negara yang mengonfirmasi kasus positif COVID-19 di negaranya. (Antara)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.